
"Dini....! Panggil itu membuat Dini dan Udin berbalik.
"O **** dia lagi." umpat Fini membuat Udin diam sejenak merasa pernah melihat laki-laki itu.
"Mantan mbak yang kemaren kah?" tanya Udin yang di balas anggukan oleh Dini.
"Siap-siap Udin, kita akting di depan pria bresek ini!" geram Dini membuat Faisol mendongak melihat Dini.
"Ok Mbak,"
"Hay....,"sapa Dini semanis mungkin membuat Andra senang.
"Hay baby....Aku lihat di status banyak orang kamu sidang ya dan now banget kita ketemu disini," ucap Andra membuat Dini terkekeh lalu mengangguk.
"Ya....sangat now," jawab Dini santai.
"Em....selamat ya akhirnya kamu selesai juga, kamu mau kado apa biar aku beliin?" tanya Andra membuat Dini memutar mata malas.
"Terimakasih banyak ya, gak usah repot-repot dengan ucapan selamat kamu aja aku udah bahagia banget,"jawab Dini, Andra yang mendengar itu malah kurang puas
"Ayolah Dini....Kamu mau apa? Party kah merayakan hari bahagia ini?" lanjut Andra membujuk Dini.
"Eh gak usah deh, saya mau menghabiskan banyak waktu dengan pacar saya dan juga calon anak saya ini," jawab Dini.membuat Andra mengerutkan keningnya lalu melihat Faisol yang juga tengah melihatnya sekarang.
"Dia duda?" tebak Andra yang di balas anggukan oleh Dini.
"Of cource he is hot dady," jawab Dini dengan semangat membuat Andra diam sejenak.
"Bentar....bentar sejenak kapan selera seorang Dini turun menjadi duda?" tanya Andra membuat Dini tersenyum
"Sejak hubungan kita beakhir,jadi aku berpikir setelah itu laki-laki model-model buaya kayak kamu itu susah untuk setia.
"Sedangkan duda karena udah matang dan banyak pertimbangan pasti gak asal-asalan jika ingin melakukan sesuatu."jawab Dini membuat Udin terheran-heran.
"Apa sih Mbak Dini? Ucapnya dalam hati.
"Dini this in not fair.
"Kenapa? Ini sangat adil Andra, aku udah pernah berpacaran dengan laki-laki kayak kamu sekarang aku ingin mencoba dengan duda gak ada yang salah kan?" lanjut Dini membuat Andra tidak habis pikir.
"Sudahlah berhenti berdrama sekarang ayow kita rayakan sidang skripsimu," ucap Andra lalu menarik Dini membuat Dini kaget begitu juga dengan Udin.
"Hey apa-apaan ini lepasin!" berontak Dini karena ia tidak bisa berbuat banyak, Faisol masih di gendongan
"Gak Dini ayow---
"grep!
"Tiba-tiba Udin menahan tangan Andra lalu mencengkramnya lengan Andra sekuat tenaganya membuat ekspresi Andra langsung berubah.
"Lepasin," ucap Udin dingin tapi tegas, Dini dapat melihat yang Andra langsung melemah begitu Udin mencengkeremnya dengan cepat ia melepaskan tanganya.
"Jangan sesuka hati sama perempuan main paksa-paksa aja, mereka bukan boneka!" tegas Udin tanpa melepaskan cengkramannya sedangkan Andra walaupun tangannya sangat sakit sekarang ia tetap membalas tatapan tajam Udin.
"Udah," lanjut Dini pelan membuat Udin langsung melepaskan tangan Andra.
" Andra memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit sambil menatap tajam Dini.
"Kamu gak bakalan lepas dari aku Dini, aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku lihat saja!" tegas Andra membuat Dini menggeleng
__ADS_1
"Gak akan!sampai kapanpun itu tidak akan terjadi, kamu adalah laki-laki terburuk yang pernah hadir di hidupku, laki-laki kasar dan kejam!" bentak Dini membuat Faisol kaget.
"Hua..."Tiba-tiba anak kecil itu menangis sambil mendongak membuat,Dini tersadar buru-buru ia berjalan menjauh dari Udin dan Andra.
"Aduh sayang....Maafin bunda nak, maaf," ucap Dini sambil menciumi pipi Faisol, ia merasa bersalah membuat Faisol ketakutan.
"Faisol langsung diam lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Dini, sedangkan Dini memilih lebih menjauh takut Faisol kaget lagi.
Bugh!
"Tiba-tiba Udin melayangkan bogeman ke wajah Andra membuat orang sekitarnya langsung menjerit.
"Bilang sekali lagi seperti itu?serendah itukah perempuan dimata kamu brengsek!" tegas Udin membuat Andra tertawa.
"Kamu cinta matikan sampe tidak rela Dini saya bilang bekas sa---
Bygh!
"Lagi-lagi Udin menghajar Andra, Dini melihat itu buru-buru memanggil security untuk melerai keduanya, tidak lama kemudian Andra dan Udin dipisahkan.
"Dini mendekati Udin yang terlihat sangat esmosi bahkan dadanya naik turu menahan amarah.
"Udin...."panggil Dini pelan tapi Udin tidak menghiraukanya ia masih menatap Andra yang sedikit jauh darinya dengan tatapan tajam
"Buru-buru Dini berjalan kedepan Udin lalu satu tangannya memegang pundak Udin membuat Udin langsung sadar lalu ia sedikit menunduk melihat Dini yang sudah berkaca-kaca.
"Kita pulang yuk," bujuk Dini, ia benar- benar takut dengan situasi mereka sekarang, melihat laki-laki baku hantam membuat mental Dini langsung down.
"Udin yang melihat dini sudah berkaca-kaca langsung mengangguk ia menggenggam tangan Dini membawanya keluar dari mall tanpa mempedulikan Andra yang masih di tahan security.
"Mau saya yang bawa mobil?" tanya Dini yang di balas gelengan oleh Udin, ia bahkan belum bisa berbicara karena amarah masih menyelimutinya.
"Kamu yakin?" tanya Dini memastikan yang di balas anggukan oleh Udin.
"Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Udin yang masih berusaha mengatur nafasnya dengan baik sedangkan Dini sesekali melihat Udin.
"Ma...Ma-ma..." ucap Faisol membuat Dini tersenyum lalu mencium pipi Faisol.
"Apa sayang?Rotinya habis?" tanya Dini membuat Faisol menunjuk tangannya yang kosong.
"Dini yang melihat itu malah gemas seketika moodnya kembali bagus, ia mengambil paper bag lalu memberikan roti ke tangan Faisol.
"Makan ya sayang." ucap Dini lembut sambil menhusap kepala Faisol.
"Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah Udin.Udin turun terlebih dahulu lalu ia membukakan pintu untuk Dini.
"Setelah itu mereka masuk kedalam,Dini mendudukan Faisol di atas ranjang lalu memberikan anak kecil itu mainan dan makanan.
Sedangkan Udin langsung masuk ke kamar mandi mengambil wudhu untuk menenangkan hatinya yang benar-benar dikuasai amarah.
"Sembari menunggu Udin, Dini kembali ke mobil untuk mengambil kotak p3k yang selalu ia sediakan.
"Begitu Udin keluar dari kamar mandi ia celingak-celinguk mencari Dini hingga akhirnya ia melihat wanita itu sudah di ambang pintu dengan kotak p3k di tangannya.
"Boleh kita ngobrol?" tanya Dini memastikan Udin sudah aman.
"Huum," dehem Udin lalu ia duduk di sofa yang diikuti oleh Dini.
"Kamu kenapa sampai semarah ini?Andra ngomong apa?" tanya Dini membuat Udin menggeleng.
__ADS_1
"Gak ada." jawabnya membuat Dini menghela nafas panjang.
"Ayolah Udin saya gak àkan marah,bilang saja.Gak mungkin kamu sampai menghajar dia kalau kamu sampai menghajar dia kalau dia gak ngomong apa-apa." lanjut Dini membuat Udin menatap Dini dengan serius.
"Beberapa lama kamu berhubungan dengannya?" tanya Udin membuat Dini sendiri berpikir.
"Gak lama palingan empat bulan dan itu pertama dan terakhir saya pacaran, gak akan mau lagi saya pacaran, jawab Dini membuat Udin semakin penasaran.
"Kenapa dia cowok kasar,saya putus sama dia karena dia jelas-jelas selingkuh, begitu saya kasih tau.
"Reaksi dia waktu itu dia bertindak mati gak mau ngaku sedikitpun, akhirnya saya minta putus dan dia nampar saya." terang Dini membuat Udin kaget
Deg!
"Nampar? Cowok brengsek itu nampar kamu?" tanya Udin tidak habis pikir dengan Andra.
"Hu um."
"Berapa kali?" tanya udin, ntah kenapa emosinya kembali naik mendengar itu.
"Dua kali, sudah Udin itu sudah berlalu gak usah dipermasalahkan lagi, sekarang lihatlah bibir kamu berdarah," ujar Dini mengalikan pembicaraan membuat Udin langsung menghela nafas panjang.
"Jika Andra di hadapannya sekarang pasti ia akan mengajar laki-laki itu tanpa ampun.
"Denger Dini laki-laki yang merasa dirinya laki-laki itu tidak akan mau menyakiti permpuan dengan fisik karena sadar bahwa perempuan itu bukan lawanya.
"Tapi jika laki-laki kasar terhadap perempuan itu bukan laki-laki melaikan pengecut." ujar Udin membuat mata Dini berkaca-kaca,ia menunduk pura-pura membuka kotak p3k.
"Andra ngomong apa sama kamu? Apakah dia mengatakan aku bekasnya?" tanya Dini membuat Udin kaget.
"Kok kamu tau?" tanya Udin,ia bahkan tidak mau ngatakan itu karena ia takut Dini bakal sedih.
"Udah biasa Udin,saya udah kebal dengan itu jadi gak usah terpancing emosi," ucap Dini lalu ia mulai membersihkan darah di bibir Udin.
"Udin yang mendengar itu langsung menahan tangan Dini membuat Dini menoleh.
"Kamu bilang apa?Dibiarkan saja? Laki-laki begitu di biarkan bisa merajalela mulutnya Dini." tanya Udin yang di balas anggukan oleh Dini.
"Gak!Saya gak akan membiarkan itu sama saja menginjak-injak harga diri kamu Dini," ucap Udin dengan tegas membuat air mata Dini kembali menggenang lalu ia tersenyum.
"Terimakasih sudah mau bela saya, tapi cukup ya gak usah begini lagi, Andra memang begitu saya sudah tidak peduli," jawab Dini berusaha menenangkan Udin.
"Tapi saya peduli, saya tidak suka mendengar seorang laki-laki berbicara seperti itu,dia harus diberi pelajaran Dini," jawab Udin tanpa embel-embel mbak.
"Sudahlah,rencana kita jadi gagal gara-gara laki-laki brengsek itu." ucap Dini lalu ia kembali mengobati luka Udin.
"Sedangkan Udin yang melihat itu hanya bisa diam,wajah Dini begitu dekat dengannya membuat Udin tidak karuan.Ia berusaha mengontrol pikiranya agar tidak berpikir kemana-mana, dalam hati ia langsung berzikir supaya tidak khilaf.
"udah, mudah-mudahan besok sudah membaik." ucap Dini lalu menjauhkan dirinya yang di balas anggukan Udin.
"Terimakasih," ucap Udin yang di balas anggukan Udin.
"Ya....Maaf ya jadinya gak beli apa-apa buat Faisol." ucap Dini.
"Gak apa-apa, karena Bu Indri baru membelikannya baju baru," jawab Udin membuat Dini kaget.
"Benarkah?Faisol punya baju baru Nak?" tanya Dini membuat Faisol menoleh lalu kembali bermain.
"Besok sidang saya sama Maysaroh"jawab Udin membuat Dini sadar lalu menepuk jidatnya.
__ADS_1
"O iya ya,besok saya akan usahakan hadir." ucap Dini yang di balas anggukan oleh Udin.
jangan lupa kasih like dan comen yak kakk biar aku semangat nulisnya dan doain supaya saya lulus minim kontrak la heheheh l