Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Sidang skripsi


__ADS_3

Deg!


"Licik sekali wanita itu," ucap Indri yang di balas anggukan oleh Udin.


"Iya Bu, begitulah," jawab Udin lalu menciumi putranya.


"Mas...." panggil Indri karena Edi sedang di kamar mandi.


"Iya sebentar," panggil Indri karena Edi sedang di kamar mandi.


"Iya sebentar," sahut Edi.


Tidak berapa lama kemudian ia keluar dari kamar mandi lalu mendekai Indri.


"Kenapa?" tanya Edi.


"Itu mas,mantan istrinya si Udin nyewa orang dalam di persidangan nanti nuntut hak asuh Faisol." terang Indri membuat Edi mengerutkan keningnya.


"Benar Udin?"


"Iya Pak, saya juga bingung sekarang harus gimana," jawab Udin membuat Edi mangut-mangut.


"Udah gak di pikirin, saya punyak banyak temen di sana nanti mereka akan membantu," terang Edi membuat Udin kaget.


"Serius Pak?"


"Iya,kamu santai aja istri kamu itu gak ada apa-apa kalau cuma berani ngancam doang kita buktikan nanti di persidangan," lanjut Edi membuat Udin bernafas lega lalu ia memeluk putranya dengan sayang.


"Yang kuat ya sayang kita pasti bisa melewati semua ini," bisik Udin pada Faisol yang asik sama roti coklatnya.


Seminggu kemudia Udin sudah menyiapkan semua berkas-berkas untuk mendaftar beasiswa setelah itu ia di bantu oleh Dini ke tahap selanjutnya.


Di tahap pemberkasan Udin sudah lolos sekarang ia harus benar-benar deg-dekan tapi Dini terus mendukungnya.


"Duh..mbak Dini kemana ya? Sebentar lagi giliran saya lagi yang wawancara." gumam Udin sambil celingak- celinguk mencari Dini.


Tidak lama kemudian namanya di panggil untuk masuk ke ruangan melakukan tes wawancara, dengan yakin Udin masuk ke dalam karena Dini belum ada kabar.


Hampir setengah jam ia di dalam akhirnya Udin selesai wawancara,setelah keluar Udin duduk di kursi mengatur nafasnya berkali-kali.


"Eh hari ini sidang skripsi ya?"


"Iya tu senior lagi pada sidang ada kak Eky sama Dini kayaknya."


"Ah masa kak Dini sidang?"


"Iya orang aku lihat dia tadi di sana."


Udin yang mendengar itu langsung terdiam sejemak,ia paham sekarang kenapa Dini tidak bisa di hubungi sedari tadi.


"Maaf kalau boleh tau ruang sidang dimana ya?" tanya Udin membuat kedua orang tersebut menoleh


"Di gedung sebelah kak."


"Oh ok...Terima kasih ya." lanjut Udin lalu ia buru-buru keluar menuju gedung sebelah.


Belum sampe ia ke gedung sebelah Udin melihat ada penjual bunga,tanpa membuang waktu ia langsung membeli bunga tersebut lalu kembali berjalan menujuh ruang sidang,


Sampai disana benar saja ramai orang-orang yang sedang sidang


"em...Mbak maaf sidang sudah selesai?" tanya Udin pada salah seorang yang sedang ikut sidang.


"Iya sebentar lagi selesai masih ada beberapa orang di dalam," jawab perempuan itu membuat Udin mangut-mangut.


La memilih duduk sambil menunggu semuanya selesai,hingga akhirnya orang yang ia cari-cari terlihat di sana.


Dini tampak sibuk melayani adik-adik tingkat yang melihat itu hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan dari jauh.


Akhirnya kamu bisa menyelesaikan semua Mbak.'ucap Udin dalam hati.

__ADS_1


Dari kejahuan dini sedang berfoto-foto dengan banyak orang hingga tanpa sengaja ia melihat seseorang yang tidak asing baginya tengah duduk memandang dirinya.


"Udin," gumam Dini, tangannya sudah dipenuhi dengan kado dan bunga yang begitu banyak.


Tanpa membuang waktu Dini memghampiri Udin membuat Udin yang melihat itu ikut berdiri


"Mbak..."


" Hey...Kamu disini juga, bagaimana beasiswanya udah?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.


"Sudah Mbak,terima kasih sudah membuat saya," jawab Udin yang di balas anggukan oleh Dini.


"Bantu saya bawa ini ke mobil dong Udin," pinta Dini yang di balas anggukan oleh Udin lalu ia membawa sebagaian hadiah-hadiah Dini.


Sampai di parkiran Dini langsung membuka bagasi belakang mobilnya lalu memasukan semuanya ke dalam.


"Huhhh....Akhirnya." ucap Dini sambil mengusap-usap tanganya.


"Ini Mbak," Udin menyodorkan bunga yang tadi ia beli membuat Dini terkekeh.


"Kamu ngasih juga, by the way makasih banyak ya," ucap Dini lalu menerima bunga tersebut membuat Udin mengangguk.


"Maaf ya Mbak kalau saya cuma ngasih bunga murahan, soalnya saya gak tau kalau mbak sidang hari ini," ujar Udin membuat Dini mengerutkan keningnya.


"Masa kamu gak tau sih, perasaan tadi malam saya wa kamu deh," uja Dini membuat Udin ikut binggung.


"Gak ada mbak," jawab Udin, Dini langsung mengambil ponselnya lalu mengecek pesananya dàn benar saja pesan itu tidak terkirim.


"Aduh...Gak ke kirim pantesan kamu gak tau, ujar Dini membuat Udin tersenyum.


"Kalau gitu kamu tau saya sidang darimana?" tanya Dini membuat Udin menggaruk tengkuknya sekilas.


"Em...Dari itu sih mbak tadi ada yang cerita-cerita di depan ruangan wawancara katanya. Senior-senior lagi pada sidang terang udin membuat dini mangut-mangut.


"Oalah,iya deh maaf ya saya ngiranya uda terkirim," lanjut Dini.


"Gak apa-apa mbak santai, lagian saya siapa sih harus di undang segala," ucap Idin membuat Dini memicingkan matanya.


"Mulai dech,"


"Iya bener kan mbak,saya bukan siapa-siapa dengan mbak Dini mau bantu saya daftar beasiswa aja rasanya uda senang banget," jawab Udin membuat Dini menghembuskan nafas kasar.


"Kalau itu mah emang udah tugas kami membantu teman-teman yang ingin daftar ujar Dini


" Faisol mana?" lanjut Dini.


"Em... Biasa sama Bu Indri," jawab Udin membuat Dini mangut-mangut.


" Boleh jemput gak sih,saya pengen beliin dia sesuatu." ucap Dini membuat Udin terkekeh.


"Beliin apa Mbak aduh jadi gak enak saya,"


"Kok kamu yang gak enak saya kan beliin buat Faisol.bukan buat kamu,emang udah niat kalau skripsi saya lancar saya mau beliin apa itu buat Faisol," terang Dini membuat Udin mengangguk.


"Iya mbak boleh kok nanti saya jemputin Faisol," jawab Udin membuat Dini mengangguk.


"Kita makan dulu yuk dari pagi saya belum makan karena deg-deg banget ini," Ajak Dini yang di balas anggukan oleh Udin.


"Em... Mbak saya juga boleh mintak foto gak sih?" tanya Udin malu-malu membuat Dini tertawa.


"Hahaha adu... Baru liat saya ekspresi kamu lugu gini Udin biasanya ngeselin." ucap Dini membuat Udin cengengesan.


"Gak apa-apa Mbak yang penting ganteng," lanjut Udin.


"Dihhh...."


"Eh minta tolong fotoin dong," ucap Dini pada orang yang sedang lewat.


"Tanpa membuang waktu Dini dan Udin berfoto,gaya mereka sebenarnya formal tapi karena Dini yang lebih pendek dari Udin membuat keduanya tanpa serasi.

__ADS_1


"Ini Mbak,"


"Makasih banyak ya," ucap Dini sambil memperhatikan foto tersebut


"Apa-apaan ini kameranya curang masa kamu tinggi banget disini," gerutu Dini membuat Udin menaikan alisnya sebelah.


"Lah emang saya tinggi Mbak,"jawab Udin membuat Dini mendongak.


"Ya gak tinggi-tinggi banget, ini tinggi banget di fotonya gak adil," kesal Dini membuat Udin terkekeh.


"Dasar cewek...Makanya mbak kalau tinggi itu ke atas jangan ke---


"Ke apa??" solot Dini membuat Udin menggeleng.


"Kemana?Tadi kamu mau ngomong perasaan, ngomong aja," ujar Dini membuat Udin mengeleng.


"Gak jadi mbak,"


"Heh...Mau ngejek-ejek saya kamu ya," lanjut Dini lalu ia menutup bagasi mobilnya.


"Gimana proses perceraian kamu?" tanya Dini membuat udin menoleh.


"Besok Mbak doain ya," ucap udin yang di balas anggukan oleh Dini


"Besok saya akan memperjuangkan hak asuh Faisol saya gak mau kalau Faisol sampai jatuh pada Maysaroh.terang Udin membuat Dini mengerutkan keningnya.


"Maysaroh?Dia nuntut hak asuh Faisol?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.


"Iya dia juga ngandelin orang dalam membantu dia," jawab Udin membuat Dini mangut-mangut.


"Wah...preman juga ya," gumam Dini sambil melipat kedua tangannya.


"Om..."


"om-om sok akrab banget kamu," kesal Udin membuat Naumi cengegesan.


"Eh kak Dini cantik banget lagi acara apa?" puji Naumi.


Membuat Udin melirik Dini sekilas


"Em... Otu tadi abis sidang" jawab Dini membuat Naumi kaget.


"Sidang? Kakak Dini sidang? Ya allah kok aku gak tau harusnya kan bikin kado atau apa buat gitu," heboh Naumi membuat Udin memutar mata malas.


"Lebay! Ujar Udin membuat Naumi langsung memukul tangan Udin.


"Berisik! Suka-sukaku lah lagian om juga gak ngasih tau kali hari ini ada sidang senior," omel Naumi membuat Udin melotot.


"Udah gak apa-apa santai baru sidang kok insyaallah wisudahnya masih ada dua bulan lagi," ucap Dini membuat Naumi mengangguk paham.


"Kalau begitu selamat ya kak atas sidangnya semoga lancar selalu," lanjut Naumi yang di amini oleh Dini.


" Makasih banyak ya,kamu juga yang semangat kuliahnya jangan berantem terus sama Udin tar jodoh lagi," ucap Dini membuat Naumi melotot.


"Hah?" Tolonglah kak, ya allah gak bisa aku," ujar Naumi membuat Udin menaikan alisnya sebelah.


"Lah kamu pikir saya bisa sama kamu? Gak banget Naumi," ledek Udin membuat Naumi melipatkan kedua tangannya didepan dada.


"Apa mah emang gak level sama yang terlalu tua," lanjut Naumi membuatntawa Dini pecah ia tidak menyangka Naumi seceplas-ceplos itu.


"Gak usah bawa-bawa umur, kamu juga terlalu bocah masuk kampus ini, gak usah banyak gaya," bantah Udin lalu menunjuk wajah Naumi.


"Biarlah mending yang muda, daripada yang tua uda keriput kayak nenek-nenek, ledek Naumi membuat Dini tidak hentinya tertawa sedangkan Udin malah melotot ke arah Naumi.


Dini....! Panggil seseorang membuat mereka bertiga menoleh, detik kemudian Naumi melotot melihat siapa yang datang.


"Ya tuhan..." gumamnya dalam hati.


Maaf yakhhh... kak telat up date biar saya semangat nulisx kasih masukan donk supaya saya bisa seperti kalian bisa menghasilkan karya yg bagus hehehehe......jangan lupa kasih jempol dan comenx

__ADS_1


__ADS_2