
'Mbak Dini disini? gumam Udin dalam hati lalu ia berjalan memcari tempat aman, jangan sampai Dini melihatnya menggunakan pakaian rapi begini.
"A...Ma-ma ma..." Faisol merentangkan kedua tangannya meminta di gendong membuat Dini lagi-lagi tertawa riang, ia bakan lupa dengan Edi yang sedang memperhatikannya.
"Begitu ia mengendong Faisol, dini teringat dengan Edi buru-buru ia berbalik lalu gelagapan.
"P---Pak saya minta maaf sampe lupa sama bapak." ucap Dini yang di balas anggukan oleh Edi.
"Gak apa-apa saya senang melihat Faisol riang begini." jawab Edi membuat Dini melihat Faisol lalu mencium pipi gembul anak kecil itu.
"Iya nih Pak saya bucin banget sama anak ini," ujar Dini.
"Bawa aja pulang." celetuk Edi membuat Udin hampir saja terbentur.
'Enak aja nih bapak main nyuruh bawa aja.' gumam Udin dalam hati.
Ceklek!
Indri membuka pintu kamar mandi, ia heran melihat Udin seperti orang bersembunyi sambil mengintip.
"Heh..." panggil Indri membuat Udin terlonjak kaget.
" Bu jangan disini, jangan lihat kesini," ucap Udin pelan sambil melambai-lambaikan tanganya membuat Indri bingung.
"Kamu kenapa sih?"tanya Indri, udin langsung menepuk jidatnya.
"Ibu ngomong sama siapa?" tanya Dini tiba-tiba membuat Indri kaget, sedangkan Udin langsung berjongkok di bawah meja.
"Hah?'
" Ibu lagi ngobrol sama siapa?" tanya Dini membuat Indri langsung melirik Udin sekilas yang sudah menunduk seperti maling.
"Eh.... Nggak tadi ada cicak." jawab Indri lalu membawa Dini duduk di sofa
"Udin masih kerja bu?" tanya Dini lagi membuat Udin yang awalnya panik langsung mematung mendengar namanya di sebut oleh Dini.
"Iya tuh masih kerja." jawab Indri.
Faisol memberontak ingin turun dari gendongan Dini membuat Dini langsung jongkok menundukan Faisol di sepeda bayi.
"Ini sayang... Bunda bawain makanan buat Faisol." ujar sini memberikan roti dan buah yang sudah ia potong-potong ke depan Faisol.
Faisol yang melihat banyak makanan di depannya mulai mengambil satu persatu lalu memasukannya ke mulutnya.
__ADS_1
"Anak pinter..." gumamnya Dini dengan gemasnya lalu ia kembali duduk di sofa mulai ngobrol dengan Edi dan Indri
Sedangkan Faisol kembali berjalan dengan sepeda bayinya sambil makan-makan.Dini yang melihat itu hanya senyum-senyum sesekali melirik Faisol.
"pak..." panggil Faisol membuat Udin kaget karena Faisol sudah di dekatnya.
'Aduh sayang ... Kenapa kamu kesini? Bapak bisa ketahuan ini kalau begini caranya.'ucap Udin dalam hati lalu ia berlari menuju ruangan pribadi Edi.
"Yah....Yah....Hua
tangisan Faisol pecah karena Udin meninggalkan begitu saja membuat Dini kaget.
"Sebentar ya Bu."
"Faisol...." panggilnya mendekati Faisol.
"Ya....Hua..."
"Kenapa sayang? Kenapa hem? bapak mana? Tanya Dini lalu kembali menggendong Faisol
"Faisol kangen ayah iya?"
tanya Dini membuat Udin yang sedang mengintip di balik pintu sebenarnya merasa bersalah karena membuat anaknya nangis.
"Kenapa sih sayang?Ayah...ayah terus kangen sama ayah ya? Tanya Dini sambil mengusap air mata Faisol
"Yah .."
"Udah ya, nanti ketemu sama ayah ya sekarang sama bunda duku ya," bujuk Dini lalu berjalan mendekati Edi dan Indri.
Sepanjang mereka mengobrol Udin benar benar serba salah sendirian di ruangan pribadi Edi, sekali ia mengintip keluar.
Lama Dini ngobrol akhirnya selesai dan Edi memberikan bantuan acara BEM tersebut.
"Pak bu saya pamit ya sebenarnya saya buru buru banget lagi nyiapin semuanya disana, lagi repot repotnya cuma karena humasnya lagi pada sibuk juga makanya saya yang jalan jalan." ucap Dini membuat Edi mangut mangut.
"Semangat ya jangan sungkan sungakan kalau mau ketemu Faisol. Chat aja kalau milsa Faisol disini ibu suruh kamu ke sini." jawab Bu Indri.
Deg!
Lagi -lagi udin kaget dengan pertanyaan itu, bagaimana bisa Indri menyuruh Dini datang kapapun.
' Duh...ibu ngapa ngomong gitu? Masa saya harus sembunyi terus kalau ada Dini, kan gak lucu banget.' ucap Udin dalam hati.
__ADS_1
"Iya Bu aman, Bunda pulang dulu ya sayang." ucap Dini sambil mengusap waja Faisol membuat anak kecil itu mendongak.
Begitu Dini sampai di depan pintu hendak keluar, ia kembali menoleh dan benar saja Faisol melihat dirinya dengan tatapan saya.
'Ya allah kalau aku ada hak untuk bawa kamu Faisol, bunda akan bawa kamu.' ucap Dini dalam hati lalu ia melambaikan tanganya.
"Da....da.....
"Dada dulu bundanya." ucap Indri
"Ma..." ucap Faisol dengan tatapan satunya sembuat Dini buru-buru keluar dari ruangan Edi, ia tidak kuat melihat anak kecil itu.
"Ma...hua...
Tiba-tiba Faisol menangis begitu Dini pergi membuat Udin buru-buru keluar dari persembunyiannya lalu memnghampiri anaknya.
"Sini sayang sama ayah." ucap udin tiba-tiba membuat Faisol mendongak lalu ia merentakan kedua tanganya.
"Bu kenapa? Ibu nangis?" tanya Udin kaget melihat Indri menghabus air matanya.
"Hum...Ibu bisa merasakan bahwa anak kamu butuh kasih sayang seorang ibu Din, kasihan siapa yang datang dia minta perhatiin.
Tapi gak semua yang datang bisa menjaga 24 jam ibu gak tega aja denger tangisan seperti tadi." terang Indri sambil menghapus air matanya.
"Iya Bu, insyaallah Faisol akan mendapatkan kasih sayang lebih dari siapapun yang deket dengannya." ucap Udin.
"Kenapa kamu gak jujur sama Dini kalau bukan kuli bangunan lagi, melaikan kerja disini.
Apa salahnya kamu jujur Udin,kalau kamu jujur kamu gak harus kayak tadi." ucap Indri membuat Udin tersenyum.
"Bukan apa-apa Bu ' saya tetep ingin kenal sebagai kuli bangunan sama seperti waktu saya bersama istri saya.
Jika istri saya memandang saya dengan hina, sekarang saya ingin membuktikan adakah orang yang benar benar tulus berteman atau apalah sama kuli bangunan. Lanjut Udin membuat Indri mangut-mangut.
"Terserah kamu deh...semoga saja kamu cepat dapat jodoh ya Udin, jujur ibu pengen banget lihat kamu punya istri.
Karena kalau kamu lagi bareng sama Dini yang tadi itu ibu suka banget lihatnya karena Dini ibu gadis yang tulus." ujar Indri mebuat Udin mangut-mangut.
Mbak Dini berasal dari orang kaya bu, kalau misal suka sama saya pun pasti tantanganya dan rintangannya banyak.
Saya sudah agak trauma sama cewek kaya Bu, kayak istri saya aja sih." lanjut Udin.
" Gak semua perempuan begitu Udin, hanya saja mungkin karena kamu dapat yang begitu dan ya itu membuat kamu berpikiran kalau cewek kaya itu semua sama," ujar Edi yang di balas anggukan oleh Udin.
__ADS_1
"Tapi ingat Udin ya, walaupun kamu punya trauma, kamu gak boleh mengabaikan anakmu hanya karena traumamu.Anakmu masih sangatnbutuh kasih sayang seorang ibu." gumam Edi membuat Udin terdiam sejenak