Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Di tuduh perebut (pelakor)


__ADS_3

Udin berlari menyusul Dini ia berniat memberi tau jika dirinya selama tiga hari tidak ada di rumah.


Drt...Drt...Drt


Ponsel bergetar membuat Udin berhenti lalu merogoh saku celananya


(Hallo Bu)


(Hallo Udin..Hua.yah...) jawab Indri di iringi dengan suara tangisan Faisol


(Faisol kenapa bu?)


( Ini lasak banget banget udah di bilang jangan kencang-kencang jadinya kepentok kan?)" gumam Indri membuat Udin terkekeh.


pak....pak...


Iya ini kita nelpon bapak kamu, ngadu nah ngadu ujar Indri, Udin yang mendengar suara tangisan putranya hanya bisa diam.


Tidak sengaja ia melihat ke arah cafe terlihat Dini bersama seorang laki-laki, Udin terus memperhatikan Dini berharap perempuan itu melihat ke bawah.


( udah belum Udin kuliahnya?) tanya Indri membuat Udin tersadar.


(eh...udah kok bu baru aja selesai)


( langsung ke kantor apa gimana? Ini Faisol panggil kamu terus dari tadi) lanjut Indri.


(iya bu, saya langsung ke kantor,) jawabnya lalu ia berjalan ke arah parkiran.


Disisi lain Dini sedang bersama teman angkatanya yang sama-sama sedang menjalani skripsi.


"Banyak revisianmu Dini?" tanya arya sambil menyeruput minumanya.


"Lumayan sebenarnya ma gak banyak-banyak banget cuma malas aja ngerjainnya


Gak bisa fokus pikiran kemana-mana terus, jadinya capek sendiri dech," jawab Dini yang sedang mengotak ngatik laptopnya.


"Kamu suka sama seseorang ya?" tebak Arya membuat Dini bingung.


"Siapa?"


"Ya mana aku tau Dini, tanyain hatinya kamunlah, aku cuma nebak doang." ujar Arya membuat Dini berpikir sejenak lalu mengeleng.


"Nggak tuh."


"Bohong...Kelihatan dari muka kamu Dini, kaya lagi memedam sesuatu gituloh...bagus sih kamu pendam cuma kan kamu harus pikirin skripsi kamu juga." lanjut Arya membuat Dini meghela nafas panjang.

__ADS_1


"Gak suka sih lebih tepatnya gimana ya, dia punya anak dan aku ngerasatu deket banget sama anaknya bawaannya pengen ke temu bayi itu terus.


Lagi gemes-gemeanya soalnya ya gitu dech, kalau dia mah biasa aja toh dia juga masih proses perceraian sama istrinya." terang Dini membuat Arya melipat kedua tanganya


"Itu siapa?Maksudnya kamu kenal di mana?" tanya Arya mulai kepo


"Dia mahasiswa baru di sini aku juga awalnya gak percaya kalau dia udah Nikah dan punya anak.


Tapi begitu dia buktiin baru dah aku percaya dia beneran punyak anak dan aku ngerasa senang aja ketemu anaknya." lanjut Dini membuat Arya mangut-mangut.


Yakin gak suka sama bapaknya?"


Deg!


"Apaan sih kamu gak tau lagian dia juga kayaknya udah punya pacar temen seangkatannya atau siapa gak tau lah." lanjut Dini membuat Arya tersenyum.


"Dini....Dini itu namanya kamu cemburu orang, buktinya kamu sampe tau ngomong gitu." lanjut Arya membuat Dini langsung menatal tajam


"Jangan sotoy deh, nggak... Aku ngelihat aja kemaren pas di rumahnya dia bawah cewek itu dan tadi pagi juga kalau gak salah dia bareng cewek itu lagi.


Akrab banget lah pokoknya kalau di lihat-lihat siapa lagi kalau bukan pacarnya atau temen deket gitu," terang Dini, Arya hanya bisa geleng-geleng.


"Serah lah dini...Tapi kalau aku ngelihat nih punten ini mah maaf kamu tuh kayaknya ada rasa sama ayahnya anak kecil itu.


Disamping kamu suka sama anaknya kayaknya ada rasa lain gitu di hati kamu buat mahasiswa baru misalnya salut gitu sama semangatnya yang luar biasa udah punya anak,kuliah pasti dia kerja gak?" tebak Arya yang di balas anggukan oleh Dini.


"Kalau boleh tau dia kerja apa?" tanya Arya lagi.


"Kuli bangunan."


"Hah? Demi apa? Tanya Arya tidak percaya membuat Dini mangut-màngut.


"Iya awalnya aku juga gak percaya tapi kemaren pas ospek dia dua hari gak ikut karena harus kerja sama jaga anaknya. Lanjut Dini.


"Ih gila sih keren banget, kuli bangunan, punya anak di tambah kuliah.


Kalau aku kayaknya udah gak akan bisa dah kuliah-kuliahan, salut sih aku juga." ujar Arya membuat dini menghela nafas panjang lalu melihat ke arah jalanan


*****


Malam hari Udin dan Edi berangkat dinnas sebenarnya hari Udin sangat berat untuk meninggalkan anaknya namun, bagaimanapun juga ia tidak bisa menolak Edi yang sudah banyak membantunya.


Kami berangkat ya Indri...ucap Edi lalu mencium kening


Udin mencium Faisol yang berada di gendongannya Indri

__ADS_1


"Doain semuanya berjalan dengan lancar ya biar om sama ayah kamu cepat pulang." ucap Edi sambil mengusap wajah Faisol.


"Bu titip Faisol ya mohon maaf kalau dia rewel. Ucap Udin yang di balas anggukan oleh Indri.


"Santai gak usah dipikirin insyaallah Faisol aman sama ibu uda ngabarin dia belum?" goda Indri membuat Udin bingung.


"Dia siapa bu? Tanya Udin


"Alah...pura-pura gak tau lagi, yang kemaren datang ke rumah sakit." jawab Indri membuat Udin paham.


"Oh Mbak Dini, belum sih bu lagian kayaknya mbak Dini lagi sibuk nyusun skripsinya." ujar Udin membuat Indri mangut-mangut.


"Yakin gak mau ngabarin?" timpal Edi membuat Udin terkekeh.


"Ngabarin buat apa juga Pak, yang ada nanti mbak Dini aneh lagi sama saya tiba-tiba ngabarin gak jelas." jawab Udin.


"Ya udalah terserah kamu." lanjut Edi


'Ya uda ayo berangkat." ajak Edi lalu mereka berangkat juga.


Sedangkan Faisol bersama dengan Indri selama tiga hari kedepan.


****


Keesokan harinya setelah ngobrol panjang lebar dengan Arya, dini terus kepikiran dengan pernyataan Arya yang mengatakan dirinya menyukai Udin.


Arya sok tau banget sih." gumamnya sambil berguling-guling di ranjang karena tidak bisa tidur.


"Apa aku ke rumah Udin aja kali ya memastikan kalau aku tidak suka dengan laki-laki itu.melaikan hanya menyukai anaknya." gumam Dini lagi sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di kening.


"Ok aku kesana dengan catatan hanya mau bertemu Faisol, mau dia lagi sama siapapun itu gak urusanku." lanjutnya lalu ia siap-siap.


Pukul 3 sore hari Dini sampai di rumah Udin, dari dalam mobil ia melihat seorang perempuan duduk di kursi panjang depan rumah Udin.


"Duh...perempuan itu disitu lagi, jangan-jangan lagi nungguin Udin lagi.


Ah udahlah kan niatnya hanya mau bertemu Faisol, ok." gumammya lalu turun dari mobil.


Belum sempet ia melangkah menuju teras tiba- tiba perempuan itu berdiri lalu menunjuk Dini membuat Dini sedikit kaget melihat perempuan itu tidak lain adalah Maysaroh.


"Dimana suamiku pelakor?!" bentak Maysaroh membuat Dini menaikan alisnya sebelah lalu melihat kanan kiri.


"Mana pelakor?" tanya Dini dengan polosnya membuat Maysaroh mengepalkan tangannya.


"Kamu!kamu pelakor yang udah merebut anak dan suamiku kan! Teriak Maysaroh membuat Dini lagi-lagi bingung lalu melihat penampilan Maysaroh yang sedikit acak-acakan

__ADS_1


"Dimana suamiku dan anakku?" jawab!"


__ADS_2