Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
weekend


__ADS_3

"Kepo banget sih!"


"Buset...Kamu bisa gak sih jangan galak-galak, kan cuma nanya!" omel Eky membuat Dini menatap tajam.


"Gak ada yang perlu di tanyain,Sana ih ganggu aja." ujar Dini lalu mendorong Eky.


" Sumpah kamu ya sama ketua gitu amat, untung cantik kalau gak----


"Apa?Kalau gak apa?!" tantang Dini membuat Eky diam lalu pergi begitu saja.


"Huh...Bikin mood hancur aja." kesal Dini ia kembali ke ruangan BEM.


***


Seminggu telah berlalu Udin mulai terbiasa dengan aktivitas kuliah, kerja sekaligus menjaga anaknya


Satu sisi ia merasa kucar-kacir mengerjakan semuanya namun satu sisi udin merasa bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang.


"Eh anak bapak udah bangun aja, mumpung sekarang lagi weekend kita jalan-jalan ya.


Kasiannya anak bapak ini ikut kerja, kadang ikut kuliah juga semangat ya Nak, semua ini berkahnya kamu." ucap Udin sambil mengangkat Faisol tinggi-tinggi membuat anak kecil itu tertawa.


" Let's go" lanjut Udin lalu ia mengikat kain dengondangnya.


Pertama ia membawa Faisol membeli baju walaupun bukan di mall tapi Udin sangat semangat membelikan putranya itu baju dengan gajinya satu bulan ini.


"Anak bapak mau baju yang mana ini yang merah atau yang hitan? Hum.....sebenernya dua-duanya bagus sih." gumam Udin sambil mengamati dua baju itu.


"Yang hitam aja." ucap seseorang membuat Udin menoleh ke samping.


"Eh. Naumi kami di sini juga?" ucap Udin ya Naumi adalah teman kelasnya.


"Beliin baju buat ponakan kah?' tanya Naumi membuat Udin sedikit kaget lalu ia terkekeh.


"Em....Bukan ponakan sih tapi ini anak saya." jawab Udin membuat Naumi kaget lalu ia meletakan tangannya di kening Udin.


" Eh..." Udin kaget lalu sedikit menghindar.


" Kamu gak sakit kan?" tanya Naumi yang di balas gelengan oleh Udin


"Iya saya uda menikah tapi sekarang lagi proses perceraian dan ini anak saya," jawab Udin membuat Naumi mematung tapi detik kemudian ia tersadar lalu mengangguk.


'Iya sih namanya jalan hidup manusia gak ada yang tau.' ucap Naumi dalam hati.


"Abis ini mau kemana?" tanya Naumi lagi sambil memainkan tangan Faisol.


"Belum tau nih niatnya mau bawa anak kecil ini jalan-jalan sih mumpung weekend kasian ia setiap hari harus nemenin saya kuliah dan kerja." jawab Udin membuat Naumi mangut-mangut.


"Oh ya udah aku gabung boleh ya?"


"Hah?"

__ADS_1


"Ikut sama kalian,plese." ucap Naumi seperti anak kecil membuat Udin menggaruk tengkuknya sekilas.


"Em....Kamu gak malu apa ikut sama kami?" tanya Udin membuat Naumi celingak-celinguk.


"Malu sama siapa? Saya gak punya pacar kok santai masih semester satu kuliah." jawab Naumi membuat Udin mangut- mangut.


"Aku masih polos lah umur 20 tahun masih imut-imutnya, apa aku harus memanggilmu om?" goda Naumi membuat Udin melotot.


"Hehhh...."


"Ya sudah kalau begitu aku ikut, sekalian nih kita ngerjain makalah kan kelompok satu nih mata kuliah bahasa indonesia, mana berdua lagi kita." ujar Naumi membuat Udin mangut-mangut.


"O iya iya, baru ingat lagi." ucap Udin


"Bukan baru ingat karena memang faktot umur aja om." lanjut Naumi lalu ia berjalan terlebih dahulu membuat Udin lagi-lagi menghela nafas panjang.


"Huh.... Sabar ya allah ini baru satu orang yang tau bagaimana jika satu kelas pada tau, abis dah..." gumam Udin lalu mengikuti Naumi.


"Mau kemana ini?" tanya Udin saat ia sudah selesai membayar baju anaknya.


Nyari makan yuk om, belum makan nih dari pagi." ajak Naumi membuat Udin mencekal lengannya.


"Eh.... Apa ini?"


"Berhenti panggil saya om!" tegas Udin membuat Naumi langsung menelan ludahnya dengan susah payah di tambah tanga Udiin mencengkeram lengannya.


"I---iya iya lepasin." ujar Naumi lalu mengibas-ngibaskan tangannya.


"Biarin,Suka-sukaku la kan aku masih gadis jadi emang higenis." jawab Naumi membuat Udin lagi-lagi memutar mata malas.


"Iya kan sayang." ucap Naumi sambil menoel pipi Faisol.


"Uda buruan katanya mau bikin makalah gimana sih..." ujar Udin


"Sabar elah....Dasar bapak-bapak gak punya kesabaran, udah ayo kesana." lanjut Naumi menunjuk tempat makan di seberang.


"Ya udah kamu nyeberang aja, saya kan bawa motor jadi harus mutar dulu." ucap Udin.


" Gak ada niatan gitu ngajak saya ikutan naik?" tanya Naumi membuat Udin memicingkan matanya.


Tinggal nyebrang gak usah banyak tingkah deh." omel Udin.


"Iya-iya bawel...." lanjut Naumi lalu ia hendak berbalik.


"Bye Om."


"Astaga...." Udin menggeleng- gelengkan kepalanya.


"Kekanak-kanakan sekali ini bocah." ujarnya lalu ia memutarkan motornya.


"Lama banget sih, ini udah aku pesanin gak tau sih kamu suka atau gak?" ujar Naumi begitu Udin medekati meja.

__ADS_1


"Emang gitu ya kalu punya temen, makan duluan aja gitu?" tanya Udin karena ia melihat Naumi sudah makan terlebih dahulu.


" Harusnya mah di tunggu, cuma karena yang di tunggu ini om-om mending makan duluan aja lah, agak ribet nunggu orang tua." lanjut Naumi membuat Udin melotot.


"Shut up!"


"Hehe . Makan-makan." lanjut Naumi lalu ia melanjutkan makannya.


"Kamu itu cocoknya di SMP dulu sana, gak ada dewasa-dewasanya sedikitpun." omel Udin membuat Naumi kembali mendongak.


"Biarin suka-sukaku lah."


Hari sudah menunjukan pukul 3 sore akhirbya makalah yang sedari tadi mereka susun sudah selesai.


"Akhirnya...."gumam Naumi sambil tersenyum.


"Udah semuanya?" tanya Udin,ia tidak bisa melihat jelas karena Faisol sudah tidur di pangkuan.


"Belum lah."


"Apa lagi?" tanya Udin


" kan belum di prin hahaha......" jawab Naumi tanpa dosa membuat Udin langsung mengalikan pandangannya.


'Astaga tuhan' punya temen kelasan gini amat" ucap dalam hati


"Gak usah ngedumel dalam hati nanti tambah tua loh." lagi-lagi Naumi memancing Udin.


"Bisa diam gak sih, ini anak saya lagi tidur." ujar Udin membuat Naumi menutup mulutnya.


"Maaf...Maaf


"Tempat print yang dekat dimana ya?" gumam Naumi sambil mengotak-atik lap topnya.


"Deket rumah saya ada sih gak jauh dari sini,sekalian saya mau rebahin Faisol dulu kasian dari tadi tidurnya sampe gini banget." ucap Udin membuat Naumi berpikir sejenak.


"Boleh deh, sini aku yang gendong biar kamu fokus bawa motor." ujar Naumi.


" Gak usah,saya mah udah biasa."


"Alah....Gak usah sok jual mahal napa,sini," lanjut Naumi lalu mengambil alih Faisol dari pangkuan Udin.


Tanpa membuang waktu mereka langsung menuju rumah Udin.


Sekitar 10 menit akhirnya rumah Udin sudah kelihatan ada orang yang sedang menunggu di depan rumahnya.


Begitu motornya masuk ke dalam halaman rumahnya, ia dapat melihat jelas siapa yang di sana.


"Uda sampe?" tanya Naumi.


"Udah, bisa gak turunya?" tanya Udin.

__ADS_1


"Bisa-bisa." jawab Naumi lalu ia turun, begitu Udin turun dari motornya bertepatan dengan Dini berdiri dari duduknya matanya langsung menatap dua orang itu secara bergantian.


__ADS_2