
"Udin yang kamu injak-injak itu sudah musnah.Udin yang di hadapanmu sekarang adalah Udin dengan versi baru.'ucap Udin dalam hati,lalu ia kembali menatap Maysaroh tidak mau kalah.
Dari kejahuan Maysaroh geleng-geleng,ia tidak mengerti apa yang terjadi pada suaminya itu.
Tanpa membuang waktu,begitu melihat lampu merah.Maysaroh langsung pergi menyebrang karena sudah di tunggu di seberang jalan.
Melihat Maysaroh masuk kedalam mobil Udin, tiba-tiba saja Robi menepuk pundaknya.
"Udalah jangan di pikir,kamu sudah keren banget,Setidaknya dengan cara kamu tadi,semoga dia bakal mikir bagaimana kamu yang sekarang.
Yuk bangkit,tunjukan pada dunia kamu bukan laki-laki lemah!"ujar Robi membuat Udin mengangguk.
"Masih ingat kata-kataku?"tanya Robi yang di balas anggukan oleh Udin.
"Masih banyak perempuan lain di dunia ini,"jawab Udin membuat Robi terkekeh,lalu menggangguk.
Mantap,ayo kerja lagi,"ajak Robi
******
Tiga minggu telah berlalu, setelah Edi menawarkan Udin untuk memegang satu proyek
.Gimana Din,siap?"tanyak Edi saat hendak serah terima dana pembangunan.
"Huhhh Bismillah siap,Pak? Jawab Udin menerima uang tersebut,lalu menjabat tangan Udin.
"Ok,kita tunggu hasil ya,?
semoga beruntung."lanjut Edi yang di balas anggukan oleh Udin.
"Baik pak."
"Bu Indri boleh saya gendong Faisol dulu."ucap Udin yang di balas anggukan oleh Indri.
"Boleh dong inikan anak kamu,"jawab Indri lalu memindakan Faisol ke gendongan Udin.
Udin langsung mencium kening dan pipi anaknya tersebut lalu ia tersenyum.
"Ini semua berkat kamu nak, kamu yang membawa rezeki buat bapak."ucap Udin sambil mengusap lembut kepala Faisol yang sudah sangat aktif.
"Kalau bayi laki-laki biasanya cepat jalan Din,bentar lagi juga anak kamu mulai jalan itu.
Sekarang aja dia sudah aktif banget,pengen di berdiriin mulu,ujar Indri membuat Udin tersenyum.
"Terimakasih ya Bu,selalu menjaga Faisol.Bahkan ibu lebih tau tentang Faisol,dibandikan saya,Bapak kandungnya sendiri.
Wajar sihhh,ibu seharian sama Faisol, sedangkan saya malam aja.Dan itupun cuma beberapa jam lalu tidur."ucap Udin membuat Indrie megangguk.
"Aman,saya samgat senang sama anak kamu,gak rewel bikin gemes,"lanjut Indri yang di balas anggukan oleh Udin.
*****
Waktu menunjukan sore hari, Udin bersiap-siap untuk pulang,saya ia sedang membenarkan kain gendongannya tiba-tiba Robi datang.
"Mandor jangan lupain temanmu ya."ucap Robi membuat Udin terkekeh.
"Gak ada yang lupa,justru aku mau minta bantuan kamu ini selama sebulan kedepan?"ujar Udin yang di balas anggukan oleh Robi.
"Ayo sayang,kita pulang ya."gumam Udin pada fFaisol lalu menyalakan motornya.
Sekitar 35 menit melakukan perjalanan,akhirya mereka sampai didepan rumah.
Baru saja turun dari motor,ia melihat ada orang yang menunggu di depan rumahnya.
Ibu."gumam Udin saat melihat orang tua itu adalah orang tua Maysaroh.
Assalamualaikum."ucap udin membuat kedua orang tua Maysaroh berdiri.
"Walaikumsalam Nak Udin,sudah pulang kerja,*jawan orang tua Maysaroh sambil memperhatikan Udin,dengan kain gendong melilit di pundaknya.
__ADS_1
"Sudah Bu."jawab Udin sambil membuka pintu rumah
Masuk dulu Bu,Yah.
Terimah kasih."
Boleh ibu gendong Faisol."ucap ibu mertuanya tersebut,yang di balas anggukan oleh Udin.lalu ia melonggarkan kain gendongnya.
Kemudia ia memindahkan Faisol kepangkuan ibu Maysaroh.Setelah itu Udin celingak-celinguk,seperti mendari sesuatu.
"Maysaroh tidak ikut Nak?jangan khawatir."ucap ayah mertuanya membuat Udin mengangguk.
"Maafkan Maysaroh Nak,"lanjut ayah mertua membuat Udin menoleh.
"Dia gak salah yah,dia berhak bahagia,saya yang salah belum bisa membuatnya bahagia."jawab udin membuat ayah mertua melihat menarik nafas sejenak.
"Tapi rasanya kurang pantas Maysaroh melakukan ini sama kamu.Apalagi sampai meninggalkan anaknya begini."ujar ibu mertua sampai membuat Udin tersenyum.
Gak kok bu,saya tidak merasa beban sedikitpun.alhamdulillah Faisol anak yang baik budi,dia juga paham kalau bapaknya bekerja."jawab Udin.
"Emm...sebenarnya kami datang kesini untuk meminta Faisol,Nak."
Degg!!!
Udin langsung kaget mendengar itu,lalu ia dengan cepat menggeleng.
"Nggak,Bu."tolak Udin membuat ibu melihat ayah sekilas.
"Kamu boleh kok Nak mengunjungi Faisol kapanpun kamu mau.Tapi biarlah yang merawat Faisol itu kami."ujar ayah,membuat umUdin tidak habis pikir dengan jalan pikir mertuanya tersebut.
"Apa ibu dan ayah datang kesini,atas suruhan Maysaroh kah?"tanya Udin membuat keduanya gelagapan.
"Ahhh ngak kok,kami kesini memang mau melihat Faisol."elak ibu.
"Gak perlu berbohong Bu,saya tau kok Maysaroh,Ayah dan ibu juga memandang saya sebelah mata,karena saya tidak sekaya mantan-mantan Maysaroh.
Tapi satu hal yang harus ayah dan ibu tahu.Untuk sekarang saya masih bisa mengurus dan menafkahi Faisol sendiri."tegas Udin membuat ke dua orang tua Maysaroh kaget.
"Baiklah Nak Udin,pertimbangkan lagi aja,Jika Faisol bersama kami,kamu lebih leluasa mau kemana pun itu."lanjut ayah yang di balas anggukan oleh Udin.
"Terimakasih."jawab Udin lalu ia mengambil alih Faisol dari pangkuan ibu mertuanya itu.
Merasa suasana makin canggung,kedua orang tuanya Maysaroh memilih untuk pamitan pulang karena merasa tidak enak hati ke Udin.
Setelah melihat keduanya pergi,Udin langsung mengatur nafas berkali-kali.Rasahnya ia ingin marah,lagi-lagi Maysaroh membuatnya semakin esmosi.
Kemaren maysaroh menjelek-jelekan dirinya ke tetangga-tetangga sekitar rumah dan sekarang ia menyuruh kedua orang tua untuk mengambil Faisol.
Setelah kejadian itu udin merasa was-was,kalau tiba-tiba Maysaroh kembali berusaha mengambil Faisol.
Sepanjang ia menjalakan proyek,fmFaisol tinggal di rumah Edi atas permintaan Indri.Supaya Udin lebih fokus bekerja,tanpa harus membawa Faisol kemana-mana.
Bahkan tidak jarang,Udin tertidur dirumah Edi sambil menjenguk putranya.
Bagaimana Din proyek yang kamu jalankan?lancar kah?tanya Edi saat mereka sedang duduk bersama Udin di teras sambil menikmati angin malam.
"Alhamdulillah lancar pak,minta bimbingannya terus.Sekitar dua minggu lagi selesai."jawab Udin yang di balas anggukan oleh Edi.
"Istrimu dan keluarganya bagaimana?Masih menganggu?"tanya Edi.
Gak tak Pak,hampir setiap hari saya pulangnya kesini,Jadi gak tau apa-apa heheheh lagian lebih mending begini dulu pak,biar saya lebih fokus sama proyek.
Walapun ini benar-benar merepotkan Bapak sama ibu yaaa
"Gak lah,gak ada yang merepotkan,lihat ibumu.Dia begitu senang dengan kehadiran Faisol disini.
Makanya dia selalu meminta kalian tinggal di sini dari awal."potong Edi membuat Udin tersenyum.
'Orang yang gak di kenal berasa seperti keluarga sendiri.sedangkan keluarga sendiri terasa seperti orang lain.ucap Udin dalam hati,lalu ia menghela nafas pelan-pelan.
__ADS_1
Sudahlah jangan banyak-banyak pikiran,pikirkan yang penting-penting saja." ucap Edi tiba-tiba,seolah-olah tau apa yang sedang dipikirkan Udin.
Begitu Udin masuk,ia melihat Indri baru saja keluar dari kamar.
Bu,Faisol mana?"tanya Udin.
"Ada di dalam,masuk aja."suruh Indri lalu ia berjalan keteras menghampiri suaminya.
Ceklek!!!!
Udin masuk ke dalam kamar,ia melihat Faisol tertidur pulas dengan posisi terletang yang di sampin kanan kirinya terdapat guling.
Bibirnya melengkung indah,lalu ia merebahkan dirinya di samping Faisol sambil mencium tangan mungil itu.
"Assalamualaikum sayang,seharian kita gak ketemu, ehh sekali ketemu kamu tidur.
Maafin bapak ya nak,terlalu fokus kerja.Tapi ketahuilah ini semua buat kamu Nak."gumam Udin membuat Faisol menggeliat detik kemuadian ia membuka matanya.
Begitu anak kecil itu menoleh ke samping,Faisol tertawa melihat Udin,lalu ia tertelungkap membuat Udin tersenyum.
"Bangun lagi ya,gak apa-apa.Bapak kangen banget sama Faisol."ucap Udin lalu menggedong faisol.
Diteras
"Mas."
"Hum."
"Aku sedih masa." ucap Indri membuat Edi menoleh.
"Sedih kebapa?" tanya Edi tiba-tiba iIndri merasa ada yang menggenang di pelupuk matanya.
"Faisol Mas,"
"Faisol?Kenapa?
"Aku sayang banget ama bayi itu.gimana ya?" ujar Indri, membuat emEdi tersenyum lalu mengusap tangan Indri
Terus masalahnya dimana?
Aku takut Udin membawa Faisol pergi setelah selesai proyek."jawab Indri membuat Edi diam sejenak.
Tanpa mereka sadari,teryata Udin mendengar percakap keduanya dari balik pintu.
Walapun dia pergi,dia akan tetep mengizikan kita bertemu dengan Faisol
Untuk memiliki Faisol itu tidak mungkin Indri,karena lihatlah perjuangan Udin mempertahankan anaknya dari istri dan keluarga istrinya,"ujar edi membuat Indri mangut -mangut.
Iya sihhh."
Kalau gak,nanti kita adopsi bayi aja dari panti asuhan.Kalau misal Udin menikah atau bagaimana,"usul Edi membuat Indri tampak terdiam sejenak.
"Tapi gak ada yang kayak Faisol mas."jawab Indri membuat Edi terkekeh.
Kamu mahhh suka gitu,dulu juga kan kamu gak kenal Faisol,ehhh begitu gendong langsung sayang."ujar Edi membuat Indri mengangguk.
la merasa keputusan keduanya lebih menghargai dirinya dibandingkan orang tua Maysaroh.
Banyak yang sayang sama kamu nak.walaupun kamu di buang ibu kamu, tapi banyak orang yang menginggikan kamu."mencium pipi Faisol.
****
Selama menjalakan proyek,Udin bener-benar berpikir keras bagaimana caranya mengedalikan semuanya,ia juga di bantu Robi.
Tidak jarang ia kadang merasa buntu dan bingun.Jika sudah begitu,Udin biasanya langsung menghadap Edi meminta arahan.
Sore ini,bangunan itu selesai membuat Udin tidak menyangkah selesai secepat itu.Padahal ia di targetkan selama sebulan dan sekarang masih 25 hari sisa 5 hari lagi.
Udin dan Robi memandangi bangunan yang baru saja selesai lalu detik kemudian mereka saling melihat kemudian toss
__ADS_1
"Akhirya Din,"ucap Robi membuat Udin mengangguk,ia benar-benar tidak menyangka.