Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Kuliah sambil Dagang


__ADS_3

"Mbak sama siapa kesini?" tanya Udin membuat Dini kembali menoleh


"Sendiri,"


"Naik? Perasaan di parkiran gak ada mobil mbak." ucap Udin membuat Dini senyum-senyum.


" Kenapa Mbak?" tanya Udin bingung.


"Lucu ceritanya saya manfaati si Oval biar bisa kesini, begitu uda keluar dari rumah udah saya sengaja cari gara-gara biar dia kesel, abis itu saya pura-pura ngambek turun dari mobil lalu suruh pergi," jawab Dini membuat Udin melongo sedangkan Dini malah santai lalu mengusap wajah Faisol.


"Udah ngantuk sayang?Mau lagi buahnya?" tanya Dini lalu mengangkat Faisol ke pangkuannya membuat anak kecil itu merengek serba salah.


"Mau tidur kayaknya Mbak, sini saya timang bentar," ucap Udin lalu mengambil alih Faisol ke gendongannya.


"Eh bajunya basah Nak?" ucap Udin saat merasakan baju Faisol berair.


"Basah ya abis makan buah dia, sini ganti dulu," ujar Dini membuat Udin langsung merebahkan Faisol di ranjang


"Hiks...Hua..." tiba-tiba anak kecil itu malah menangis tidak mau di turunkan membuat Udin tersenyum.


"Sabar Faisol sebentar, ganti baju dulu ya Nak biar di gendong lagi," bujuk Dini sambil membuka baju Faisol lalu menggantinya, sedangakan Faisol masih setia dengan tangisannya sambil berguling- gulibg membuat Dini terkekeh.


" Eh.... Ada cicak mana cicaknya Faisol diam sambil melihat tangan Dini yang menunjuk ke atas.


"Tuh....Tuh diatas ada cicak lagi tidur, gak boleh nangis nanti cicaknya marah, lanjut Dini membuat Faisol bengong melihat ke arah langit-langit seolah-olah mengerti ucapan Dini.


" Udin terkekeh melihat putranya bengong di bodoh-bodohin padahal di atas tidak ada apa-apa.


"Udah, gendong lagi dia ayah biar tidur," ucap Dini melihat Udin langsung sedikit menunduk memgambil putranya lalu mengambil putranya lalu mengankat Faisol tingi-tinggi lalu menciumnya.


"udah bersihkan anak ayah gak basah lagi bajunya." ucap Udin sambil mencium pipi putranya. Menyatukan giginya membuat Udin tersenyum.


"Udah dulu bunda....Faisol mau bobo," ujar Udin menirukan suara anak kecil membuat Dini memanyunkan bibirnya.


"Iya lah," jawabnya malas lalu ia kembali duduk ditepi ranjang kemudian membereskan sisa-sisa makan faisol.


" Udin mulai menimang-nìmang Faisol yang sudah ngantuk berat, ia melantunkan sholawat beberapa kali membuat Dini yang awalnya biasa aja malah ikut mengantuk.


"Sekitaŕ 10 menit ia menidurkan Faisol akhirnya anak kecil itu tertidur pulas membuat Udin tersenyum lalu ia melihat ke arah Dini.


"Lah... Malah ikutan tidur," gumamnya melihat Dini tidur dengan kaki menggantung setengah.


"Tanpa membuang waktu ia langsung merebahkan Faisol pelan-pelan di ayunan bayi, setelahnya ia mendekati Dini yang tampak pulas


"Maaf ya Mbak, saya angkat kakinya biar gak pegel tidurnya," ucap Udin lalu ia pelan-pelan mengankat kaki Dini ke atas ranjang.


"Trus sekarang ngapain? Gak mungkin disini nanti yang ada pak edi sama bu indri mikir yang aneh-aneh lagi," gimamnya memperhatikan dini dan faisol secara bergantian.


"Kerja aja kali ya sambil nunggu Mbak Dini bangun, lumayan selesai satu dua tugas," ucap Udin dalam hati lalu ia kekuar dari kamar menuju meja kerja Edi.


"Disisi lain setelah resmi bercerai dengan Udin, Maysaroh benar-benar dendam pada Udin dan Dini bahkan tanpa sadar dendamnya kadang membuatnya ngomong-ngomong sendiri.


"Semua ini gara-gara pelakor itu!" umpatnya dengan tangan mengepal.


"Maysaroh!" panggil ibunya karena melihat Maysaroh seperti orang kerasukan di depan kaca, Maysaroh yang mendengar itu langsung menoleh.


"Kenapa Bu," jawabnya acuh.


"Sholat," suruh ibunya membuat Maysaroh langsung mengerutkan keningnya lalu menatap ibunya dengan tatapan aneh.


"Kamu kenapa sih? Terkena baby blues, ha? Anak kamu uda gede itu kamu masih belum berubah juga," ujar ibunya membut Maysaroh menjatuhkan bobotnya di sofa.


"Nggak! Ini semua gara-gara pelakor itu Bu, Ibu liat gak sih dipersidangan kemaren dia itu gendong Faisol.


"Merasa ke ibuan banget bikin muak tau gak padahal itu cuma akting aja dan yang paling bikin aku gak terima, dia yang memperkuat bukti Mas Udin biar Faisol jatuh ke mas Udin." terangnya, tanpa sadar ia sedang di perhatikan ayahnya juga dari jauh.


"Sudahlah Maysaroh nasi sudah menjadi bubur sekarang yang perlu kamu pikirkan masa depan kamu lupakanlah, karena Udin sudah tidak mau lagi sama kamu.


"Jadi gak udah berlarut-larut begini gak ada gunanya sekarang kamu masuk kamar sholat, berdoa minta ampun sama allah," suruh ibunya membuat Maysaroh menggeleng.


"Apa ibu bilang melupakan semua ini?No...Gak bisa Buatku harus balas dendam siapa suruh perempuan itu ikut campur dalam rumah tanggaku," tegas Maysaroh membuat ibunya menghela nafas panjang.


"Ibu udah gak bisa ngomong apa-apalagi sama kamu May, uda bilang pikirkan baik-baik jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Coba kamu dengerin ibu waktu itu pasti gak sampai seperti ini Nak, tapi gak...kamu melawan kamu marah sama ibu, kamu bilang bilang ibu pilih kasih lebih memilih Udin daripada kamu.


"Sekarang kamu menyalakan orang lain yang masuk ke hidupan Udin, kamu yang salah siapa suruh kamu meninggalkan mereka begitu saja, sampai susu kamu kemaren bengkak karena gak disusui oleh Faisol.


"Kamu intropeksi diri May, gak boleh kàyak gini aku ini ibu kamu walupun kamu gak pernah mendengarkan nasehat kamu tetap aku anggep anak," lanjut ibu membuat Maysaroh terdiam sejenak lalu ia bangkit dari duduknya berlalu ke kamar begitu saja.


"Melihat sifat anaknya yang keras kepala membuat ibu langsung menghembuskan nafas kasar.


"Sudah bu jangan terlalu dipikirkan,Maysaroh memang anaknya begitu," ucap ayah tiba-tiba membuat ibu menoleh.


"Ntahlah mas sampai kapan kita bisa memantau dia terus, kita uda tua," jawab ibu lalu duduk di sofa.


"Ntah aku juga bingung, setidaknya kita sebagai orang tua sudah berusaha mengarahkan dia ke yang lebih baik.Tapi karena dianya yang begitu mau gimana lagi," jawab ayahnya membuat ibu mengangguk.


"Iya sih Mas."


*****


" Mi."


"Iya Bu,"


"Emang tugas kuliah kamu gak ada?" tanya sasi membuat naumi menoleh


"Ada Bu, nanti malam aja masih lama juga kok dedlinenya." jawab Naumi membuat Sasi tersenyum lalu mengangguk.


"Capek gak bantu ibu?" tanya Sasi memancing anaknya membuat Naumi terkekeh.


"Apa sih Bu yang gak capek rebahan seharian aja capek." jawabnyab lalu membulat-bulatin kleponya.


"Um....Enak," gumamnya sambil memakan kue yang sudah dingin.

__ADS_1


"Manisnya pas gak?" tanya Sasi yang di balas anggukan oleh Naumi.


"Pas Bu, aku pengen deh nanti buka usaha kue buat ibu. Jadi ibu gak perlu keliling lagi kita bikin tokonya aja," ucap Naumi samnil berhayal membuat sasi tersenyum.


"Amin...makanya kuliah yang bener ya biar bisa bantu ibu nanti" ujar Sasi yang di balas anggukan oleh Naumi.


"Udah nih udah selesai kamu istirahat aja, Ibu mau keliling dulu" ucap Sasi sambil membersihkan tanganya lalu bersiap-siap hendak jualan.


"Gak usah kamu di rumah aja," larang Sasi.


"A.... Bu sekali aja please, mau ikut," rengek Naumi membuat Sasi menhela nafas panjang.


"Nanti kamu capek Nak,"


"Gak apa-apa," potong Naumi lalu ia bangkit dari duduknya.


"Kamu yakin mau ikut? Gak malu?" tanya Sasi membuat Naumi tersenyum.


"Ngapain Mimi malu kan gak nyuri." jawabnya membuat Sasi mau tidak mau mengangguk.


"Ya terserah kamu aja."


"Yes...Makasih Bu, ucap Naumi lalu ia berlari ke kamar membuat Sasi geleng-geleng.


"Setelah semuanya rapi sasi dan Naumi berangkat membawa kue yang baru saja mereka masak tersebut.


"Kue...Kue, enak baru mateng...!" ucap Naumi tanpa rasa malu sedikitpun membuat Sasi terkekeh.


"Eh Bu Sasi mau beli kue!" panggil ibu-ibu yang sedang ngerupi di warung sayur.


"Ayok kita kesana," ajak Sasi yang di balas anggukan Naumi.


"Alhamdulillah," gumamnya lalu mereka mendekati ibu-ibu tersebut.


"Mau berapa Bu? Tanya Sasi


"Um...Saya buatin 20 ribu ya mau di bawab ke rumah sama anak-anak."


"Saya 10 ribu ya,"


"Kalau saya 30 ribu campur semuanya.


"Siap sebentar ya," ucap Sasi lalu ia membungkus pesanan-pesanan itu di bantu dengan Naumi.


"Ini anaknya Bu Sasi?"


"Iya ini anak saya uda anak gadis alhamdulillah," jawab Sasi membuat ibu-ibu tersenyum heboh.


"Uda gede ya gak nyangka dulu dia masih sd pas di tinggal bapaknya." ujar mereka membuat Sasi menoleh melihat Naumi yang tampak tersenyum.


"Ini Bu pesananya," ucap Sasi memberikan satu persatu pada mereka.


"Iya terimakasih, ini uangnya.


"Makasih banyak Bu," ucap Naumi.


"Iya-iya semangat jualannya laris manis," ucap ibu- ibu tersebut lalu Sasi dan Naumi kembali jalan.


"Alhamdulillah ya bu sekali berhenti dapat 60 ribu," ucap Naumi yang di balas anggukan oleh Sasi.


"Mereka kembali berjalan sambil ngobrol-ngobrol hingga tidak terasa sudah satu jam mereka jualan.


"Masih banyak ya Bu?" tanya Naumi saat mereka berhenti sejenak


"Nggak ini udah tinggal sedikit lagi," jawab sasi.


"Di kafe atas ternyata Eky dan teman-temanya sedang ngopi seperti biasanya, saat ia menoleh ke bawah samar-samar ia melihat Naumi di pinggir jalan sambil membawa kue.


"Eh guys...Gua turun dulu ya mau beli sesuatu," ucap Eky buru-buru lalu ia berlari turun ke bawah.


"Mau lanjut lagi Bu?" tanya Naumi membuat Sasi menoleh lalu tersenyum mengusap kepala Naumi yang di balut jilbab.


"Anak ibu capek ya?" tanya Sasi membuat Naumi langsung mengeleng.


"Nggak mana ada Mimi capek maksud Mimi takutnya ibu mau istirahat dulu gitu," elak Naumi membuat Sasi terkekeh.


"Gak apa-apa istirahat dulu aja," ucap Sasi lalu meluruskan kakinya.


"Tanpa mereka sadari Eky yang di belakang mereka ternyata mendengar obrolan ibu dan anak itu.


"Ternyata benar ibunya jualan kue," ucap Eky dalam hati.


"Permisi...Mau beli kuenya."


"Deg


"Naumi mematung mendengar suara yang tidak asing baginya, begitu ia mendongak benar saja itu Eky.


"Hey...Naumi," ucap Eky pura-pura tidak tau membuat Naumi diam sejenak lalu tersenyum.


"Ikut jualan kah?" tanya Eky lalu ia duduk di dekat Naumi membuat Naumi kaget.


"Jangan duduk kak,kotor." larang Naumi tapi tidak dihiraukan oleh Eky.


"Nggak lah,"santai," jawabnya ia berusaha sebisa mungkin supaya Naumi tidak malu padanya.


"Ada kue apa aja bu,saya dari kemaren pengen banget yang manis-manis," lanjut Eky, Sasi yang mendengar itu malah tersenyum lalu membuka wadah kuenya lalu menunjukannya ke depan Eky.


"Tinggal ini jawab Sasi.


"Wah...mantap ini pasti, dari tampilannya menggoda banget,Ibu saya boleh makan langsung?" tanya Eky membuat Sasi terkekeh lalu mengangguk.


"Naumi hanya diam menyaksikan Eky yang terlihat sangat menikmati kue buatan ibunya.


"Um...Luar biasa ini rasanya original banget tanpa pengawet jadi pengen habisin semuanya," ujar Eky bercanda membuat Naumi tersenyum.

__ADS_1


"Itu dari ubi unggu kak, kalu ini dari singkong sama gula merah.


"Nah kalau yang ini dari tepung ketan sama satu lagi ini yang ini dari tepung terigu?" terang Naumi membuat Eky mangut-mangur sambil melahap kue di tanganya.


"Wow...Kamu bisa masaknya juga?" tangak Eky membuat Naumi cengengesan.


"Dikit kak,"


"Keren tau, saya malah pengen bisa bikin kue aduh pasti abis sama saya semuanya, saya pecintan kue-kue tradisional begini soalnya," ujar Eky membuat Naumi mangut-mangut.


" Teryata Mimi lembut juga ke cowok," ucap sasi dalam hati sambil memperhatikan keduannya yang tampak asik ngobrol.


"Diatas teman-teman eky malah bingung kenapa Eky duduk di bawah sana sambil makan-makan


"Eky ngapain sih disana ngemper lagi, mana makan di pinggir jalan duh...Eky...Eky," gumam bagus.


"Udah sih biarin," jawab temanya lalu mereka kembali mengobrol.


"Em....Bu saya beli semuanya boleh ya, mau saya bawa pulang ngasih mama saya, beliau juga pencinta kue begini sama layak saya," ucap Eky membuat naumi kaget.


"Kakak yakin semuanya?: tanyak Naumi yang di balas anggukan oleh Eky


" Iya si rumah saya itu banyak orang segini paling dapat dua kue doang per orang, saya aja udah makan lebih dari lima, ujar Eky membuat Naumi mangut- mangut.


" Nih Mimi masukin kotak semuanya," ucap Sasi membiarkan Naumi yang melayani Eky.


"Em...Bu kan beberapa hari lagi BEM mau ada acara nih di kampus, Ibu mau gak kira-kira kalau saya pesen kuenya dari ibu?" tanya Eky membuat Naumi kaget begitu juga Sasi.


"Bikin banyak maksudnya?"


"Iya bu jadi pesen ke ibu." jawab Eky membuat Sasi mengangguk paham.


"Berapa banyak biasanya?" tanya Sasi membuat Eky kembuka ponselnya melihat anggaran buat kue.


"Kalau disini butuh 500 kue Bu dan ini satu jenis, sedangkan kami biasanya masukin ke kotak itu sekitar 4 jenis kue jadinya em...kurang lebih 2000 kue lah bu.


Misalnya 500 kue ubi unggu, 500yang ini dan yang lain sampe 4 jenis," terang Eky membuat Sasi langsung mengangguk.


"Bisa, ibu akan buatin." jawab Sasi membuat Naumi menoleh melihat ibunya.


"Em anggaranya disini sekitar satu sampai dua jutaan bu buat kue." lanjut Eky membuat Naumi mendengar nominal itu


" Tenang aja kalau masalah bayaran, mungkin nanti ibu akan pakek tabungannya Mimi dulu untuk modal bikin sebanyak itu,"ujar sasi yang di balas anggukan oleh Eky.


"Bisa berati ya Bu,"


"Iya bisa," jawab sasi.


"Ok untuk komunikasihnya nanti saya lewat Naumi aja bu," ucap Eky yang di balas anggukan oleh Sasi.


"Jadi berapa ini?" tanya Eky


"Em totalnya 70 ribu kak," jawab Naumi membuat Eky mangut-mangut.


"Ini," ucapnya sambil menyerahkan selembar uang merah.


"30 lagi bentar kak.


"Eh gak usah kan tadi saya udah makan banyak juga," lanjut Eky.


"Tapì kak---


"Udah gak apa-apa buat ongkos kamu besok," lanjut Eky lalu ia bangkit dari duduknya.


"Bu saya ke atas dulu ya," pamit Eky yang di balas anggukan Sasi.


"Duluan mi,"


"Iya kak, makasih banyak ya," ucap naumi yang si balas anggukan oleh Eky


"Setelah Eky pergi Naumi memberikan yang 100 ribu tersebut pada Sasi


"Mimi kenal?" tanyak Sasi yang di balas anggukan Naumi.


"Hu um itu presiden BEM falkutas Mimi,yang tadi malam nganterin Mimi pulang," jawab Naumi membuat Sasi mengangguk paham.


"Oalah, itu," gumamnya


"Udah kita pulang yuk bu," ajak Naumi yang di balas anggukan oleh Sasi lalu mereka bangkit sambil menunggu angkot.


"Tanpa mereka sadari diseberang jalan ada sepasang mata yang melihat mereka yaitu Ubay, ia sampai menipikan mobilnya begitu melihat mantan istrinya tersebut.


"Ternya kamu benar -benar keras kepala Sasi bukanya datang padaku meminta maaf, supaya di kasih nafka kamu malah rela bekerja seperti itu," gumamnya lalu kembali memakai kacamatanya kemudian menutup kaca mobilnya.


****


"Disisi lain, Dini melihat detik kemudian ia langsung duduk sambil melihat sana-sini.


"Aku ketiduran," gumamnya lalu ia merapikan kembali jilbabnya lalu ia bangkit dari ranjang.


Ia melihat Faisol masih tertidur pulas, bibirnya tersenyum lalu mengayun Faisol diam -diam setelah itu Dini hendak keluar mencari Udin.


"Belum sempet ia melebarkan pintu, Dini berhenti lalu melihat Udin dari sela-sela pintu, ia melihat Udin tanpa serius dengan laptop di depannya sambil membuka beberapa file.


"Udin ngapain di meja pak Edi," emangnya dia mengerti pekerjaan kantor begitu?" tanya Dini dalam hati, ia masih mengamati Udin.


"Sedangkan Udin yang masih fokus dengan berkas-berkasnya ia tidak sadar jika Dini sedang mengamati dirinya.


"Mbak Dini belum bangun sama Faisol juga," ucap dalam hati karena belum mendengar suara apapun dari kamar," ia sengaja tidak menutup pintu dengan rapat supaya bisa mendengar Faisol atau Dini bangun.


"Udin kamu ngapain?"


"Deg!


Hua....guys...Aku pengen kue manis, aku nulis cerita tentan naumi sam ibunya sambil membayangkan kue, apa lagi pas eky maka kue aduhhhh... Rasanya enak banget kali

__ADS_1


Ohh iya urusan lulus kontak engak bodoh amat dahh


__ADS_2