Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Kantor


__ADS_3

"Hah?"


"Eh, iya-iya, Udin lagi nguli tapi kali ini tempatnya katanya lumayan jauh makanya saya minta Faisol sama saya aja." jawab Indri membuat Dini mengangguk paham.


"Pantas saja aku tungguin gak ada-ada di rumahnya.Berapa hari Bu ngulinya?" lanjut Dini.


"Kurang lebih tiga hari sih kayaknya soalnya katanya dia senin kuliah." jawab Indri.


"Iya sih Bu."


" Ini buat acara mahasiswa baru juga kah proposal ini?" tanya Indri yang di balas anggukan oleh Dini.


"Iya Bu ini buat acara mereka minggu depan, kayak seminar awal gitu Bu tapi kami butu dana." jawab Dini.


"Iya -iya nanti saya omongin sama suami saya."


"Iya Bu,Bu...Aku boleh kan disini dulu masih kangen banget sama anak kecil ini." pinta Dini membuat Indri terkekeh.


"Boleh lah datang aja kesini gak apa-apa kalau kamu mau ketenu Faisol, karena Faisol saya yang jagain kalau Udin kuliah atau kerja." jawab Indri membuat Dini semangat.


"Siap Bu."


"Eh....tadi uda nau tidur kok gak jadi sih sayang?" ucap Dini begitu menunduk melihat Faisol yang tampak asik memainkan ujung jilbabnya.


"Ini anak paling baik budi, jarang nangis alhamdulillah pokoknya gemesin bangetb," timpal Indri sambil menguyel- uyel pipi Faisol.


"Ma...


"Apa lagi mau roti apa mau buah?" tanya Indri karena Faisol menadahkan tanganya.


"Udah bisa minta ya anak bunda ini masyallah, ini bunda punya roti buat Faisol." lanjut Dini lalu merogoh tasnya mengambil roti lalu memberikannya pada Faisol.


"Lama Dini di kantor Edi hingga ia tidak sadar hari sudah mau magrib.


"Bu aku sepertinya pamit pulang dulu ya bisa-bisa bablas nanti di sini kalau ngeladenin anak kecil ini terus," pamit Dini yang di balas anggukan oleh Indri.


"Hati-hati ya besok datanģ lagi aja kalau emang masih kangen sama ini bocah." ucap Indri membuat Dini terkekeh lalu mengangguk.


" Bunda pulang ya sayang..." ucap Dini sambil mencium kening Faisol yang sudah terlelap setelah itu ia menyalam tanga Indri.


"Hati-hati ya."


"Iya Bu."


"Dini pulang dengan perasaan senang rindunya pada Faisol sudah terbayar.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, dari mana aja kamu Dini malam begini baru pulang?

__ADS_1


"Deg!!!


"Dini langsung menoleh kaget mendengar suara yang tidak asing baginya.


"Mama."


"Kenapa?Alasan apa lagi yang mau kamu bilang? Jangan bilang selama mama dan papa keluar kota kàmu seperti ini terus?"cecar mamanya membuat dini menghela nafas panjang.


"Mama pulang kapan?"


" Gak usah mengalikan pembicaraan Dini, dari mana aja kamu? Kamu ini masih anak gadis dini!" tegas mamanya membuat Dini diam sejenak.


"Dini abis pulang rapat BEM Ma, biasa minggu depanbmau ada acara," jawab Dini.


"Rapat BEM- rapat BEM skripsi kamu bagaimana? Tegas mama membuat Dini lagi-lagi hanya bisa menahan kesal.


"Mama bisa gak jangan kayak gini, aku baru nyampek di omongin baik-baik bisa gak Ma?" ujar Dini.


"Gak bisa! Kamu dari tiga bulan kemaren mama perhatiin gak ada niatan mau lulus malas-malasan teeus.


"Organisasi itu gak bisa selamanya jadi bagian hidup kamu, kamu punya masa depan menikah punya anak, kamu ini perempuan!" omel mamanya membuat Dini tanpa sadar menangis.


"Gak usah nangis Dini! Mama gak butuh air mata kamu."


"Ma..Ada apa sih ribut-ribut terus," ucap papa tiba- tiba dari belakang Dini menoleh.


"Ma.... Bisa gak jangan marahin Dini terus, dia itu perempuan dan butuh proses pelan-pelan untuk berubah, gak gini caranya." ujar papa membuat mama langsung melipat kedua tangannya.


"Inilah papa! Papa selalu saja sok bijak dan baik di depan anak, lihat inilah hasilnya karena papa terlalu baik.


"Dia bahkan tidak memikirkan skripsinya, Mama gak mau tahu dia harus sudah menikah sebelum usia 27 tahun.


"Mama gak mau dia jadi perawan tua cuma gara-gara organisasi!" kesal mama berapi-api membuat papa terdiam sejenak.


"Iya Ma nanti kita obrolin baik-baik jangan marah-marah terus, nati mama sakit lagi." ujar papa membuat mama mengatur nafasnya.


"Uda ayo kita istirahat, biarkan Dini istirahat dulu." ujar papa lalu membawa istrinya ke kamarnya.


"Disisi kain Dini baru saja selesai sholat menenangkan dirinya, dari SMA hingga sekarang ia memang tidak pernah akur dengan mamanya karena selalu berbeda pendapat.


"Sekarang Dini sedang merebahkan tububya di ranjang sambil memejamkan matanya.


"Setiap orang punya masalah masing-masing saat kamu masalahnya di internal keluarga, ada yang lebih parah dari kanu seperti Udin, ucap Dini dalam hati lalu ia kembali membuka matanya.


Ia meraih ponselnya lalu mencoba menghubungi Udin, namun hasilnya nihil Udin tidak menjawab telepon darinya.


( Udin ) Dini mengirimkan pesan berharap Udin membalas pesannya, tapi lagi-lagi dini hanya bisa menghela nafas panjang.


" Lagi sibuk banget kayaknya sampe buka ponsel aja gak sempet.gumamnya lalu kembali meletakan ponselnya di meja rias kemudian meredupkan lampu.

__ADS_1


*****


"Tiga hari kenudian Dini benar-benar sibuk mempersiapkan acara untuk minggu depan, hingga ia tidak bisa menjenguk Faisol selama dua hari kemarin.


"Dini proposal yang di perusahaan kemaren gimana?" tanya Eky membuat Dini yang sedang membantu bendara menghitung pengeluaran langsung menoleh lalu menepuk jidatnya.


" O iya lupa lagi belum sempat mampir kemaren, nanti deh sekalian aku kesana." ujar Dini yang di balas anggukan oleh Eky.


"Jangan lama-lama ya langsung rekap aja nanti biar gak ada yang ketinggalan," suru Eky.


"Iya."


"Sore hari Dini menuju kantor Edi untuk mengetahui kejelasan proposal yang sudah ia berikan.


"Sebelum turun dari mobil Dini membenarkan jilbabnya sebentar lalu ia turun dari mobil.


"Mau ketemu siapa Mbak?" tanya Robi


"Eh Pak, saya mau ketemu Pak Edi lagi? Sudah ada kah? Tanya Dini.


" Oh sudah-sudah Bu baru aja sampe tadi jam 1 siang." jawabb Robi.


"Izin ke atas ya."


"Iya silahkan Mbak, uda ada obrolan kan sebelumnya?" tanya Robi memastikan yang di balas anggukan oleh Dini.


"Sudah barusan saya chat istri Pak Edi." lanjut Dini.


"Baik, silakan Mbak naik aja."


"Dini naik ke atas tidak lupa oleh-oleh di tangannya untuk Faisol.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


" Permisi." ucap Dini sopan lalu ia membuka pintu.


"Iya silahkan dusuk." ucap Edi mempersilakan Dini duduk.


"Ma-ma...Ma.." tiba-tiba Faisol heboh sendiri begitu melihat Dini, yang tadinya ia sudah lelah berjalan di dalam sepeda bayinya.


"Sekarang Faisol bangkit lagi mendekati Dini membuat Dini tersenyum lebar lalu merentangkan kedua tanganya.


"Udin yang berada di balik lemari membereskan bekas -berkas langsung bingung kenapa anaknya begitu heboh, belum sempet ia menoleh tiba-tiba....


"Sayang Bunda..." panggil Dini dengan gemasnya membuat Faisol tertawa riang.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2