
"Mbak mau pulang sekarang?" tanya Udin membuat Dini menoleh melihat Faisol yang sudah uring-uringan di ranjang.
"Bentar lagi lah, belum tidur itu takut nangis, jawab Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Sekarang Mbak gak pacaran serius?" Mana mungkin sih seorang mbak Dini gak ada yang suka?" tanya Udin membuat Dini kembali menoleh.
"Nggak pacaran, tapi ada satu yang selalu datang ke rumah nama Oval dia itu sok akrab banget sama papa dan mama tapi di belakang busuk." jawab Dini
"Busuk? Kok bisa?"
" Iya, dia cuma manfaatin orang tuaku ajar biar di setujuin dan ujung-ujungnya dia mata duitan, udahbl pernah sekali saya turuti jalan eh ujung-ujungnya kamu tau apa, saya yang bayarin semua belanjaan dia.
"Bukannya saya gak iklas ya tapi aneh aja dia yang ngajak jalan dia yang minta di bayarin, matrealistis banget pokoknya ke rumah bawaannya pengen langsung ngusir. Terang Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Macem-macem ya Mbak timpal Udin.
"Makanya,saya udah ampun banget lah sama laki-laki gak ada yang beres dari semester satu tuh, makanya nih ya gimana ya bukannya sok cantik atau gimana tapi para gak bertanggung jawab ada maunya doang," lanjut Dini membuat Udin mengangguk.
" Iya sih Mbak, tergantung orangnya sih mungkin ya mereka maunya begitu ya supaya mbak sadar kalau mereka itu bukan orang baik mbak sadar kalau bagus mbak dengan begitu mbak langsung bisa menilai kan gak sandiwara dan alhamdulillah mbak gak terjebak mudah-mudahan suatu saat mbak dapat yang lebih baik lagi, " ujar Udin membuat Dini mangut-mangut.
"Amin ya udah ngeri-ngeri sedap saya kalau sama cowok bawaannya curiga mulu," ujar Dini.
"O iya? Apa sama saya juga gitu? Kan secara mbak kalau datang kesini selalu bawa apa gitu buat Faisol nanti mbak nyangkanya saya begitu lagi," tanyak udin membuat Udin terkekeh.
"Beda cerita, Faisol mah emang saya yang mau kalau gak bawa apa-apa yang mau kalau gak bawa apa-apa tuh rasanya ada yang kurang aja kalau mau ketemu Faisol setidaknya ngasih makanan aja," jawab Dini.
"Huh....Syukurlah karena saya juga sama kayak Mbak, Maysaroh kan istri yang super duper matrealistis juga taunya uang mulu.
"Makanya dia ninggalin saya kan karena selalu ngerasa kurang dan malu sama pekerjaan saya, itu alasan utama dia gak ada yang lain gara-gara materi?" curhat Idin membuat Dini terkekeh.
" cocok jadi ya kalau Maysaroh di satuin sama Oval mampus dah," ledek Dini membuat Udin tertawa.
"Auto minjam sana-sini timpal Udin lalu mereka tertawa.
"Yah...hiks..."Faisol mulai serba salah di ranjanng bahkan ia sudah guling-gulung membuat Dini dan Udin menoleh.
"Faisol....Kenapa hey?" tanya Udin membuat Faisol berbalik lalu merentangkan kedua tangannya meminta di gendong.
"Um....Kamu paling jago akting melas-melas gini," ujar Udin lalu ia mengendong Faisol membawanya ikut duduk di sofa.
"Udah abis rotinya?" tanya Dini melihat tangan faisol kosong.
"Nggak Mbak, itu di buang sama dia uda bosan kayaknya." ucap Udin membuat Dini tersenyum lalu menguyel-uyel pipi Faisol.
"Kamu maunya gimana anak manis tanyak dini membuat Faisol geleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Aduh udah salah ini," ucap Dini melihat Faisol serbah salah.
"Saya buatin susu sebentar mbak, mintak tolong gendong," ucap Udin yang di balas anggukan oleh Dini ia mengambil alih Faisol menidurkannya di gendongannya.
"Diam... Gak boleh bergerak," ucap Dini pura-pura galak membuat Faisol diam, detik kemudian ia memegang gunung kembar Dini membuat Dini melotot.
"Heh ...kamu masih kecil ya gak boleh, " omel Dini membuat Faisol tertawa.
"Kenapa dia Mbak?" tanya Udin membuat dini buru-buru menurunkan tangan faisol.
"Kenapa dia mbak?" tanya udin membuat Dini buru-buru menurunkan tangan Faisol.
"Nggak, gak apa-apa, " jawab Dini.
"Sebentar ya susunya di dingiiñ dulu," ucap Udin lalu kembali duduk di dekat Dini.
"Berati Maysaroh menyusui Faisol gak nyampek lima bulan ya?" tanya Dini di balas anggukan oleh Udin.
"Hum ...gitulah Mbak , saya malas bahas Maysaroh terlalu sakit hati saya.Kalo saya ingat momen itu rasanya saya gak ingin lagi melihat Maysaroh walaupun sedikitpun.
Tapi ya gak bisa besok aja pasti ketemu membuat Dini mangut-mangut.
"Ya gitulah setiap orang beda cobaan,kalau saya lebih ke orang tua saya sekarang.
Ok dua bulan ini saya masih aman karena belum wisuda setelah wisuda wah.... Saya tidak tau apa yang akan terjadi, iya kan anak kecil?" ujar Dini membuat Udin mengangguk.
"Iya sih, Mbak udah nyoba-nyoba dataf s2nya?" tanya Udin.
"Belum sih masih nyari-nyari informasih dulu," jawab Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Sukses la mbak ya gini-gini aja," ucap Udin membuat Dini memicingkan matanya.
"Ayah kamu aneh tau Fai, minderan mulu gak boleh gitu padahalkan? Semua ada jalannya Jangan merasa paling sedih bisa gak," ledek Dini.
"Hum...." dehem Faisol sambil memainkan jilbab Dini.
"Bukan minder mbak,ya saya lulus s1 ini aja berasa lailatul qadar nantinya karena ini impian saya dari dulu bisa berkuliah." ujar Udin membuat Dini tersenyum.
"Iya paham, semangat aja jalanin hidup nikmati prosesnya, sebenarnya dengan kita kuliah bukan untuk gaya-gayaan atau sombong ya.
"Kalau versi aku dengan terjun dunia perkulian melatih mental untuk lebih dewasa, lebih bijak dalam menghadapi segala sesuatu dan lebih matang aja mengurangi egois dan lain-lain," terang Dini.
"Bener sih mbak,"
"Pengumuman beasiswa kamu kapan?" tanya Dini membuat Udin sedikit berpikir.
"Kapan ya?" seminggu lagi kayaknya Mbak," jawab Udin
******
"Disisi lain, setelah.diantarkan pulang oleh Eky, Naumi seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, ia bahkan senyum-senyum sendiri di kamar.
"Akh....Tidak-tidak sepertinya aku sudah gila, mana mungkin si presiden itu suka samaku..." gumamnya sambil menepuk -nepuk jidatnya pelan.
Drt...Drt....Drt.
"Siapa lagi ini ganggu khayalan orang saja!" kesalnya lalu ia mengambil tasnya.
__ADS_1
(Hallo)
(Hallo, mimi)
Deg!
(Ngapain nelpon!) bentak Naumi , yang menghubungi adalah ayahnya
(Mimi tenang dulu ayah mau ngomong baik-baik sama kamu, gak ada ibukan?) Naumi langsung mengembungkan.
(Ngapain nanya-nanya ibuku!)
(Ok maaf, Ayah mau ngajak kamu ketemu besok malam ada yang ingin ayah katakan)bujuk ayahnya membuat Naumi langsung mengelengkan.
(Katakan aja sekarang gak perlu harus ketemu, aku gak mau) jawab Naumi, tersengar helaan nafas panjang dari ayahnya.
(Kenapa Mas?Ada masalah?)
"Air mata Naumi semakin deras mendengar suara perempuan itu, iya tau pasti itu ibu tirinya
(Ayolah Nak kita harus ketemu kamu boleh bawa temen, bodyguard atau apa silakan ayah gak marah karena ayah cuma ingin berbicara gak lebih) bujuk ayahnya membuat Naumi langsung menghapus air matanya dengan kasar.
(Mau ngomong apa sih? Segala harus ketemu,Ayah mau nunjukin istri baru ayah kah?
Mau bilang kalau ibu baru aku?) cecar Naumi.
(Nggak sayang ayah mengerti perasaan kamu maafin ayah)
(Gak usah minta maaf aku gak butuh maaf ayah macam-macam bawa teman kamu aja) usul ayah.
(Tentu aja aku takut,aku lebih percaya sama orang yang gak aku kenal di banding sama ayah)
Deg!
(iya tidak apa,apa kamu berniat membawa ibu kamu?)
(Gak! Gak akan dan jangan harap aku tidak akan membuat ibu terpuruk lagi cuma karena laki-laki kayak ayah) tegas Naumi
(Oh ternyata anak ayah udah dewasa sekarang sudah bisa membela orang tuanya)puji ayahnya membuat Naumi tersenyum miring.
(Bisa membela ibuku just ibu gak ada yang lain!) lanjut Naumi.
(Ok sayang gak apa-apa besok malam di restoran greenland ya, Ayah tunggu jam 8 malam)lanjut ayahnya
Tut!
"Naumi langsung memutuskan sambungan rasanya ia sangat muak mendengar ucapan ayahnya itu.
"Mimi
"Naumi buru-buru menghapus air matanya lalu ia membuka pintu kamar.
Ceklek
"Mimi,Ibu mau berangkat jualan dulu kamu kalau mau keluar jangan lama-lama ya pintunya jangan lupa di kunci," ucap ibu membuat Naumi mengangguk tapi matanya gak bisa di bohongi rasanyabia ingin menangis.
"Naumi kamu kenapa?Itu mata kamu kenapa?Ngapain?" tanya ibunya bingung membuat Naumi mengangguk.
"Nangis bu lagi nonton film babang ganteng soalnya sedih," jawab Naumi berbohong sambil mengusap air matanya membuat ibunya terkekeh.
"Ada-ada aja kamu'ya udah ibu berangkat ya hati-hati di rumah," lanjut ibunya sambil mengacak-ngacak rambut Naumi.
"Iya bu hati-hati semoga cepat habis, biar ibu cepat pulang," lanjut Naumi lalu menyalami tangan ibunya
"Amin doain ya Nak," lanjut, ibu begitu ibu pergi Naumi menguci pintu lalu ia melihat ibunya dari balik cendela.
Detik kemudian ia luruh ke lantai menumpakan tangisannya yang sedari tadi ia tahan-tahan.
"Sesak ya allah," ucapannya sambil menepuk-nepuk dadahnya pelan.
"Keesokan harinya Udin sudah sampai di pengadilan terlebih dahulu sambil menggendong Faisol.
"Doain ayah ya nak,semoga bisa memenangkan hak asuh kamu" ucap Udin dengan perasaan campur aduk.
"Ia benar -benar takut kehilangan Faisol, berulang klalii ia mengatur nafasnya sambil menciumi putranya.
"Ma...ma--ma..." tiba-tiba Faisol heboh membuat Udin bingun lalu ia mengikuti arah pandangan flFaisol.
"Dan benar saja dari kejahuan tampak Dini sedang berjalan ke arah mereka sedangkan faisol sudah merentangkan kedua tangannya
"Sabar sayang"Bundanya masih jauh?" ucap Udin lalu memperbaiki baju Faisol.
"Dari Mbak jauh dia udah heboh sendiri ini, saya aja gak liat tadi," ujar Udin membuat Dini menaikan kedua alisnya.
"Benarkah? Faisol kenal bunda dari jauh, masyaallah anak pintar ya," gumam Dini.lalu menciumi pipi faisol.
"Ayo duduk Mbak," ajak Udin
"Mas..."
"Panggilan itu membuat Udin dan Dini mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Kenapa?" tanya Udin dingin membuat Maysaroh mangut-mangut.
"Ternyata kamu keras kepala ya mas, masih kekeh dengan gugatan ini jangan menyesal nanti kalau anak itu kembali pada ibunya!, tegas Maysaroh membuat Dini semakin mendekap Faisol.
"Jadi mau kamu gimana?Kita rujuk gitu? Saya gak bodoh May apapun akan saya lakukan demi lepas dari kamu!" ucapan itu keluar dari mulut Udin.
Deg!
"Demi perempuan ini?" tebak Maysaroh sambil menunjuk Dini.
"Iya demi dia, always dia," jawab Udin membuat Maysaroh tertawa mengejek.
__ADS_1
"Jangan salah mas perempuan itu penuh dengam tipu daya, mungkin sebelum mendapatkan kamu dia akan baik sebaik-baiknya sama kamu dan Faisol.
"Tapi begitu kalian bersatu kita gak ada yang tau dia akan seperti apa dan anakmu akan merasakan pahitnya ibu tiri,"
Terang Maysaroh membuat Dini mengerutkan keningnya sedangkan Udin melihat Dini sekilas lalu tersenyum ke arah Maysaroh
"Ya bisa jadi, tapi saya masih lebih percaya Dini yang ngurusin Faisol di banding kamu, ya bukan apa-apa ya nih lihat dulu Faisol gak seginikan?Kecil kurus kayak gak terurus sekarang lihat alhamdulillah semua orang bilang di gembul," ujar Udin membuat Maysaroh mengeleng
"No itu bertumbuhan mas dulu memang badang Faisol kecil sekarang ya dia masa.pertumbuhan ya wajar,"sanggah Maysaroh membuat Udin menghela nafas panjang percuma debat dengan orang seperti dia tidak akan ada ujungnya.
"Udalah saya malas debat sama kamu pikirkan jawaban kamu nanti," suruh Udin membuat Maysaroh mangut-mangut.
"Tanpa kamu suruhpun semuanya sudah aku setting biar kamu kalah di persidangan nanti," jawab Maysaroh dengan santainya membuat Udin menganguk.
"Tentu karena segala sesuatu yang.di ingikan harus di susun sebaik mungkin.dan aku sudah menyusun itu bagaimana caranya biar kamu kalah di persidangan.dan Faisol jadi miliku
"Aku yakin tanpa faisol kamu gak bakalan bisa seperti sekarang ini, kamu dicintai di sukai banyak orang berawal karena Faisol bukan diri kamu sendiri!" mulut tajam Maysaroh mengeluarkan kata-kata itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.
""Ok cukup," ucap Dini yang sedang mengotak-ngatik ponselnya.
"Saya juga sudah punya bukti yang kuat kalau kamu bakal curang, rekaman ini akan jadi saksi nanti!"tegas Dini sambil menunjukkan ponselnya, rupanya sedari tadi ia merekam percakapan keduanya.
Deg!
"Licik! Apa hak kamu ikut campur?" emosi Maysaroh.tiba-tiba naik membuat Udin langsung berjalan kedepan Dini membuat dini tertutup olehnya.
"Sana masuk gak usah marah-marah," suruh Udin membuat Maysaroh mengeleng tidak percaya.
"Sama-sama licik!"
"Kamu lebih licik, kamu yang mulai duluan bukan coba kamu diam gak usah sombong dengan rencanamu, pasti gak akan kejadian kan.
"Tapi kan aku pernah bilang allah itu adil may.lihat sekarang kamu sendiri yang menghancurkan diri kamu, sudah sana," suruh Idin membuat Maysaroh mengepalkan kedua tanganya.
"Bagaimanapun juga kamu gak bakalan menang,cam kan itu!" tegas Maysaroh yang di balas anggukan oleh Udin.
"Terserah sana masuk," lanjut Udin setelah Maysaroh pergi Udin berbalik melihat Dini.
"Nih kamu bawa aja nanti ponselku,jadi bukti," ucapan Dini memberikan ponselnya.
"Makasih ya Mbak, saya benar-benar gak kepikiran kesana tadi," ujar Udin membuat Dini tersenyum miring.
"Dini gitu loh,emang Udin yang masih banyak belajar," ledek Dini membuat Udin melotot
"Udin..."
"Mereka kembali menoleh melihat Edi dan istrinya datang.
"Pak, Bu,"
"Gimana aman?" tanya Edi membuat Udin menghela nafas panjang.
" Gimana ya Pak,saya masih takut sama deg-degan juga," jawab Udin membuat Edi menaikan alisnya sebelah.
"Kok masih takut sih kan saya udah bilang santai aja yang penting jujur nanti," ujar Edi membuat Udin mangut-mangut.
"Pak Edi..."
"Eh pak Kamim," sapa Edi lalu berjabat tangan dengan Kamim
"Ini keluarga saya yang saya bilang kemaren tolong di bantu ya nanti," ucap Edi sambil menunjuķ udin membuat udin tersenyum lalu menyulurkan tanganya.
"Udin pak," ucap Udin yang di balas anggukan oleh Kamim.
"Insyaallah dibantu saya udah tau kok penyebabnya semua dari Pak Edi jadi insyaallah lebih mudah lah nanti, apalagi sekarang permasalahannya anak ya.
"Kita juga sebagai kuasa hukum gak sembarangan menentukan hak asuh anak karena itu menyangkut masa depan anak," ucap Kamim membuat Udin lega mendengarnya.
"Iya Pak terima kasih banyak mohon bantuanya, ucap Udin yang di bals anggukan oleh Kamim.
"Ini anaknya?" tanyak Kamim sambil menunjuk Kaisol yang berada di gendongan Dini.
"Iya pak, ini anaknya," jawab Udin membuat Kamim mangut mangut.
"Ya sudah kalau begitu mari kita masuk sebentar lagi sudah mau di mulai." ajak Kamim
"Em...Pak saya izin ke toilet sebentar ya," ucap Udin yang di balas anggukan oleh Kamim
"Iya jangan lama-lama."
"Tanpa membuang waktu Udin langsung buru-buru ke toilet untuk mengambil wudhu dan menenangkan hatinya
Untuk sesaat ia memandangi wajahnya di kaca toilet sambil mengatur nafas bekali-kali
"Huh...Insyaallah bisa," gumamnya lalu ia keluar dan kembali berjalan menuju ruang sidang.
"Dari kejauhan ia melihat Dini sedang menunggunya di depan ruangan.
"Kok kalian gak masuk?" tanya Udin membuat Dini langsung bangkit dengan Faisol yang masih setia di gendongannya.
"Nunggu kamu,biar sama-sama," ucap Dini yang di balas anggukan oleh Udin lalu mereka masuk kedalam.
"Sebelum maju ke depan Udin menunduk menyamakan tingginya dengan Faisol
"Doain Bapak ya nak,jangan rewel ya, ucap Udin lalu menciumi Faisol
"Good luck Udin , bismillah pasti bisa," ucap Edi membuat Udin menoleh lalu mengangguk.
"Sedangkan Maysaroh yang melihat itu jelas saja ia sangat cemburu banyak yang mendukung Udin.Apalagi melihat kedekatan Dini dan Udin rasanya ia ingin menjambak Dini.
"Ini semua gara-gara pelakor itu coba dia gak masuk ke kehidupan mas Udin pasti semua gak sampe begini!
"Jangan lupa kasih penilai kak ya
__ADS_1
dan maukan biar aku bisa upp lagi