Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Salah Sasaran (target)


__ADS_3

"Hah?"


"Mana ada aku pintar kak, itu aja aku kaget kenapa bisa di jalur undangan begitu." jawab Naumi membuat Eky mangut-mangut.


"Permisi, ini pesanannya." ucap pelayan tersebut.


"Iya silakan Mbak," jawab Eky.


" Setelah makanan terhidangkan di meja, Eky melihat Naumi yang tampak bingung.


" Kenapa?Gak suka ya?" tanya Eky membuat Naumi mendongak


"Eh.... Nggak kak bukan gak suka masih panas," jawab Naumi membuat Eky mangut-mangut.


" Kamu sekelas sama cowok tadi?" lagi-lagi Eky mencari topik pembicaraan supaya tidak canggung.


"Iya kak satu kelas,"


"Akrab banget udah kayak orang pacaran," ujar Eky membuat Naumi melotot.


" Ogah!Om-om gak lah," ketus Naumi membuat Eky terkekeh.


"Kok kamu manggil dia om sih lucu tau gak," ucap Eky sambil terkekeh.


"Ya emang om-om Kak, dia uda tua itu umur 28 atau 29 ya lupa deh aku intinya mah tua." jawab ,Naumi membuat Eky sedikit kaget, namun detik kemudia ia bodo amat.


" Em....Gak tau dong itu namanya kalau misalnya dia punya anak hot dady." lanjut Eky.


"Emang dia punyak anak," jawab Naumi datar membuat Eky tersedat.


"Hah?"


"Iya om kuli punya anak." ulang Naumi membuat Eky si paling manusia bodo amat langsung penasaran.


"Masa sih? Berarti dia udah nikah?" tanya Eky semakain penasaran.


"Ya iyalah kak dia punya anak karena uda nikah," jawab Naumi membuat Eky mangut-mangut.


"Em....Abis ini kamu mau kemana?" tanya Eky sambil menyendokkan nasi ke mulutnya bersama dengan Naumi menyendokan bubur ke mulutnya.


"Em....Pulang sih kak." jawab Naumi


" Mau saya anter?"


" Eh gak usah kak, aku naik angkot aja." tolak Naumi.


" Rumah kamu memang di mana?" tanya Eky lagi.


"Di jalam mawar sih kak gak jauh kok," jawab Naumi.


" Nah kebetulan saya juga setiap hari lewat sana tau, itu jalan menujuh rumah saya di jalan cempaka." jawab Eky membuat Naumi mangut-mangut.


"Oh...." ucapnya sambil mulutnya membentuk huruf o.


" Orang tua masih ada?" lanjut Eky membuat Naumi berhenti makan lalu minum.


"Em....Ada tapi broken." jawab Naumi sambil tersenyum.


Deg!


" Broken?"


" Hu'um dehem Naumi membuat Eky ikutan berhenti makan, ia merasa pertanyaannya kuràng tepat.


"Sorry."


"It 's ok kak," jawab Naumi sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Kamu bareng siapa?" tanya Eky ntah kenapa ia merasa hari ini bukan Eky yang sesungguhnya.


"Ibu,"


"Dan ayah?" lanjut Eky, terlihat Naumi menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum kemudiam menggeleng.


"Ntahlah....terakhir dapat kabarnya nikah lagi masalah tinggal sama siapa dan di mananya aku gak tau." jawab Naumi membuat Eky mangut-mangut.


"Yang awalnya niatnya ingin menggombal dan menjadikan Naumi mangsa selanjutnya malah berbalik, untuk kali ini ia tidak bisa melakukan itu.


" Pernah pacaran?" tanya Eky membuat Naumi tertawa lalu mengeleng.


"Nggak kak." jawab Naumi santai.


"Kenapa?"


"Gak percaya aja kalau ada laki-laki yang benar-benar baik di dunia ini." jawab Naumi sambil menggigit bibirnya sekilas.

__ADS_1


"Kamu trauma?eh maksud saya trauma karena kejadian orang tua?" tanya Eky lagi membuat Naumi yang awalnya canggung sedikit demi sedikit lebih santai.


"Iya itu alasannya pertama yang kedua jika aku bisa menafkahi diriku sendiri kelak ngapain bergantung sama laki-laki yang ujung-ujungnya bakal ngerasa perempuan beban.


"Aku gak mau itu terulang lagi cukup mama yang merasakan itu, aku tidak mau." terang Naumi membuat Eky mengangguk paham maksud adik tingkatnya itu.


"Tapi mi gak semua laki-laki seperti yang kamu bayangkan." ucap Eky membuat Naumi mengangguk.


" Betul semua orang yang bertemu denganku pasti ngomong begini, tapi orang-orang tidak merasakan apa yang aku rasakan makanya mudah ngomong gini.


" Di mulut mungkin aku bisa iya-iya aja seolah-olah menerima keberadaan laki-laki, tapi hati gak bisa bohong kak, luka mendalam ini susah untuk di musnahkan dan hanya aku yang paham rasanya bagaimana."


Jleb!


"Iya sih, ya itu balik lagi ke kamu sih intinya berusaha aja menjadi kebih baik." lanjut Eky karena ia sudah tidak tau harus ngomong apa.


"Saya anter ya sekalian saya lewat kok." ajak Eky lagi membuat Naumi mengangguk.


"Disisi lain, Udin dan Dini sudah sampai di kantor.


"Sebentar ya mbak saya jemput Faisol ke dalam apa mbak mau ikut?" tanya Udin yang di balas gelengan oleh Dini.


"Gak usah deh saya malu ini dandanan saya masih begini." jawab Dini yang di balas anggukan oleh Udin, sekiranya Dini ikutpun pasti mereka akan di goda habis-habisan oleh Indri dan Edi.


"Udin masuk ke dalam menjemput putranya.


"Assalamualaikum."


Ceklek!


"Walaikumsalam eh Udin udah selesai kuliahnya?" tanya Edi yang sedang sibuk dengan kerjaanya.


"Iya pak baru aja selesai tapi masih ada urusan, saya izin ya pak?" ucap Udin yang dibalas anggukan oleh Edi karena Udin sudah mengerjakan semua tugasnya kemaren.


" Faisol dimana pak?"


" Ada di kamar kaýaknya lagi tidur," jawab Edi


"Ibu?" tanya Udin lagi, ia merasa tidak enak masuk ke dalam kamar jika Indri sedang istirahat.


" Lagi keluar sebentar." jawab Edi membuat Udin menggangguk lalu ia masuk ke dalam kamar.


"Dan benar saja Faisol tengah tidur sambil menghisap jempolnya membuat Udin tersenyum lalu ia menggendong Faisol membawanya keluar.


" Loh mau kemana? Faisol?" di bawah?" tanya Edi bingung membuat Udin cengengesan.


"Ya sudah hati-hati jangan malam-malam banget pulangnya kasihan anak kamu." nasehat Edi.


"Iya pak siap." jawab Udin lalu ia keluar membawah putranya.


"Sampai di parkiran Dini langsung membuka pintu mobil mempersilakan Udin masuk.


"Udin kamu bisa bawa mobil gak?" tanya Dini karena ia sudah sangat gemas ingin mengganggu Faisol.


"Bisa Mbak, dulu saya sempat jadi sopir angkot juga." jawab Udin membuat Dini semangat.


"Ok , kamu yang bawa ya biar saya yang gendong Faisol." usul Dini lalu ia keluar kemudian berputar menuju pintu sebelah.


"Sini saya yang gendong," ucap Dini , Udin memindahkan Faisol ke gendongan Dini membuat Dini tersenyum.


" Tanpa mereka sadari Edi tengah menyaksikan pemandangan itu dari atas


" Aduh....Masyaallah aku gak tau mau ngomong apa lagi tentang kamu sayang." gumam Dini lalu masuk ke dalam mobil sambil menciumi Faisol.


"Ini kita kemana dulu Mbak?" tanya Udin membuat Dini berfikir sejenak.


"Em...kita ke studio dulu kali," usul Dini membuat Udin bingung


"Studio?Ngapain Mbak? Tanya Udin lagi.


"Kita foto studio dulu saya pengen punya foto bareng Faisol biar jadi kenangan-kenangan, dia id jadi penyemangat saya dalam ngerjain skripsi." ujar Dini membuat Udin mangut-mangut.


"Ok Mbak."


"Tanpa membuat waktu Udin membawa menjalankan mobil sesekali ia melirik Dini yang sedang memgusik Faisol supaya bangun.


"Eugh...."Faisol menggeliat membuat Dini tersenyum.


"Bangun sayang," ucapnya, begitu Faisol membuka matanya Dini langsung tersenyum.


"Alhamdulillah udah bangun anak ganteng ya?" tanya Dini membuat Faisol diam sejenak memperhatikan wajah Dini yang make up.


"Ini bunda sayang,kok bengong?" lanjut Dini , detik kemudian Faisol memegang jilbab Dini membuat Dini terkekeh.


"Kok gak nangis sih bunda pengennya kamu nangis tau," ucap Dini mengembungkan mulutnya membuat Faisol tertawa.

__ADS_1


"Nangis bukan tertawa," omel Dini membuat Udin yang melihat itu ikut tersenyum.


Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di studio.


"Ayik."ajak Dini lalu mereka masuk kedalam.


"Mereka berfoto ala-ala keluarga bahagia awalnya hanya Dini dan Faisol,namun lama kelamaan fotografer menyuruh Udin bergabung.


"Masuk mas biar lengkap." suruh fotografer tersebut.


"Gak usah pak, mereka aja." tolak Udin merasa tidak enak.


"Ayolah Udin katanya tadi mau foto sama saya sekarang kok mala gak mau," ucap Dini membuat Udin menggaruk tengkuknya sekilas.


"Gak apa-apa sini, biar ada kenang-kenangan." ucap Dini."ajak Dini membuat Udin mau tidak mau mengangguk lalu berdiri di samping Dini.


"Rapatkan mas biar bagus." ucap fotografer tersebut membuat Udin bergeser ke dekat Dini.


"Nice...ok satu ...dua...tiga."


Cekrek!


"Aduh mantap," ucap fotografer tersebut melihat hasilnya sangat bagus dan romantis


"Lagi ya, sekarang gantian yang gendong si dedek masnya dulu biar mbaknya bisa bergaya." ucap fotografer tersebut.


"Lama mereka pemotretan di studio akhirnya selesai di tambah lagi Faisol sudah bosan.


"Udah...udah sayang, kita ke mall ya," ucap Dini saya Faisol membrontak mulai serba salah.


"Kamu bawa susu Faisol?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.


"Ada mbak di mobil." jawab Udin lalu mereka kembali ke mobil.


"Air panas ada?" tanya Dini begitu mereka masuk.


"Ada mbak aman," jawab Udin lalu ia menyeduhkan susu Faisol.


"Sabar ya sayang sekarang kita ke mall ya bunda beliin Faisol baju ya, sama makanan iya?" ucap Dini lalu mendirikan Faisol di pangkuannya.


" Mbak suka anak kecil ya?" tanya Udin karena jiwa keibuan Dini sangat luar biasa.


"Nggak tau Udin, keluarga saya banyak yang punya bayi saya gak peduli tuh, soalnya orang tuanya pada songong-songong.


" Kalau sama Faisol saya juga gak ngerti kadang udah mau tidur aja saya sering keingat sama anak kecil ini.ucap Dini membuat Udin mangut-mangut.


"Sama kayak Bu Indri." jawab Udin.


"Oh iya, emang Bu Indri itu gak punyak anak?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.


"Bukan gak punya sih belum di kasih rezeky kali ya, dari awal melihat Faisol dia udah niat banget itu mau beli Faisol." ujar Udin membuat Dini kaget.


"Emang iya?"


"Iya Mbak, tapi saya gak mau yang saya punya sekarang juga cuma Faisol," jawab Udin membuat Dini mangut-mangut.


"Jangan ya Faisol gak di jual kan sayang." gumam Dini lalu kembali mencium Faisol.


"Ini Mbak susunya," ucap Udin menyerakan dot tersebut pada Dini.


"Kita ke mall nih mbak?" tanya Udin yang di balas anggukan oleh Dini.


"Iya." jawab Dini lalu mereka berangkat ke mall.


"Tidak berapa lama kemudian akhirnya mereka sampai, Udin keluar terlebih dahulu membukakan pintu untuk Dini.


"Makasih." ucap Dini lalu mereka masuk ke dalam mall.


"Beli baju dulu kali ya," ajak Dini lalu mereka


berjalan ke arah baju anak-anak.


"Bantu pilihin Udin, kamu juga ambil aja kalau mau biar sekalian" ucap Dini membuat Udin terkekeh


"Gak usah kalau saya Mbak udah Bapak-bapak juga masa di beliin." jawan Udin membuat Dini terkekeh.


"Ya gak apa-apa." jawab Dini lalu ia mulai memilih baju buat Faisol.


"Faisol suka yang mana Nak?" tanya Dini yang tidak dihiraulan oleh Faisol.


"Buset dah kalau kamu megang makanan lupa semuanya." ucap Dini.


"Dini...! Panggil seseorang membuat dini dan Udin berbalik.


Deg!!!

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH PENILAIN YA KAK BIAR AKU MAKIN SEMANGAT I LOVE YIU


Jang lupa like comen yg positif yaaa


__ADS_2