
Saat dini asik mengamati waja damai Faisol yang sudah tertidur pulas, tidak sengaja Udin melihat keluar kaca.
"Em...Kayaknya hujannya udah reda." ucap Udin membuat Dini menoleh.
"Hahh?
"Hujanya uda reda saya mau pulang dulu takut kemalaman kasian Faisol." ucap Udin membuat Dini mau tidak mau mengangguk.
"Oh iya...pulang naik motor?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.
"Setiap hari?" lanjut Dini membuat Udin terkekeh lalu mengangguk.
"Huum."
"Apa Faisol tidak masuk angin?" tanya Dini lagi
"Em.... Alhamdullilah saejauh ini baru sekali dan semoga jangan lagi, saya bingung bagi-bagi waktu kalau faisol udah sakit." jawab Udin yang di balas anggukan oleh Dini.
"Nah iya makanya,nanti kalau kamu ospek gimana? Soalnya ospek dari pagi sampe sore lanjut Dini.
"Em....Faisol saya titipkan dulu sama bos saya," ujar Udin.
"Oh..."
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu ya." lanjut Udin lalu berdiri hendak mengambil alih Faisol dari pangkuan Dini.
Sebelum menyerahkan Faisol, Dini menyempatkan mencium bayi itu.
"Hati-hati," ucap Dini yang di balas anggukan oleh Udin.
""Bisa gak sini saya bantuin ikat," tawar Dini lalu ia berdiri memperbaiki kain gendongan yang melikit di pundak Udin.
Saat fokus memperbaiki kain gendongan Udin, tidak sengaja Dini mendongak bertepatan ďengan Udin sedikit menunduk,
Alhasil pandangan keduanya bertemu.Buru-buru mengalikan pandangannya begitu juga dengan Udin.
"Kami pamit dulu."
"Iya hati-hati jangan sampai faisol kehujanan." ujar dini yang di balas anggukan oleh udin lalu ia pergi ke meja pembayaran.
"Mbak kopi saya tadi berapa?" tanya Udin membuat kasir tersebut menoleh
"Meja berapa?"
"Sudut Mbak,meja tujuh."
"15000 Mas."
"Sama teman saya sekalian." lanjut Udin mengambil uang merah di kantong sebelah kanan.
"Jadi 35.000 Mas
Setelah selesai membayar Udin buru-buru pulang takut anaknya kehujanan.
Hari menjelanh magrib, dini merengangkan otot-ototnya karena akhirnya tugas selesai juga.
"Akhirnya... Nasib semester tua gini amat." gumam Dini lalu ia menutup laptopnya bergegas pulang.
"Mbak punya saya berapa?" tanya Dini.
"Apa aja tadi Mbak?"
"Teh sama kentang." jawab Dini.
"Yang meja tujuh ya Mbak?" tanya kasir itu yang di balas anggukan oleh Dini.
__ADS_1
"Udah di bayar mbak."
"Hah?"
"Iya Mbak uda di bayar."
"Siapa yang bayar?" tanya Dini bingung.
"Itu tadi mas-mas yang gendong bayi."jawab kasir tersebut membuat Dini menghela nafas panjang.
"Ya sudah terimah kasih ya."
"Kenapa malah adek kelas yang bayar kan jadi malu,ahh ela... Ada-ada aja lagi si Udin." gumamnya lalu masuk ke dalam mobilnya.
Tiga hari kemudia, tibakah waktu Udin untuk ikut ospek sebagai tanda ia mahasiswa baru.
"Mana lagi itu bocah udah jam segini belum datang juga." gumam Dini sambil memperhatikan jam tangannya.
Dini celingak-celinguk hingga akhirnya ia melihat Udin baru saja sampai di parkiran.
Tanpa membuang waktu Dini langsung menghampiri Udin.
"Ekhem....
Udin yang baru saja membuka helmnya langsung menoleh.
"Mbak."
"Push up."jawab Dini dingin membuat Udin kaget.
"Hahh?"
"Saya bilang push up siapa yg aueu kamu datang terlambat." lanjut dini membuat udin bingung.
"Gak terima alasan,push up!"
'Buset...Galak banget kemaren perasaan uda baik masa sekarang berubah lagi, hadeuh... Ucap Udin dalam hati.
"Pus up!" tegas Dini membuat Udin kaget.
"Iya-iya,berapa mbak?" tanya Udin.
"Jangan panggil saya mbak disini panggilnya kakak, pus up 20 kali," ucap Dini membuat Udin menggaruk tengkuk sekilas.
"serba salah ya,"
" mau saya tambahin 50 kali lanjut Dini.
"Jangan kak,20 aja." ucap Udin lalu ia mulai push up di depan Dini.
Dini yang melihat itu langsung menghela nafas panjang lalu ia menurunkan tangannya yang sedari tadi ia lipat.
"Cukup."
Udin berhenti lalu kembali berdiri
"Kan baru 10 kak"
"Sana masuk barisan." suruh Dini membuat Udin lagi-lagi tidak mengerti konsepan seniornya itu.
"Ok." jawabnya lalu ia meninggalkan Dini begitu saja.
Melihat Udin pergi Dini langsung menggelengkan kepalanya.
"Ayolah Dini masa gitu aja kasian orang dia yang salah siapa suruh datang terlambat." ucap Dini sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
Setelah merasa aman, Dini kembali menyusul ke lapangan.Dari kejahuan ia memperhatikan Udin yang begitu serius mengikuti arahan-arahan mentor.
"Siapa yang gak bawa pasta gigi?" tanya iren mentor Udin.
"Silakan keluarkan semua pasta gigi kalian." lanjutnya, Udin melrai merogoh tasnya tapi hasilnya nihil sepertinya ia lupa memasukan pasta gigi yang sudah ia beli kemaren.
"Duhhh mana lupa lagi,gimana dong?Masa maju kedepan kan malu banget.'ucap Udin dalam hati.
"Udin punya kamu mana?" tanya Iren
"Sebentar kak lagi nyari." jawab Udin lalu Iren maju ke depan mengecek yang lain.
'Duh... Udahlah pasrah.'gumam Udin,tiba-tiba ada yang memberikan sesuatu ke tangannya dari bawah membuat Udin menunduk.
Alangkah kagetnya ia melihat pasta gigi di tangannya,Udin menoleh ke belakang dan disitu ada Dini yang pura-pura tidak mengenalinya.
"Udin mana?"
"Eh iya kak...ini." ucap Udin lalu menunjukkan pasta gigi di tangannya.
"Ok yang gak bawah maju ke depan nyanyi." suruh Iren membuat Udin melotot.
"Nyanyi,demi apa?" gumam Udin pelan lalu ia kembali menoleh ke belakang, tapi anehnya Dini sudah tidak di sana.
"Senior aneh,kadang udah baik banget kadang udah killer banget emang jadi senior harus gitu banget..." gumam Udin tanpa sadari Dini berdiri di sebelah kanan.
"Mau nyanyi juga?"
Degggg!
Udin langsung melotot lalu ia perlahan menoleh ke samping.
"Emm....Nggak kak,maaf tadi gak segaja." jawab Udin yang tidak di hiraukan okeh Dini.
"Hahh?"Lagi-lagi Udin di buat terheran-heran oleh Dini
Emm....iya kak sehat." jawab Udin pelan.
"Gak kehujanan kemaren?" lanjut Dini membuat Udin menaikan alisnya sebelah.
"Em.. Gak kak Alhamdulillah tepat waktu." jawab Udin, Dini tidak menoleh atau melihat sedikit pun.
"Kan Dini sini sambutan dulu panggil anak BEM yang di depan membuat Dini melotot.
Jangan dong kan ada presiden mahasiswanya." jawab Dini
"Iya kak tapi kata si kakak di gantiin sama kak Dini." lanjut perempuan itu membuat Dini lagi-lagi harus menguras kesabaran dengan sikap ketuanya tersebut.
"Nyari masalah mulu ini anak, nanti kamu ya!umpat dini pelan lalu ia maju ke depan dengan senyum palsunya.
Udin mendengar itu langsung menahan tawa.
'Benar -benar ini cewek susah banget nebak karakternya, jutek tapi baik sebenarnya gimana ya. Gumam Udin sambil memperhatikan Dini yang sedang menyampaikan sambutan dengan wibawanya sebagi pemimpin
Begitu Dini memberi sambutan ia dihadiahi banyak tepuk tangan serta pujian dari mahasiswa baru.
"Kakaknya cantik banget ya."
Iya ihh pengen jadi pacar deh."
Jangan macem -macem itu senior.
Begitu ucapan-ucapan para kaum adam yang berada di sekitar Udin, sedangkan Udin yang mendengar itu hanya memperhatikan Dini.
'Kalian gak tau aja aslinya.'ucap Udin dalam hati.
__ADS_1