Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Tamu tidak diundang (Dadakan)


__ADS_3

"Bu."jawab Udin, dari kejauhan samar-samar Dini melihat orang yang mirip dengan Udin.


"Itu kayak Udin ya? Tapi kayaknya gak mungkin deh katanya kan dia kuli bangunan." gumamnya lalu memasukan nasi bungkus yang banyak itu ke dalam mobil


"Semoga belum istirahat kasihan pada nunggu." gumamnya lalu ia kembali ke kampus.


"Setelah memastikan Dini pergi Udin mengusap dadanya membuat Robi bingung.


"Udah ah kebanyakan drama gak jadi-jadi nih makan, mana uda laper."


"Iya-iya ayok," ajak Udin lalu mereka menyebrang.


Sepanjang makan Udin tampak berpikir- pikir membuat Robi sesekali memperhatikannya.


"Kalau gak niat makan puasa aja gak sih?" celetuk Robi membuat Udin tersadar.


"Apaan sih." gumam Udin.


"Faisol udah sembuh?" tanya Robi sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Lagi pemulihan intinya udah gak di rawat lagi." jawab Udin membuat Robi mangut-mangut.


"Syukurlah, kasihan masih kecil udah segala masuk rumah sakit," ujar Robi.


" Sebenernya mah kalau saya gak bakalan bawa ke rumah sakit karena itu demam biasa tapi karena Ibu sama Bapak paham sendiri lah orang kaya, tiba-tiba di paksa ke rumah sakit," ujar Udin membuat Robi mangut-mangut.


"Iya sih bener."


Sore hari Udin bersiap-siap hendak pulang ke rumahnya, namun Indri terus saja membujuk- bujuk Udin untuk ke rumahnya saja.


"Di rumah ibu aja Udin, kasian kalau Faisol ada apa-apa cepat di tangani." ucap Indri yang masih setia menggendong Faisol.


""Gak apa-apa Bu ke rumah kami aja udah lama gak kesana, besok kan ibu ketemu lagi sama Faisol." ucap Udin membuat Indri mau tidak mau mengangguk pasrah.


Drt....drt...drt...


Udin merogoh saku celananya melihat siapa yang menghubunginya ia melirik Indri sekilas lalu sedikit menjauh.


( Halo Mbak? )


( Udin, saya sudah di depan rumah kamu )


( Hah?Maksud Mbak? ) tanya Udin bingung.


( Ini bener kan rumah kamu yang di gang mangga?Saya tanya tentangga sekitar katanya iya ) lanjut Dini membuat Udin semakin merasa aneh dengan Dini.

__ADS_1


( iya mbak itu rumah saya, tapi mbak ngapain kesana? )


( Gap apa-apa cuma mau ngasih sedikit makanan aja buat Faisol ) jawab Dini membuat Udin mengigit bibirnya sekilas lalu ia kembali melirik Indri yang tampak asik bersama putranya.


( Ya uda kalau gitu mbak tunggu aja di sana, sebentar lagi saya sampai )


( Ok )


Setelah memutuskan sambungan Udin langsung ke kamar mandi mengganti pakaiannya


Tidak beberapa lama kemudia ia keluar dari kamar mandi, namun hal itu membuat Indri sedikit heran


" Tumben ganti baju Udin?" tanya Indri.


"Eh gak apa-apa Bu,biar gak kotor aja sayang bajunya warna putih," jawab Udin berbohong pasalnya ia mengganti baju karena tidak ingin Dini mencurigai dirinya.


"Ya sudah kalau begitu kami pamit ya Bu, sampai ketemu besok lagi," lanjut Udin yang di balas anggukan oleh Indri.


Setelah keduanya pergi Indri duduk disisi ranjang tatapannya kembali kosong.Untuk beberapa saat ia termenung kemudian ia menyusul suaminya ke depan.


Edi yang melihat istrinya murung langsung paham,ia melambaikan tangannya.


mengisyaratkan Indri mendekat.


"Kenapa Hem? Mau jalan-jalan gak?" tanya Edi yang di balas gelengan oleh Indri.


"Sabar ya....semoga Allah masih ngasih yang terbaik untuk kita." ucap Edi yang di balas anggukan oleh Indri


Amin."


"Ya penting kita tetap usaha, kita konsultasi ke dokter insyaallah semuanya ada jalan." lanjut Edi menguatkan hati istrinya tersebut.


"Mas gak mau nikah lagi kah?" tanya Indri dengan tatapan sendunya membuat Edi kaget.


"Kok nanyak gitu?" tanya Edi membuat Indri menghela nafas panjang.


"Iya siapa tau dengan perempuan lain mas bisa punyak anak," jawab Indri lirih.


"Indri denger...Aku gak butuh wanita lain, aku cuma butuh kamu. Aku percaya allah itu adil hanya saja mungkin waktunya belum sekarang.


Melihat kamu seperti ini saja rasanya hatiku sesak dri, apalagi melihat kesedihanmu saat aku bersanding dengan wanita lain.


Gak!!!Gak dri aku gak akan melakukan itu,sekarang mari kita bersyukur ya jangan gini." nasehat Edi yang di balas anggukan oleh Indri.


"Iya mas." jawab Indri.

__ADS_1


"Salim dulu dong." lanjut Edi membuat Indri meraih tangan suaminya itu lalu ia menyalaminya.


"cup!!


Edi mengecup bibir istrinya tersebut lalu mengusap wajah Indri.


"Bismillah ya semuanya ada jalan, sekarang allah lagi menguji cinta kita sejauh mana kita bertahan dengan ujian begini." lanjut Edi yang di balas anggukan oleh Indri.


Disisi lain sekitar 15 menit perjalan akhirnya Udin sampai di halaman rumahnya,Dini yang melihat itu langsung tersenyum lalu ia bangkit dari duduknya.


"Jauh tempat kerjamu?" tanya Dini yang di balas gelengan oleh Udin.


""Gak kok mbak deket."jawab Udin.


"Sini coba saya mau gendong Faisol." ucap Dini membuat Udin melepaskan kain gendongan lalu memindahkan Faisol ke gendongan Dini.


"Aduh... Udah sembuh ya anak ganteng udah ya...Jalan-jalan mulu kamu ya setiap hari," gumam Dini, sedangkan Udin masih memarkirkan motornya.


"Ayo Mbak masuk dulu." ajak Udin yang di balas anggukan oleh Dini lalu ia mengikuti Udin dari belakang.


Matanya melihat atas bawah ke adaan rumah Udin yang terbilang sangat sederhana.


"Maaf ya Mbak kalau rumahnya kayak kandang ayam, maklum laki-laki yang nempati ucap Udin membalas Dini terkekeh


"Ya gak lah santai aja Udin, segini kamu enak udah punya rumah sendiri gak perlu nyewa." jawab Dini


"Ini bukan rumah saya Mbak,ini rumah peninggalan almaŕhum orang tua saya," jawab Udin sambil membereskan rumahnya.


"Oalah iya- iya.'Gumam Dini.


"Mbak kesini jam berapa? Kok bisa Mbak tau alamat saya?" tanya Udin membuat Dini menoleh.


"Setengah jam yang lalu lah saya nyampe, alamat kamu mah gampang kan data kamu di saya ya tinggal liat aja apa susahnya." jawab Dini membuat Udin mengangguk.


"Jadi anggota BEM kayak Mbak ini enak gak sih Mbak?Soalnya kalau saya lihat-lihat itu seru gitu, kompak." ujar Udin membuat Dini terkekeh


"Rasanya nano-nano pokoknya karena gini yang kamu lihat itu kan di luarnya aja, kami di internalnya itu gak sekompak yang kamu lihat pastih banyak masalah." ujar Dini membuat Udin mangut-mangut.


Oghhh gitu ya,Mbak mau minum apa?" tanya Udin.


"Eh gak usah, itu plastik putih itu bukak aja ada makanan sama minuman kok." ujar Dini membuat Udin menaikan alisnya sebelah


"Kan tuan rumah saya Mbak kok malah mbak yang ngasih minuman sama makanan." ujar Udin.


"Ya gak apa-apa, kamu kan posisinya habis pulang kerja bukan anteng-anteng di rumah." jawab Dini.

__ADS_1


"Mbak beli sebanyak ini buat apa Mbak?" tanya Udin kaget begitu membuka plastik tersebut banyak sekali makanan.


Buat disini aja biar kalau misal kamu kerja pagi-pagi bisa sarapan roti lah minimal." ujar Dini membuat Udin langsung tersenyum ia tidak menyangka di balik sifat Dini yang judes ternyata senior sangat perhatian


__ADS_2