
"Akhirnya Din."ucap Robi membuat Udin mengangguk,ia benar-benar tidak menyangka.
"Terima kasih banyak loh bantuanya."ucap Udin membuat Robi tersenyum.
"Aman santai,yang penting sekarang tetap fokus aja dulu..Perjalanan masih panjang."Ujar Robi membuat Udin mengangguk.
"Dulu kamu punyak cita-cita gak sih,Din?"tanyak Robi lagi.
Udin diam sejenak,lalu menggangguk kemudian menoleh ke samping melihat Robi.
"Tentu saja, cita-citaku bahkan sangat tinggi,hingga akhirnya gak bisa di raih."jawabnya.
"Apaan tuh?"Setinggi apa coba setinggi langit kah?"tanya Robi.
"Kalau bisa sih menjadi nabi ya,cuma karena gak mungkin.Jadinya pengen jadi ilmuan dosen."jawab Udin membuat Robi tertawa.
"Jadi nabi aja gak sih,entar ujung-ujungnya dapat rumah baru kan?"gurau Robi.
"Penjara maksudnya."tebak Udin membuat Robi ketawah.
Heheeheh iya bisa jadi,eh tapi kendalanya apa kenapa gak jadi ngejar cita-cita?".
"Yang pertama faktor ekonomi,yang kedua bapak sakit-sakitan waktu itu.jadi gak mungkin di tinggalin,semisalnya mau kuliah pun."terang Udin.
"Emang kamu mau kuliah?" tanyak Robi dengan nada meledek.
"Iyalah,eh gini-gini aku dulu jalur undangan dan udah beasiswa.cuma aku harus di jakarta karena universitasnya di sana.
Yah gitulah,emang gak rezeķi.Bapak sakit dan ibu yang banting tulang mencari nafka,mana uda tua kan.
Anak mana sih yang tega ninggalin orang tuanya dengan kondisi begitu,makanya aku mutusin untuk tidak melanjutkan""ujar Udin.
"Wah...hebat ya,kamu tenyata pintar di akademik,tapi bodoh dalam rumah tangga"ledek Robi membuat Udin melotot.
Ngomong apa kamu?"ujar Udin.
Gak,sana ke kantornya pak Edi sekarang noh...kasih tau,Sekalian lihatin anak kamu.Kasihan uda dua hari,kita lembur di sini."Suruh Robi.
"Bukan bodoh dech kayaknya, tapi lebih tepatnya ini jalannya supaya aku bisa fokus untuk sukses." lanjut Udin yang di balas acungan oleh Robi
"Iya sih bener,sana pulang keburu magrib."usir Robi.
"Ngusir baget ini orang,ingat aku ini bosmu."omel Udin.
"Iya-iya Bos sana pulang."lanjut Robi sambil mendorong Udin.
"Mau ikut gak?" ajak Udin yang di balas gelengan oleh Robi.
"Ya udah titip salam buat mawar ya."Ucap Udin yang dibalas anggukan oleh Robi.
"Iyap, nanti kalau ada apa-apa kabarin ya."ucap Robi
"siap."
"Kalau ada untung,bagi hasil juga kabarin hahahah"ujar Robi bercanda
"Ampun!Siap langsung di kabarin."ujar Udin sambil geleng-geleng membuat Robi terkekeh.
"Kamu sadar satu hal gak?"tanyak Robi lagi yang di balas gelengan oleh Udin
__ADS_1
"Apa?"
"Kita bukan kuli bangunan lagi."jawab Robi membuat Udin langsung ketawa.
"Iya-iya benar,alhamdulillah ya allah."ucap udin lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nikah Din."
Degg!
"Nanti dulu deh,aku masih menikmati masa-masa ini.Baru juga awal banget ini,gak boleh gegahbah dan masih bayak yang harus aku dapatkan di tahun ini."jawab Udìn membuat Robi terkekeh.
Terauma ya."ledek Robi lalu meninggalkan Udin begitu saja.
"Astaga...bisa-bisanya dia bikin lelucon sore-sore begini."ujar Udin,lalu ia menjalakan motornya ke rumah Edi,karena yakin Edi sudah tidak di kantor lagi.
"Assalamualaikum."ucap dengan semangat.
"Waikumsalam, udah pulang Din."jawab Edi begitu melihat Udin di ambang pintu.
"Iya pak,saya punyak kabar buat bapak." ucap Udin dengan semangatnya,membuat Edi menaikan alisnya sebelah.
"Kabar apa itu?" tanyak Edi,lalu duduk menyeruput kopinya.
"proyek uda selesai,"jawab Udin dengan semangat,membuat Edi meletakan kopinya lalu melihat Udin.
"Yang bener kamu,"ujar Edi tidak percaya.
"Iya pak benar,ini fotonya,"jawab Udin lalu memperlihatkan foto bangunan tersebut pada Edi membuat Edi mangut-mangut.
Alhamdullilah 15juta pak.."jawab Udin membuat Edi kaget.
Terimakasih pak,ini berkat bantuan bapak juga,"jawab Udin.
"Ok,kamu bagus sekali.pergunakan uang itu sebaik mungkin.Bapak acung jempol sama kamu,"lanjut pak Edi.
"Terimakasih banyak pak."
"Bu, sepertinya saya sama Faisol pulang ke rumah dulu.Karena uda kelamaan disini,gak enak juga.Apalagi proyek uda selesai,"ucap Udin begitu melihat Indri keluar dari kamar, membuat Indri langsung lesu.
"Kamu yakin bawah faisol pulang.ibu belum rela loh.ujar Indri yang di balas senyuman oleh Udin.
"Kapan-kapan kami kesini lagi Bu." jawab Udin membuat Indri mau tidak mau mengangguk.
Edi yang melihat istrinya itu kecewa langsung memutar otak.
"Din,gimana kalau kamu kerja di kantor saya aja."usul Edi membuat Udin kaget.
"Hahhh???Kerja di kantor Bapak? ulang Udin.
"iya."jawab Edi santai.
"Duh gimana ya Pak,Bukan apa-apa nih.saya cuma lulusan SMA dan gak masuk akal aja saya kerja di kantor Bapak.
Kelihatan paling bodoh diantara semua kariawan, yang ada Pak."terang Udin membuat Edi mangut-mangut.
Umur kamu berapa sekarang?"tanya Edi membuat Udin berfikir sejenak.
27 Tahun masuk 28 lah pak."jawab Udin.
__ADS_1
"Kuliah aja lagi,kan banyak universitas swasta yang bisa sambil kerja, usul Edi membuat Udin terdiam seribu bahasa.
Ya, itu memang salah satu impiannya bisa kuliah.Hanya saja tidak bisa bergantung semuanya pada Edi belum lagi anaknya.
"Gimana ya pak,saya bingun"jawab Udin.
"Gak susah Din, untuk memulainya aja yang perlu niat yang kuat dan semangat.Pas di jalan nati ngalir aja." terang Edi.
"Tapi kan Pak,biaya kuliah mahal belum lagi anak saya,Gak mungkin saya bawa-bawa kuliah."lanjut Udin.
"Kan kamu kerja di kantor,sembari ya kamu kuliah juga.Setidak kamu punyak gelar dan masalah Faisol gampang itu Ibu kamu yang jaga."jawab Edi.
'Ada ya orang baik Pak Edi,bahkan keluargaku sendiri tidak pernah ada yang menanyakan kabar atau sekedar basa-basi.'ucap Udin dalam hati.
Emm..Pak kalau gitu saya pertimbangkan ya tawaran Bapak secepatnya saya akan jawab,mungkin malam ini saya butuh pertimbangan dulu,"ujan Udin yang di balas anggukan oleh Edi.
"Ok,ijazah berkas-berkas kamu masih adakan?tanya emEdi.
Ada Pak,saya simpan rapi."jawab Udin.
Nah,semisalnya itu masih ada dan kamu mau dengan tawaran saya.Datanya aja bawah ke kantor,semua berkas-berkas kamu."lanjut Edi yang di balas anggukannoleh Udin.
"Baik pak,sebelumnya terima kasih banyak pada Bapak sama ibu.Kalian sudah baik sekali sama saya dan juga anak saya.
Saya benar-benar sangat bersyukur,bisa kenal sama Bapak sama Ibu." terang Udin yang di balas anggukan oleh Edi dan Indri.
***
Sampai di rumahnya,Udin semakin bingung harus bagaimana,Satu sisi ia sangat ingin kuliah,tapi satu sisi ia benar-benar merasa Edi terlalu baik padanya.
"Liat Nak,belum sebulan kamu tinggal di sana.Ķamu jadi subur begini,senang ya tinggal sama ibu Indri ya,masya Allah gumam Udin sambil mengusap-usap perut putranya.
"Kalau misal bapak kulia lagi,kamu sama Bu Indri lagi.Gimana ya nak?sembari bapak kuliah,Bapak kerja juga kok buat kamu."gumam Udin
Udin benar-benar bimbang harus menerima atau tidak tawaran kulia itu.
Lama ia berfikir kemudia ia memutuskan untuk sholat isya sekaligus berdoa meminta petunjuk.Saat ia sedang khusuk berzikir tiba -tiba ponsel berbunyi,membuat Udin menoleh.
Pak Edi kali ya."ucapnya dalam hati lalu ia membuka pesan tersebut.
[Mas....fotoin romi,aku pengen liat dia beneran sehat atau gak di tangannkamu]
Lagi-lagi Udin menghela nafas panjang,Maysaroh tidak henti-hentinya menerornya.
Ini perempuan maunya apa sih?Dia mau pergi gak dilarang,dia yang ninggalin anak.Ehh sekarang dia yang sewot-sewot mulu serba salah deh.
Tapi apapun itu aku tidak akan pernah termakan omongan kamu lagi Maysaroh.Yang ada dalam benakku sekarang,bagaiman berusaha semaksimal mungkin untuk sukses."gumam Udin,lalu ia mengarakan kamerah pada putranya.
Eh jangan di kamera kali ya, nanti dia su uzon lagi bilangnya di edit segala macam,vidio aja biar dia puas."lanjut udin ,laku ia memvideokan Faisol yang sudah begitu aktif.
[setelah kamu pergi,ternyata bukan hanya aku yang merasa bahagia tapi Faisol juga.]
Kirim
Udin mengirimkan pesan dan video itu pada Maysaroh.
Disisi lain Maysaroh yang sendari tadi menunggu pesan Udin,dengan semangat membuka video itu.
Tiba-tiba mulutya mengangga melihat Faisol gemukan dan sekarang bayi itu sedang duduk di kelilingi dengan bantal.
__ADS_1
Ini beneran Faisol?"gumamnya tanpa sadar