Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
Di jodohkan


__ADS_3

"Gak usah sok keras kepala Mas, bagaimanapun juga di persidangan nanti aku akan mengambil Faisol dari kamu.


"Karena ibu biasanya lebih berhak di bandingkan ayah." lanjut Maysaroh tidak mau kalah membuat Udin mangut-mangut.


"Begitu rupanya, tidak masalah Maysaroh kuasa hukum juga tidak bodoh kok, sebelum kamu menggugat kan saya sudah ngomong terlebih dahulu jika kamu sendiri yang membuang dan meninggalkan Faisol tiba-tiba.


"Adakah kita bertengkar saat kamu pergi, jawabannya gak kamu sendiri yang ingin meninggalkan Faisol, kalau saya gak masalah mau kamu hina, kamu tinggalkan kamu caci maki saya sudah kebal.


"Tapi tidak dengan Faisol, cukup saya yang kamu injak-injak harga dirinya tidak dengan anak saya.Sekali lagi saya tegaskan Maysaroh,dengan baik-baik...cukup saya yang kamu injak-injak harga dirinya tidak dengan anak saya!Paham kamu sampe sini!" tegas Udin membuat ayah Maysaroh langsung lemas.


"Mas kamu sudah teracuni sama perempuan yang kemaren kan?" lanjut Maysaroh seolah-olah menyudutkan Udin di depan orang tuanya.


"Itu gak ada urusannya sama Dini,dia gak tau apa-apa tentang saya dan kamu.Jadi gak usah cari pembelaan.


"Sekali tidak!Tetap tidak saya akan berpegang teguh sama pendirian saya,mau kamu nangis darah juga datang pada saya gak akan.ingat May saya sudah mati rasa sama kamu!"


Jleb!


"Maysaroh menelan salivanya dengan susah payah,ia sudah tidak tau harus menjawab apa.


"Sudah,kalau aku jenguk silakan jenguk tapi Faisol baru saja tidur tadi dia rewel," ujar Udin lalu ia melirik orang tua Maysaroh sekilas lalu pergi ke dapur.


"Beberapa saat kemudia ia kembali ke depan dengan nampan di tangannya.


"Ini yah,Bu minum dulu."ucap Udin sambil meletakan dua teh di depan keduanya.


"Makasih nak Udin."


"Sama-sama,"


"Nak Udin masih nguli kah? Perlukah kami bantu untuk biaya Faisol?" tanya ayah Maysaroh membuàt Udin tersenyum.


"Iya alhamdulillah masih nguli,tidak perlu di bantu Yah.


"Alhamdulillah aku masih bisa mencukupi kebutuhan Faisol di tambah lagi begitu banyak orang yang menyayangi Faisol." jawab Udin, Maysaroh yang duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan Faisol tiba-tiba menoleh...


"Benarkah kamu masih nguli?" tanya Maysaroh dengan nada meledek membuat Udin menoleh.


"Kamu gak tau apa-apa jangan ikut campur." jawab Udin,nada bicara Udin ke orang tua Maysaroh jauh berbeda dengan nada bicara ke Maysaroh.


"Ya aku memang gak tau banyak sih,tapi yang aku lihat-lihat kamu udah ada kerjaan baru kan Mas,sama temen kulimu yang satu lagi?" tebak Maysaroh membuat Udin terdiam sejenak.


"Mau ada atau gak urusannya apa sih sama kamu?Gak ada untungnya juga kan,intinya sekarang saya tidak pernah meminta uang ke kamu demi biaya Faisol," tegas Udin membuat Maysaroh terkekeh.


"Kok kamu marah sih mas, kan aku cuma bilang aja soalnya kamu ngobrol sama orang tuaku," ujar Maysaroh.

__ADS_1


"Ngobrol dengan orang tua kamu bukan kamu."


Deg!


" udah May, kamu jangan ikut campur ayah lagi ngobrol," tambah ayah membuat Maysaroh melongo.


"Jangan terlalu percaya yah belum tentu yang dia bilang itu benar semuanya," kode Maysaroh membuat Udin tidak habis pikir dengan Maysaroh yang selalu berusaha mencari-cari kesalahannya.


"Cukup Maysaroh diam lah!" kesal ayahnya membuat Maysaroh mengepalkan tangannya.


"Malam ini Faisol tidur sama saya." ucap Maysaroh memancing Udin, membuat Udin pura-pura tidak dengar.


"Maysaroh jangan bikin masalah," ujar ibunya membuat Maysaroh lagi-lagi hanya bisa menghela nafas panjang.


"Setelah ngbrol panjang lebar mereka pulang, walaupun Maysaroh beberapa kali meminta Faisol namun Udin tidak mengizinkan sedikitpun.


" Setelah ketiga pergi, Udin menutup pintu lalu ia memejamkan matanya sejenak.


"Ya tuhan berat sekali cobaan ini, semogah ada jalan keluar yang terbaik.' ucapnya dalam hati lalu ia berjalan mendekati Faisol.


"Begitu ia membuka ponselnya ia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Dini, tanpa membuang waktu ia kembali menghubungi dini.


( Hallo mbak )


( Hiks...halo )


( Mbak nangis? ) tanya Udin


Hening!


( Mbak ) panggil Udin lagi membuat Dini buru-buru menghapus air matanya.


( Faisol masih rewel ) tanya Dini mengalikan pembicaraan membuat Udin bingung.


( Em.....Nggak mbak ini dari tadi dia tidur masih pulas ) jawab Udin membuat Dini mangut-mangut sambil berusaha menahan sesak di dadanya.


(Mbak ) panggil Udin lagi karena ia dapat menengar helaan napas berat dari Dini.


(Hum) dehem dlDini.


(Mbak ada masalah kah? Apa boleh saya tahu?) tanya Udin hati-hati membuat Dini kembali menarik napas dalam-dalam.


(Nggak kok) jawabnya tapi Udin tidak percaya.


(Ya uda kalau mbak gak mau cerita gak apa-apa, tapi saya berharap mbak mau cerita sih biar lega) lanjut Udin membuat Dini semakin terisak.

__ADS_1


Untuk sesaat Udin membiarkan Dini menangis, ia memberi waktu buat Dini untuk mengeluarkan sesak di dadanya


(Mbak)


(Hum) lagi-lagi Dini hanya mendehem menyembunyikan ke sedihannya.


(Tell me please) ucap Udin membuat Dini terkekeh lalu mengusap air matanya.


(Sok bahasa inggris kamu ya) ujar Dini diselingi dengan tawa membuat udin tersenyum.


(Saya juga gak tau mbak itu artinya apaan, tapi yang jelas ya itu curhat sama) lanjut udin membuat dini geleng-geleng lalu ia bangkit dari ranjang dan duduk di kursih sambil mengamati wajahnya di kaca.


(Saya di marahin tadi) ucap Dini membuat Udin mangut-mangut.


(Kata mbak kan udah biasa kok mala nangis) ujar Udin membuat Dini langsung medengus kesal.


(Marahnya beda Udin bukan kayak biasanya, bisa gak kamu jangan bikin saya kesal) Omel Dini membuat Udin menutup mulutnya menahan tawa.


(O iya-iya,gimana-gimana marahnya?) lanjut Udin.


(Mereka ngancam saya Udin)


(Mgacam? Memangnya mbak mencuri) jawab Udin asal-asalan.


(Astaga Udin!) kesal Dini membuat Udin menjauhkan ponselnya sejenak karena suara Dini yang cempreng.


(Aduh maaf-maaf,kayaknya gilanya Naumi ketularan saya) ujar Udin membuat Dini kembali menghela nafas panjang.


(Gimana-gimana mbak, maaf tadi itu cuma iklan biar mbak gak sedih lagi) ujar Udin membuat Dini mangut-mangut.


(Mereka ngancam saya bulan desember besok wajib ikut wisuda)ujar Dini membuat Udin menaikan alisnya sebelah


(Bagus dong mbak)


(Gak cuma itu,mereka juga ngancam saya gak boleh kemana-mana selain ada bimbingan skripsi dan...)terang Dini kemudian menggantung ucapanya


(Dan?) ucap Udin penasaran.


(Dan mereka juga uda punya calon suami buat saya dan itu tanpa sepengetahuan saya mereka mengadakan pertemuan dan ngobrol panjang lebar tentang saya.


"Saya capek udin! Saya ingin bebas saya mau lulus tapi gak gini caranya,saya juga punya hati saya punya gak untuk memilih yang terbaik buat saya hiks...


Mereka dengan mudahnya hanya memberikan saya ancaman setiap hari, sumpah saya benar-benar tertekan Udin, hiks...)


Deg!

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komen ya guys biar author makin semangat upnya


__ADS_2