
Ha?"
"Em....Iya Mbak soalnya aku lihat Faisol senang banget kalau ketemu mbak kayaknya bundanya sendiri." lanjut Naumi membuat Dini dan Udin saling melempar pandangan.
"Eh...Iya ini anak saya tapi bukan saya yang melahirkannya," jawab Dini membuat Udin kaget.
"Bener om?" tanya Naumi membuat dini menoleh.
"Om?" ulang Dini membuat Udin melotot ke arah Naumi.
"Kamu mancing-mancing saya terus ya!" kesal Udin membuat Naumi langsung menutup mulutnya.
"Dasar!" umpat Udin pelan membuat Dini terkekeh.
"Selain punya anak kamu punya ponakan juga tah," ucap Dini.
"Shut up...'bantah Udin membuat Dini terkekeh.
"Aduh....aduh Faisol lahap banget makan rotinya, enak iya? Faisol uda makan sore belum?" tanya Dini membuat Udin tersadar lalu ia cengengesan.
"Heheh belum mbak saya lupa." jawab Udin membuat Dini menatap tajam.
"Pantas lah dia diam terus dari tadi lapar ini mah." omel Dini membuat Udin menggaruk tengkuknya sekilas.
" Bawa sunnya?" tanya Dini yang di balas anggukan oleh Udin.
"Ada nih di tas." jawab Udin,Dini langsung celingak-celinguk
"Mbak,"panggil dini membuat pelayan tersebut mendekat.
"Iya Mbak,ada yang bisa saya bantu.?
" Em....pesan makanan dua satu pake ayam bakar,kamu?" tanya Dini menatap Udin, membuat Udin tersadar.
"Em Mbak,samain aja mbak nunggu pesanan kami, saya boleh minta mangkok kosong sama sendok gak, sekalian sama air panas atau gelas lanjut Dini.
" Boleh Mbak, sebentar saya ambilin." jawab pelayan tersebut yang di balas anggukan oleh Dini.
" Terimakasih."lanjut Dini,tanpa ia sadari tadi Udin memperhatikan dirinya yang begitu peduli pada Faisol.
"Nguli di mana sampai berhari-hari?" tanya Dini membuat Udin menaikan alisnya sebelah.
"Eh....itu apa namanya,di kampung sebelah lumayan jauh jadi saya minta tolong sama Bu Indri untuk jaga Faisol.
"Sebenernya saya pengen bawa tapi BuIndri ngelarang." lanjut Udin.
"Iya jangan bawa kasian yang di balas anggukan oleh Dini dia gak ngerti apa-apa nanti tidurnya ntak dimana." timpal Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Gak sibuk banget sih, orang tau saya yang bikin saya gak bisa kemana-mana." jawab Dini dengan nada sedikit kesal.
"Maksudnya?
"Ya itu mama itu orangnya suka banget berpikir yang ngak-ngak kalau saya keluar rumah,ini aja tadi sebelum kesini mama ceramah dulu.
"Dikiranya saya itu kalau keluar pasti keluyuran party-party atau diskotik atau apalah,capek sebenarnya diginiin mulu." lanjut Dini terlihat raut kekecewaan di wajahnya membuat Udin melipatkan ke dua tangannya di atas meja.
"Em....Orang tua Mbak maunya gimana?" lanjut Udin.
"Orang tua saya?"
"Hu'um."
"Mama itu pengennya saya wisuda lulus,trus nikah sama laki-laki pilihan mereka yang jelas saya harus menuruti itu.
__ADS_1
" Makanya sebenernya ada satu sisi yang buat saya malas lulus ya ini,setelah lulus pasti hidup saya bakal di iket abis-abisan." lanjut Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Orang kaya kah calonnya keingin orang tua Mbak?" tanya Udin yang di balas anggukan oleh Dini.
"Dan Mbak?"
"Kalau saya mah terserah saya gak peduli mau kaya mau sederhana karena gak selalu kekayaan itu bikin bahagia,nggak!
"Itu salah banget prinsipnya,kalau pilihan saya bebas mau sama-sama mulai merintis dari bawah aja saya gak masalah,tapi orang tua saya yang bikin ribet." terang dini.
"Mbak ini mangkok sama air panasnya." ucap pelayan tersebut meletakan di depan Dini.
"Iya makasih."
"Sama-sama."
"Udin membatu Dini menuangkan sun ke mangkok lalu menuangkan air panas secukupnya,kemudian ia mengaduk-ngaduk lalu menunggunya dingin sejenak.
"Mbak di targetkan menikah kapan memangnya?" tanya Udin lagi.
"Paling setahun dua tahun lagi, Mama selalu bilang 27 udah wajib nikah gak ada penolakan." jawab Dini membuat Udin mengangguk.
"Dan s2nya?"
"Itu akan jadi pelarian saya pasangan yang dipilih nanti gak cocok, saya akan lanjut pendidikan gak bisa saya kalau terlalu di atur." terang Dini.
"Bukan mulutnya sayang,makan dulu." ucap Dini,Faisol mendongak membuat Dini lebih mudah menyuapi anak kecil itu.
"A....lagi sayang." lanjut Dini.
"Lahap banget ya." ucap Udin.
" Hu'um ini lapar dia." jawab Dini, tanpa mereka sadari Naumi sedari tadi sesekali melirik ke meja mereka.
Duh....kasian banget deh si om kuli,ucap Naumi dalam hati.
"Saya gak bisa lama ini Udin ngeri nyonya marah-marah nati." ucap Dini membuat Udin terkekeh.
"Orang tua Mbak itu," ujar Udin
"Iya justru itu."
"Udah kenyang sayang? Udah ya..." gumam Dini sambil membersikan mulut Faisol dengan tisu
"Maaf ini pesananya." ucap pelayan membuat Udin menggeser tas Faisol.
" Sini mbak saya aja yang gendong Faisol biar mbak bisa makan,"ucap Udin.
"Gak usah bisa kok." jawab Dini lalu ia mulai menyendokan nasi ke mulutnya sedangkan Faisol malah mendongak memperhatikan Dini yang sedang makan.
"Bah...anak pinter,udah kenyang ya?" ucap Dini membuat Faisol tertawa malu.
"Duh salah tingkah anak bunda ini." gumam Dini dengan gemasnya.
"Nanti kalau misalnya Mbak langsung s2 atau nikah pasti Faisol gak bisa lagi ketemu mbak," ucap Udin tanpa sadar.
Deg!
Dini langsung meletakan sendoknya lalu tersenyum.
"Jangan bahasa kesana dech, kan masih lama juga kita gak tahu takdir yang udah allah tetapkan buàt hambahnya itu seperti apa." jawab Dini membuat Udin mangut-mangut.
"Siapa tau entar ayah kamu ya yang tiba-tiba nikah." ujar Dini membalikan ucapan Udin membuat Udin tertawa.
__ADS_1
"Em... Kalau saya sejauh ini belum memikirkan ke arah sana sih mbak,sekarangbya bagaimana saya fokus kulia sama bagai mana anak saya bisa terurus untuk sekarang ini,udah lebih dari cukup.
Lagian juga orang pasti mikir berkali-kali menikah dengan saya yang jelas cuma kuli bangunan sama ya duda juga,punyak anak,hartanya gak ada wallahu alam lah" terang Udin membuat Dini geleng-geleng.
"Lihat sol...ayah kamu minderan ternyata lemah!" ledek Dini membuat Udin terkekeh.
"Bukan lemah mbak tapi kenyataan memang begitu." sanggah Udin
"Gak ada yang gak mungkin jika Allah berkehendak Udin,kamu harus percaya itu mungkin sekarang kamu lagi masa merintis dari bawah.
Setahun dua tahun kedepan kan kita gak tau siapa tau kamu bisa jadi lebih sukses daripada saya,lebih mapan jadi jangan menggujad diri sendiri kalau lagi berproses
"Nikmati aja usaha tidak pernah mengkhianati hasil
," ujar ujar Dini membuat Udin mengangguk
"Lama mereka ngbrol hingga akhirnya Dini pamit pulang setelah Dini pamit? Udin senyam-senyum melihat putranya sudah terlelap lalu ia juga bergegas pulang karena hari sudah mulai magrib.
Sekitar 10 menit perjalanan akhirnya Udin sudah deket dengan rumahnya,namun lagi-lagi ia melihat ada orang di depan rumahnya,tapi kali ini ada tiga orang.
Mendengar suara motor Udin ketiganya menoleh.
"Kalian dari mana aja mas?sudah berhari-hari aku tunggu di sini kenapa kalian gak ada di sini?" cecar Maysaroh.
Belum apa-apa Maysaroh sudah marah-marah membuat Udin menghela nafas panjang terlebih Maysaroh membawa kedua orang tuanya.
"Maysaroh tenang dulu jangan esmosi begini, Udin baru saja sampe." leraih ayahnya.
"Assalamualaikum." ucap Udin lalu ia berjalan melewati Maysaroh,ia membuka pintuh rumahnya lalu masuk terlebih dahulu.
"Walaikumsalam." jawab orang tua Maysaroh lalu mengikuti Udin ke dalam.
"Mas! Kamu denger aku gak?" tanya Maysaroh lagi membuat Udin yang baru saja merebahkan Faisol langsung menatap Maysroh tajam.
"Kalau ngomong bisa pelan-pelan gak,ini anak saya lagi tidur kalau mau marah-marah silakan angkat kaki dari sini." tegas Udin membuat Maysaroh dan kedua orang tuanya kaget.
"Mas kamu---
"Apa?saya kenapa?" tanya U⁴din langsung bangkit dari ranjang membuat Maysaroh membuang nafas kasar.
"Kenapa kok diam?" Bilang aja saya kenapa?tanya Udin,ia benar-benar tidak takut sama Maysaroh walaupun mantan istrinya itu membawa orang tuanya.
"Balikin Faisol." ucap Maysaroh membuat Udin menaikan alisnya sebelah.
"Lah gimana ceritanya?Kan kamu sendiri yang buang? Kamu katanya gak sangup biayain Faisol,ini anak saya bukan anak kamu bagaimana sih? Masa setelah di buang di cari lagi?" tanya Udin sambil melipat kedua tanganya di depan dada.
"Nak Udin begini saja, kan Faisol juga haknya Maysaroh ya bagaimana jika Faisol tiga hari bersama Maysaroh empat hari bersama nak Udin." ucap ayah mencoba mendamaikan,Dengan cepat Udin menggeleng
"Gak bisa pak,saya gak percaya sama Maysaroh dia adalah perempuan yang gak sabaran nanti saya anak saya rewel terus dia mau pergi nongkrong dia malah marah sama anak saya.
"Saya gak bisa memberikan Faisol walaupun cuma sehari tapi kalau mau jenguk begini silakan." tegas Udin membuat orang tua Maysaroh terdiam sejenak.
"Tapi bagaimana juga Faisol anak Maysaroh juga." lanjut ibu Maysaroh membuat Udin mengangguk.
"Betul sekali,Faisol memang anaknya Maysaroh, dia juga yang bersusah payah melahirkan Faisol.
"Tapi ibu harus ingat dia telah membuang dan meninggalkan anaknya sendiri,kalau misalnya saya juga tidak mau,Faisol saya buang balik ke orang lain atau ke panti asuhan apa bisa mengambilnya lagi hanya dengan kata-kata bayi itu anakku?" tegas Udin sambil menatap tajam Maysaroh.
Degggg!!!!
#### Jangan lupa like comen yan kakkk???###
#Doain saya supaya lulus kontrak seperti kalian#
__ADS_1