Perjalan Hidup Seorang Kuli

Perjalan Hidup Seorang Kuli
"Khawatir"


__ADS_3

"Berisik!" ketus Dini membuat temannya itu geleng-geleng.


"Serah dah Dini....din." lanjutnya lalu ia meninggalkan Dini begitu saja.


Dini melirik jam tangannya ia melihat hari menunjukan pukul 12 siang artinya sebentar lagi semuanya akan istirahat.


"Oh ****! Si Eky pastih marah ini ngeliah kantor begini." gumam Dini lalu merapikan kembali berkas-berkas di depannya tersebut.


"Dini....!


"Tuh kan belum apa-apa suaranya uda dimana-mana sambung Dini.


"Astagfirullah!Apa yang engkau kerjakan diniiiiii...."


" Berisik banget sih, gak ada aku cuma nyari berkas keselip kemaren," jawab Dini, detik kemudian ia melihat Udin terpampang di map.


'Lah ini dia perasaan dari tadi di cariin kok gak ada.'ucap Dini dalam hati lalu ia merapikan map Udin.


"Kamu ke kapangan sana enak banget ngaso-ngaso di kantor, yang lain kasian itu." Omel Eky membuat Dini menghela nafas panjang.


"Iya Eky yang baik hati saya kesana sekarang ya," jawab Dini seperti anak kecil membuat Eky tersenyum puas.


Setelah melihat Dini keluar ia langsung merebahkan tubuhnya.


"Dan kamu!"


Eky kembali membuka matanya kaget dengan suara Dini.


"Apa lagi sihhh?" kesalnya membuat Dini tersenyum miring.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Dini membuat Eky langsung gelagapan


"Istirahat dulu tadi perutku mulas." jawabnya berbohong membuat Dini lagi - lagi harus menahan sabar.


"Alasan!"


"Udah sana keluar, berisik banget sih kalau gak keluar aku pe---


"Aku apa? Kamu mau ngapain?!" bentak Dini membuat Eky mati kutu lalu kembali memejamkan matanya.


"Dasar!Bisanya ngancem-ngancem doang, di bentak diam." lanjut D2ini lalu ia kekuar dari kantor.


Sampai di lapangan ia langsung mencari tempat aman untuk membuka berkas-berkas Udin mencarinya nomor ponselnya.


"Aku kenapa sih gini banget sama mahasiswa baru itu, padahal dia juga gak peduli samaku." gumam Dini tapi ia tetep melanjutkan aktivitasnya.


Setelah selesai mendapatkankan nomer ponselnya Udin ia kembali merapikan semuanya.


Disisi lain Udin sedang bermain dengan Faisol yang tampak gembira karena ada dirinya.


"Anak bapak mau apa sayang? Mau bola ini?" ucap Udin memberikan bola kecil itu pada Faisol yang sedang duduk bersandar


Drt....Drt....Drt....


Udin melihat ke arah meja lalu ia mengambil poselnya.


"Siapa ini?" gumamnya sambil matanya melihat ke arah Faisol yang sedang mendongak melihat dirinya.


Ntah kenapa ia langsung mematikan ponselnya lalu kembali ke dekat putranya

__ADS_1


"Oh sayang bapak ini cepat sembuh ya Nak, biar kita main bola iya." gumam Udin sambil menggelitiki perut Faisol dengan kepalanya membuat anaknya itu tertawa.


Drt.....Drt....Drt.....


"Duh....ponsel bapak berisik banget deh, sebentar ya sayang ucap Udin lalu ia kembali mengambil ponselnya


(Hallo)


(Kamu kenapa sih?Malah di matiin!) Udin langsung menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya lalu ia melihat faisol sekilas.


(Maaf siapa ya?)


(Gak usah sok formal,kamu gak kenal saya siapa?) omel Dini membuat Udin langsung berpikir sejenak.


( Mbak Dini ya )


( Iya)


( Oh iya mbak kenapa? ) tanya Udin membuat Dini berjalan menjauh sedikit dari orang-orang karena sedari tadi banyak yang memandanginya.


( Kenapa kamu gak ikut ospek? )


( Em... Ini mbak Faisol masuk rumah sakit )


Deggg!


( Hah! Demi apa? ) tanya Dini tidak percaya.


(Iya mbak, anak saya masuk rumah sakit makanya saya gak bisa ikut ospek tadinya udah mau berangkat tapi tiba-tiba mantan istri saya,buat mood saya hancur di pagi hari ) jawab Udin membuat Dini mangut-mangut.


( Rumah sakitnya di mana? )


( Em....Gak usah mbak Faisol gak apa-apa kok )


( Apaan sih kamu, saya nanya rumah sakit doang biar jelas keterangan kamu gak masuk itu kenapa ) cerocos Dini membuat Udin menepuk jidatnya karena terlalu kepedean.


( Em... Ini mbak rumah sakit asih jaya,sekalian sam nomor kamarnya kah? ) lanjut Udin.


( iya )


( Nomor 30 ) jawab Udin.


( Ok )


( O iya mbak gak ngawas yang ospek? ) tanya Udin membuat Dini langsung menyadarkan tubuhnya ke tembok


( Menurutmu? ) tanya Dini membuat Udin kembali menggaruk tengkuknya sekikas.


( Em... Lagi istirahat ya, kalau gitu semangat ya Mbak ) lanjut Udin.


He em


Tut! Tut


"Buset....Main matiin aja." gumam Udin kembali meletakan ponselnya lalu mendekati Faisol


"Faisol bobok dulu Nak, biar cepat sembuh hem?" gumam Udin lalu ia membaringkan putranya pelan-pelan sambil mengusap-usap kepalanya Faisol dengan lembut, sambil ia beraholawat.


Tidak lama kemudian Faisol tertidur sambil memeluk mainan mobil-mobilannya yang di belikan oleh Indri dan Edi

__ADS_1


Disisi lain, Dini fokus mengawasi yang sedang ospek hingga tanpa sadar gerimis turun membuat Dini menoleh ke atas lalu melihat jam tangannya.


" udah jam 4.


"Guys...mentor-mentor sini dulu kumpul." panggil Dini membuat anggotanya berkumpul di dekatnya


"Sekarang kalian kasih satu tugas lagi setelah itu pulang seperti ini bakal hujan lebat." ucap Dini yang di balas anggukan oleh para mentor.


Hari menunjukkan pukuk 4 lebih Dini memilih pulang terlebih dahulu walaupun Eky sudah melarangnya namun ia tidak peduli.


Di rumah sakit, Udin sedang menyuapi putranya makan pelan-pelan karena Indri dan Edi ada urusan malam ini jadi tidak bisa menjaga Faisol.


"Makan yang banyak Nak, biar cepat sembuh." ucap Udin sambil menyuapi Faisol.


Ia melihat keluar jendela hujan begitu deras sesekali kilat terlihat begitu terang.


"Bapak tutup gordennya dulu ya" ucap Udin lalu ia menerima gorden tersebut.


Tok!tok!tok


"Wah sepertinya Bu Indri sama Pak Edi sudah sampai." gumamnya lalu berjalan membuka pintu.


Ceklek!


"Udah selesai Bu---


"Mbak?" ucap Udin kaget saat melihat Dini datang dengan baju sedikit basah mungkin saat berjalan dari parkiran masuk rumah sakit.


"Hem."


Mbak ngapain kesini sampai basa gini?" tanya Udin.


"Gak ngapa-ngapain sekalian lewat aja tadi." jawab Dini lalu matanya menoleh ke dalam. Udin yang mengerti hal itu langsung melebarkan pintu lalu mempersilahkan Dini masuk.


"Masuk Mbak."ajak Udin.


Setelah Dini masuk,Udin kembali menutup pintu lalu ia berbalik rasanya ia tidak percaya Dini sampai datang ke rumah sakit.


"Hey....Anak ganteng lagi ngapain?Kamu sakit?" ucap Dini sambil mengusap pipi Faisol membuat Faisol mendongak lalu memegang tangan Dini.


"'Aduh gemesnya akau." ucap Dini lalu memcium pipi Faisol membuat Faisol memejamkan matanya kaget.


Udin yang melihat itu malah tersenyum lalu ia mengambil sesuatu ia mengambil sesuatu di dalam tasnya.


"Uda selesai makanya sayang?" tanya Dini lagi lalu ia mengusap bibir Faiaol yang masih ada sisa sun.


"Mau bantu suapin?" lanjut Dini, Faisol hanya diam bengong karena tidak mengenali Dini sedangkan Udin yang melihat putranya bingun malah tersenyum.


"A..... Buka mulutnya nanti Anty kasih hadia loh sama Faisol." bujuk Dini membuat Faisol perlahan membuka mulutnya lalu menerima suapan Dini.


"Duh...Anak pintar."


"Mbak." panggil Udin membuat Dini menoleh.


"Ini ganti baju dulu, sepertinya baju mbak basah." ucap Udin membuat Dini langsung jaga image.


"Em...Gak usah deh saya kan sebentar aja." tolak Dini membuat Udin bingung.


Iya gak apa-apa mbak, takut mbak masuk angin." lanjut Udin membuat Dini terdiam sejenak.

__ADS_1


__ADS_2