
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arata masih menenangkan gadis tersebut, sungguh kalau sampai terlambat menyadarinya maka gadis ini akan mengancam kedamaian dunia.
"Aku tahu kenapa kamu ikut acara ini karena bertujuan untuk melemahkan 'itu' kan? dengan cara mengeluarkan semua yang kamu punya tetapi sayang sekali semua lawan mu tidak ada yang bisa memenuhi ekspektasi mu" Ucap Arata.
Gadis tersebut hanya mengangguk dalam diamnya.
"Sudah tidak perlu khawatir… Sekarang baik-baik saja tetapi ingat jangan pernah mengeluarkan aura membunuh kalau tidak maka 'itu' akan keluar dan susah untuk di kendalikan" Ucap Arata dengan serius.
Gadis itu hanya mengangguk tidak mau mengeluarkan suaranya.
Setelah itu penghalang yang mencakup area pertandingan tiba-tiba menghilang, Zhu Wei menghampiri Arata.
"Hey teman apa yang kau lakukan?! kami sibuk mempertahankan penghalang tetapi kamu memeluk seorang wanita? ckckck" Ucap Zhu Wei yang iri.
PLETAK…
Zhu Wei kepalanya di pukul oleh Patriak.
"Aduh-duh-duh… Patriak kenapa anda memukul saya?" Tanya Zhu Wei kesakitan.
"Arata sudah berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kita semua tetapi kamu iri karena ia memeluk seorang wanita?!" Ucap Patriak.
"Hehe" Zhu Wei hanya tertawa kecil.
Patriak hanya menggelengkan kepalanya dan melihat ke Arata.
"Jadi nak siapa wanita itu?" Tanya Patriak, ia tidak bisa mengetahuinya karena gadis itu memakai seperti cadar untuk menutupi wajahnya.
Arata menggelengkan kepalanya tidak tahu, "Siapa nama anda nona?" Tanya Arata.
"A-aku…"
"Kakak!" Sebelum gadis tersebut mengatakan yang sebenarnya tiba-tiba suara keras dengan nada khawatir terdengar di belakang rombongan para tetua.
Patriak yang tahu asal suara tersebut juga terkejut, ia segera membalikkan badannya.
"Nak? kenapa kamu kesini? tetua bukankah aku menyuruh kalian untuk menjaga putri ku agar tidak kabur" Ucap Patriak.
"M-maaf Patriak tetapi nona Lin memaksa dan kami tidak bisa berbuat apa-apa" Ucap salah seorang tetua.
"Haishh nak cepatlah kembali!" Ucap Patriak.
"Tunggu ayah, d-dia adalah kakak!" Ucap gadis tersebut mendekat ke Arata.
"Hahhhh?!!!!" Teriak mereka terkejut bahkan Arata sendiri juga ikut terkejut.
"L-lin Yu?! benarkah itu kamu?" Tanya Patriak gagap.
Gadis bernama Lin Yu menghela nafasnya dan membuka cadar yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Maafkan aku ayah" Ucap Lin Yu sambil bersujud di depan Patriak.
Dalam satu momen tersebut mereka semua di buat tidak bisa berpikir apa-apa bahkan untuk bersuara saja mereka tercekat.
"Anakku… Putriku syukurlah kamu baik-baik saja!" Patriak dengan cepat memeluk putrinya yang di kabarkan telah lama hilang di suatu hutan terlarang.
Saat pertama kali mendengar kabar tersebut Patriak belum mempercayai nya sampai 5 tahun putrinya tidak kunjung kembali membuat ia terpukul keras, Patriak bahkan sampai tidak keluar ruangannya selama sebulan penuh.
Dan hari ini detik ini walaupun pertemuannya dengan putrinya ada sedikit masalah tetapi ia tidak memperdulikannya! yang paling penting menurutnya adalah putri nya yang telah lama menghilang kini telah kembali dalam keadaan utuh.
Arata yang tidak tahu apa-apa hanya diam sambil mencoba mencernanya.
"A-anu tetua?" Ucap Arata.
"Ada apa tuan Arata?" Tanya tetua sopan.
"Siapa sebenarnya gadis itu?" Tanya Arata yang menyerah karena rasa penasarannya yang tinggi.
"Dia adalah putri Patriak" Jawab tetua dengan sedikit terharu melihat pertemuan kedua orang tersebut.
"Putri? tapi bukan kah putri Patriak adalah nona Lin Si?"
"Nona Lin Yu adalah putri pertama Patriak yang telah lama menghilang sekitar 5 tahun, pada saat itu kami berusaha mencarinya tetapi hasilnya sungguh mengecewakan. Mungkin dewa memberkati Patriak secara tidak sengaja dalam acara mencari jodoh untuk nona Lin, Patriak juga bertemu dengan nona Lin Yu" Ucap tetua menjelaskan semuanya.
Arata mengangguk, ia akhirnya mengerti tetapi yang tidak ia mengerti adalah bagaimana bisa Lin Si mengenali Lin Yu?
Tetapi ia hanya diam saja karena menurutnya tidak terlalu baik untuk ikut campur, cukup sampai ia menyelamatkan Lin Yu.
"Tidak apa-apa ayah, yang berlalu biarlah berlalu lagipula sekarang aku sudah bisa menjaga diri sendiri" Ucap Lin Yu.
"Kakak…" Lin Si berlari dan memeluk Lin Yu.
"Anak nakal… Bagaimana bisa kamu tahu bahwa ini aku" Tanya Lin Yu tersenyum lembut.
"Itu karena rambut kakak dan juga perkataan kakak dulu"
"Hmm perkataan ku? apa maksud mu?" Tanya Lin Yu.
"Kakak kan pernah berkata kalau saat menyamar harus menggunakan sesuatu yang menutupi wajah seperti cadar ini" Ucap Lin Si.
"Pffttt… Hahahaa"
Tiba-tiba semua orang tertawa saat mendengar alasan Lin Si yang begitu polos.
Bahkan Patriak dan Lin Yu tertawa saat mendengarnya.
"Haishh kamu ini sebenarnya bodoh atau terlalu polos?" Ucap Lin Yu.
"Kakak!!" Teriak Lin Si malu.
***
__ADS_1
Setelah peristiwa tidak terduga dan dramatis tadi Patriak membawa semua orang kembali ke klan bersama dengan Arata dan Zhu Wei di undang oleh Patriak.
Di kediaman klan Lin saat ini tengah berpesta pora karena mendengar kabar menggembirakan yaitu kembalinya Lin Yu.
Mereka bersuka cita menyambut kedatangan kembali Lin Yu.
"A-anu Patriak jangan bilang!…"
Arata menolak persepsi yang otaknya pikirkan mengenai apa yang ia lihat sekarang.
Apa yang Arata lihat? yaitu sebuah ruangan dimana seperti akan adanya pernikahan.
"Hmmm ada apa nak?" Ucap Patriak saat melihat sikap gelagapan Arata.
"Anda akan menikahkan siapa Patriak?!" Tanya Arata.
"Tentu saja kamu dengan kedua putriku, apa ada yang salah?" Ucap Patriak dengan tenang.
BOOMMMM…
Kepala kedua gadis tersebut seketika mengeluarkan asap, wajah mereka berdua memerah malu.
Bahkan Arata sendiri membeku dalam diamnya, tatapan matanya menjadi kosong.
"Haishh aku sungguh iri dengan mu teman… Sekali menikah dengan dua wanita" Ucap Zhu Wei.
"T-tunggu dulu! Patriak apa maksud anda? mengapa tiba-tiba sekali" Ucap Arata.
"Tiba-tiba? tetapi bukankah sebelumnya telah di jelaskan bahwa siapapun yang memenangkan sayembara akan di nikahkan dengan putriku?" Ucap Patriak tersenyum.
"Tetapi… Tetapi bagaimana bisa anda menikahkan aku dengan kedua putri anda?!" Ucap Arata.
"Hmmm? apa ada yang salah dengan itu?" Ucap Patriak.
"Tentu saja!" Ucap Arata.
"Hahaha sudahlah teman terima saja nasibmu" Ucap Zhu Wei.
"Tidak bisa seperti itu! aku…"
Sebelum Arata menyelesaikan ucapannya tiba-tiba sebuah aura besar yang terasa mengerikan terasa di belakangnya.
Pada saat itu mereka semua melihat ke arah sumber aura itu berasal. Mereka kemudian gemetar ketakutan saat melihat ternyata aura itu berasal dari kedua putri Lin Yu dan Lin Si yang tengah menatap tajam Arata.
"Hahh nak kamu sudah membangunkan harimau yang sedang tidur, maaf aku tidak bisa membantumu" Ucap Patriak kemudian menjauhi Arata, begitupun dengan Zhu Wei mereka semua menjaga jarak dengan Arata.
Sedangkan Arata sendiri ia tidak bisa berkata-kata, ia merasa telah membuat sebuah kesalahan besar.
'Sistem tolong bantu aku!' Ucap Arata.
{Maaf tuan… Masalah ini di luar kemampuan sistem}
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...