
Nazulfa yang di besarkan oleh tantenya suka tidak suka harus mengikuti kehendak mereka. Sebagian keluarga besar Nazulfa tidak setuju jika Nazulfa berhubungan serius dengan pria asing.
Berbeda dengan orangtua kandungnya di desa yang mengatakan "semua keputusan berada di tanganmu" begitulah pendapat mereka.
Kini Nazulfa dalam dilema, Ia merasa bimbang..
Di satu sisi ia telah merasa nyaman, mengenal Shahzad sungguh membuat hidupnya lebih berwarna. Meskipun Shahzad tipe pria pemalu dan tidak banyak bicara namun ini kali pertama Nazulfa menjalin hubungan dengan pria asing.
Disisi lain Nazulfa juga mencerna maksud dari perkataan tantenya. Mungkin memang benar banyak wanita Indonesia yang di kecewakan dan di campakkan oleh pria asing. Tak banyak pula yg hanya sekedar menginginkan visa untuk dapat dengan mudah bisa menetap di Indonesia.
Walaupun Nazulfa masih muda ia juga tidak ingin menikah dengan pria yang salah. Ia tidak ingin ada penyesalan di belakang hari.
Nazulfa yang banyak berpikir membuat kesehatannya menurun. Ia pun jatuh sakit. Demam tinggi membuat dia harus banyak istirahat. Sejak Nazulfa mengenal Shahzad, sedikit berpengaruh buruk pada pekerjaannya.
Beberapa pekerjaan terkadang terbengkalai, karna ia sibuk video call dengan Shahzad.
Terkadang dikarnakan vc terlalu larut malam membuat Nazulfa bangun kesiangan hingga ia telat masuk kerja.
Kejadian-kejadian ini sering terjadi hingga ia mendapat teguran dari kantor tempat ia bekerja.
Apalagi saat ini ia malah jatuh sakit dan mengharuskan ia untuk sementara off bekerja.
Nazulfa yang awalnya cuek soal cinta dibuat bucin pake banget oleh pria bermata bening tersebut.
Tak heran banyak gadis diluar sana yang sangat ingin memiliki kekasih Pakistani. Hanya dengan memandang matanya kamu akan terhanyut bagai masuk kedalam dunia khayalan. Bagaimana tidak, sungguh sempurna ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketampanan pria Pakistan perpaduan antara wajah ala aktor Bollywood dengan iras kearab-araban.
Shahzad yang mendengar Nazulfa sakit merasa sangat khawatir. Ia berulang-ulang kali menelpon dan video call untuk memastikan keadaan Nazulfa. Shahzad yang sangat perhatian terus mengirimi Nazulfa semangat. Ia bahkan ingin mengirimkan uang. Namun Nazulfa menolak pemberiannya itu. Nazulfa khawatir jika nanti ia memutuskan untuk pergi, maka tidak terlalu banyak budi yang ia terima sebelumnya.
Hari ini adalah hari jum'at, kantor tempat Nazulfa bekerja tiba-tiba menelpon.
"Selamat siang.." kata teman sekantor Nazulfa.
"Siang Ri.." sahut Nazulfa.
"Ada apa nelpon dari nomor kantor..?" ujar Nazulfa lagi.
__ADS_1
"Ia ni saii.. Aku di suruh bos sampaikan sama kamu, jika senin kamu masih belum masuk juga maka dengan berat hati kamu akan di rumahkan selamanya.." kata Ruri teman baik Nazulfa.
"Baru juga aku off 3hari itupun karna sakit, kenapa si bos setega itu sih.." kesal Nazulfa.
"Udah.. nanti kita sambung cerita di whatsapp ya.. ini aku tadi cuma disuruh telponkan kamu.." kata Ruri.
"Oke deh.. Makasi saii buat infonya.." ujar Nazulfa.
"Iyaaa...., cepat sembuh ya saiii.." sahut Ruri.
Percakapan mereka pun ditutup.
Nazulfa yang kesal akan sikap bos nya itu merasa semakin malas untuk masuk kerja. Rasanya ia malas untuk bertemu bos di kantor.
Memang benar semua ini adalah kesalahannya. Saat pergi ke Malaysia ia sudah ambil cuti 3hari, dan ia juga sering telat masuk kerja karna kesiangan bangun.
Malam ini tante Nazulfa yang lainnya datang ke rumah, Nazulfa memiliki 3 orang tante yang sudah seperti ibu kandungnya. Sebab azulfa dibesarkan oleh tantenya dikota bukan bersama orangtua kandung di desa.
"Nazulfa kemarilah.." panggil Si Tante.
"Tante dengar kamu lagi dekat sama cowok asing ya..?" tanya Tante.
"Hmmmm... Ia tan.., pasti tante Diana kan kasi tau..?"jawab Nazulfa.
"Tidak penting darimana tante tahu.. Yang mau tante tanya apa kalian serius..?" tanya tante lagi.
"Bagaimana ya tan.. Aku juga gk tau dia seserius apa sama aku.." jawab Nazulfa kebingungan.
Nazulfa pun merasa bahwa ia tidak berada dalam keadaan yang benar. Karna ia pun tidak tau mau dibawa kemana hubungan mereka.
Saat semua orang tidur sekitar pukul 11.00pm Nazulfa menelpon Shahzad.
Pada saat itu Shahzad tengah bekerja, tidak di rumah.
"Halo.. Asslamualaikum.." Shahzad menjawab panggilan dari Nazulfa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam.." sahut Nazulfa.
"Ada apa Nazulfa.. Kenapa awak belum tidur..?" tanya Shahzad.
"Ada yang mau saya sampaikan.." ujar Nazulfa.
"Saya tengah kerja.. kalau penting sangat tak boleh tunggu esok oke sampaikan sekerang namun saya sambil buat kerja.. Ya.." kata Shahzad.
"Sebenarnya saya mau kita jangan berkomunikasi lagi.. Cukup sampai sini saja hubungan kita.. Mungkin kita tak dapat bersama.." pernyataan Nazulfa.
Shahzad yang terkejut mendengar perkataan Nazulfa langsung menghentikan pekerjaannya dan bergegas pergi ke toilet.
Shahzad bertanya kembali..
"Kenapa awak cakap macam tu..?" ujar Shahzad pelan.
"Saya rasa ini adalah terbaik untuk hubungan kita yang sepertinya mustahil untuk bersama.." jelas Nazulfa.
"Oke.., kalau itu sudah jadi keputusan awak saya mau buat apalagi.. Saya doakan awak bahagia disana dan temukan lelaki tepat untuk masa depan awak.." harapan Shahzad.
Walau pun ia penuh kecewa dengan keputusan Nazulfa.
Tanpa Shahzad sadari airmatanya telah menetes. Ia pun berusaha menghapus airmatanya agar tidak dilihat oranglain.
Bos kerja mencari Shahzad. Shahzad berlari menghampiri bos. Bos ingin Shahzad melihat pekerja yang memasang karpet. Shahzad perhatikan ada sedikit kelebihan ujung karpet.
Ia pun berencana memotong lebihan itu. Dan saat memotong ia malah memotong celah jari tangannya nya sendiri. Hingga darah pun bercucuran. Teman-teman membantu Shahzad membalut lukanya, abang kandung Shahzad juga bekerja sama dalam satu perusahaan pun menghampiri Shahzad.
"Astagfirullah...," kata abang nya.
Dengan nada santai namun wajah abangnya terlihat ingin marah.
Abang nya bukan kasihan malah memberi ultimatum pada Shahzad.
"Jika masih ingin bekerja di Malaysia maka bekerjalah dengan benar jangan sampai merugikan diri sendiri... Jika tidak...., maka pulanglah ke Pakistan!" tegas abang Shahzad.
__ADS_1
Shahzad hanya tertunduk ketika sang abang bicara..😶.