Perjuangan Cinta Beda Negara

Perjuangan Cinta Beda Negara
Hujatan Membawa Kebahagiaan


__ADS_3

Betapa bahagianya Shahzad ketika ibunya menanyakan nama kekasihnya dan meminta foto Nazulfa. Setidaknya trik ancaman tidak pulang ke Pakistan berhasil meluluhkan hati ibunya.


Dari kedua belah keluarga kini sudah saling tahu dan setuju. Hanya saja tidak ada jalan untuk bersatu.


Apakah Shahzad harus membuang visa kerja nya demi menikahi Nazulfa..?


Pekerjaan itu juga bagian dari masa depannya!!


Shahzad tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Kepalanya pusing memikirkannya. Jalan sudah buntu juga membuat otaknya buntu.


Bos datang menghampiri Shahzad.


"Shahzad.., ada apa.. kenapa nampak kacau..?" tanya bos.


"Tak pe bos.., sorry saya kurang focus.." jawab Shahzad.


"Kalau awak kurang sehat baleklah, tak pe.., hari ini tak banyak kerje.." ujar bos.


"Terima kasih bos.." sahut Shahzad.


Rumah Shahzad yang juga pemberian dari bos tak jauh dari kantor dan store tempat ia bekerja. Dapat di tempuh dengan berjalan kaki. Namun Shahzad biasa naik motor.


Sampai di rumah Shahzad berniat memberi tahu Nazulfa dua berita yang ia miliki.


"Assalamualikum.." Nazulfa menjawab panggilan video call.


"Waalaikumsalam.." jawab Shahzad.


"Nazulfa saya punya dua kabar, satu kabar baik, satu lagi kabar buruk.." ujar Shahzad.


"Oke.. bagi tau kabar baik dulu je.." ujar Nazulfa.


"Ami ji, Abu ji dan seluruh keluarga di Pakistan sudah tahu saya akan menikah dengan awak.." Shahzad memberitahu penuh semangat.


"Waooo.. Mashallah.. Ya Allah.. Akhirnya engkau mengabulkan doaku.." ujar Nazulfa penuh haru.


"Dan kabar buruknya..?" tanya Nazulfa kembali.


"Kita boleh menikah di Malaysia namun yang memiliki visa kerja tidak boleh menikah, harus buang dulu visa kerja." kata Shahzad.

__ADS_1


"Haaa.. Mana boleh awak buang visa kerja, saya tak kan setuju Shahzad. Kerja ini juga masa depan awak dan sumber penghasilan awak." ujar Nazulfa.


"Itu lah sebabnya saya cakap berita baik dan buruk, saya sendri dah bingung harus macam mana.." jawab Shahzad.


"Mungkin kita di suruh untuk bersabar.


Yang terpenting sekarang hubungan kita sudah di ridhoi orangtua" ujar Nazulfa.


Mereka pun menjalani hubungan jarak jauh tanpa rasa ragu meskipun belum bisa bersatu. Cinta mereka semakin kuat. Tanpa terasa sudah 6 bulan berlalu. Dan semua persyaratan nikah masih belum berubah.


Orangtua Nazulfa mulai risau akan nasib anaknya itu. Saudara dan Tetangga yang sebelumnya tahu Nazulfa bolak balik Malaysia mengunjungi kekasihnya mulai bergosip.


Mereka menyangka bahwa kekasih Nazulfa adalah seorang sugar daddy. Entah dari mana mereka tahu Nazulfa tidak bekerja namun setiap bulan di gaji oleh kekasih. Padahal itu bukan gaji akan tetapi pengganti gaji dari pekerjaan yang ia tinggalkan dulu.


Apalagi di desa, malah ada yang berpikir Nazulfa adalah istri simpanan Dato' Malaysia. Sungguh terlalu tinggi daya imajinasi orang di desa Nazulfa.


Alhasil ayah Nazulfa pun bertanya..


"Nazulfa.., bagaimana tentang Shahzad..?" tanya sang ayah.


"Ayah.., kami sudah coba semua cara sampai Shahzad pun sudah ke Kantor Agama Malaysia tapi tetap saja belum bisa menikah.." jelas Nazulfa.


Sang ayah pun menjadi iba mendengar betapa berat perjuangan mereka berdua. Dan memikirkan harus berbuat apa untuk putri sulung nya.


Ayah sangat menyukai Shahzad, meskipun belum pernah bertemu namun pernah video call. Siapa saja melihat Shahzad dan bicara padanya akan tahu bahwa Shahzad sangat sopan dan bertanggung jawab jika menjadi seorang suami.


Ayah pun menelpon tante tempat tinggal Nazulfa selama ini.


"Assalamualaikum.." sahut tante mengangkat telepon.


"Waalaikumsalam.., Diana aku mau bicara soal Nazulfa." ujar ayah.


"Kenapa Nazulfa bang.." tanya tante.


"Ibumu dah lelah mendengar cibiran orang desa tentang Nazulfa.." ujar sang ayah.


"Jadi mau di kekmana kan lagi bang, itu pilihan Nazulfa.." ujar si tante.


"Ku rasa kita nikah kan aja dulu biar sah halal tak jadi bahan ceritaan orang" kata si ayah.

__ADS_1


"Kalau abang ridho kami ikut abang kekmana baiknya.." ujar tante.


Rencana ayah menikahkan Nazulfa terlebih dahulu sebab ia melihat anaknya tak berubah juga walau pun telah tahu sangat sulit dan kecil kemungkinan bisa bersatu.


Dan terkadang tak sengaja ayah mendengar saat Nazulfa video call tanpa hands free, sebab kamar Nazulfa bersebelahan dengan kamar orangtuanya. Dan rumah mereka di desa masih belum batu sepenuhnya, setengah papan. Jadi tidak kedap suara.


"Mendengarnya saja membuat hati menjadi iba..", begitulah dalam benak ayahnya.


Nazulfa yang mengetahui rencana sang ayah dari ibunya pun seakan ingin melompat kegirangan. Tak sabar ia memberitahukan berita ini pada Shahzad.


"Shahzad.." panggil Nazulfa semangat.


"Assalamualikum..." kata Shahzad sebab Nazulfa lupa ucap salam.


"Sorry.. Walaikumsalam.." jawab Nazulfa.


"Kenapa awak nampak hepi sangat ini sampai lupa bagi salam.."tanya Shahzad.


"Ia.. Kita akan segera menikah.." jawab Nazulfa.


"Ayah kata..., dia boleh menikahkan kita di Malaysia, sementara kita uruskan dokumen resmi kita sudah sah, sebab ramai orang suka cakap salah tentang saya disini." ujar Nazulfa.


"Betulke... Ya Allah.. Terima kasih ya allah.." ucap Shahzad merasa doa nya telah terkabul.


"Tapi meskipun kita nikah duluan, tetap saja banyak persiapan Shahzad, pasti keluarga saya nak hantaran, mas kawin, dll." jelas Nazulfa.


"Saya tak paham awak punya culture, dalam culture saya semua nya perempuan bagi. Saya hanya bagi haq mer (mahar) je." kata Shahzad.


"Berbeza pula dengan culture saya, kita semua apa pun dari laki-laki." ujar Nazulfa.


"Kalau macam tu.., apa saja yang mesti saya persianpkan" tanya Shahzad.


"Nanti saya tanya ibu saya dulu, dia mau macam mane.." ujar Nazulfa.


"Inshallah.. Saya siap melamar awak macam mane keluarga awak minta selagi saya mampu." ujar Shahzad percaya diri.


"Alhamdulillah.., terima kasih awak sudah sangat menghargai saya.." ujar Nazulfa.


Nazulfa pun mulai mendiskusikan rencana Pernikahan Siri nya🙊🙈

__ADS_1


__ADS_2