Perjuangan Cinta Beda Negara

Perjuangan Cinta Beda Negara
KEDUBES INDONESIA


__ADS_3

Lelah seharian di ajak tante shoping, malam hari om memanggil untuk duduk bersama di taman belakang rumah. Om yang tak banyak bicara hanya ingin bertanya tentang lqtar belakang shahzad. Setelah Nazulfa mengatakan tentang Shahzad apa adanya yang ia ketahui. Om merasa lega.


"Ok.., besok berarti kalian akan pergi ke kedubes buat apply visa Shahzad kan..., besok biar di antar supir aja jam 8 udah ready ya.., besok biar om bawa mobil sendiri aja.." ujar om Sueb.


"Makasi om..." sahut Nazulfa girang.


Senin, tepat pukul 8.00am Nazulfa dan tante sudah ready dan langsung on the way menuju kedubes yang berada di Kuningan, Jakarta Pusat.


Sampai di gedung Kedutaan Besar Indonesia, Nazulfa langsung menuju resepsionis untuk menanyakkan loket permohonan visa.


Nazulfa telah menerima nomor antrian dan akhirnya map permohonan visa Nazulfa sudah masuk. Petugas mengatakan tunggu dalam satu minggu lagi kita akan menginformasikan jadwal interview untuk anda. Pastikan nomor kontak anda sesuai dengan nomor yang tertera di map permohonan visa.


Mereka pun pulang..


Sudah 5hari belum ada kabar berita pqnggilan untuk Nazulfa. Ia mulai gelisah. Hari ini sudah hari jumat, mengapa masih belum ada kabar berita.


Tante melihat Nazulfa gelisah pun merasa ingin mengajak liburan.


"Nazulfa.., besok weekend.., gimana kalau kita nginap di puncak.. yoookkk.." ajak tante.


"Boleh tante.., asik juga tuh dari pada bosan dirumah terus.." ujar Nazulfa.


"Ok nanti om pulang biar tante bilang dulu mana tau om sibuk gak bisa ikut.." ujar tante.


"Lagiam emang tante dan anak-anak udah lama gak main ke Puncak, tapi bukan Puncak Bogor kita, kita ke villa tante yang di Puncak Sentul aja.. ya.. gimana Nazulfa.." tanya tante.


"Woww.. Tante sekarang udah punya villa..??" tanya Nazulfa kepo.


"Alhamdulillah.. Ada temen om nawarkan tanah di puncak sentul, jadi pas kita cek lokasi nya bagus. Sama on dibangun lah villa ini dari bahan serba kayu agar terlihat lebih alami. Terdiri dari kamar nya 3, kamar mandi 2, Dan tempat santai di bagian bawah juga atas, jadi kalau ada acara kawan-kawan ataupun saudara udah enak. Sedangkan dibelakang villa,tante jadikan kebun buah sirsak." jelas si tante pada Nazulfa.


"Mashallah.. Semoga rezeki tante terus bertambah ya tan...." doa Nazulfa.


"Aminnn.. Aminnn.." jawab tante.


Mereka pun asik bermain di puncak bukit, berfoto dengan view ilalang. Di depan villa sangat ramai sekali orang-orang lewat menggunakan motor trail. Saat malam mereka menghidupkan music dan berkaroke ria.


Saat minggu malam mereka pun kembali ke rumah dan anak-anak si tante esok sudah kembali sekolah.


Senin pagi Nazulfa duduk di teras belakang rumah. Ia menunggu panggilan telepon dari kedubes. Mengapa belum ada kabar. Sudah satu minggu lebih Nazulfa di Jakarta.


Untungnya, Nazulfa telah meminta nomor yang bisa dihubungi pada resepsionis saat di kebubes kemarin. Nazulfa memutuskan untuk menelpon nomor tersebut.


"tiiitttt... tiiiittt... tiiiitt..." bunyi panggilan telepon.


"Kedutaan Besar Indonesia, Selamat pagi..." terdengar suara diseberang sana.

__ADS_1


"Selamat pagi.." jawab Nazulfa.


"Ada yang bisa dibantu.." tanya pemilik suara.


"Saya ingin tanya, saya sudah satu minggu masukkan permohonan visa, namun belum ada konfirmasi." jawab Nazulfa.


"Untuk permohonan visa harap ditunggu saja nanti akan ada pihak yang mengkonfirmasi" jawab petugas informasi itu.


"Baiklah. Kalu begitu terima kasih." tutup Nazulfa.


"Kalau masih disuruh menunggu juga, buat apa mereka memberikan nomor yang bisa dihubungi tapi cuma untuk bilang selamat pagi doang..." gerutu Nazulfa.


******


"Daripada boring lebih baik aku berkeliling komplek. Mumpung masih pagi juga." pikir Nazulfa.


Nazulfa pun berkeliling menggunakan sepeda milik teteh. Di pagi hari banyak penjual sarapan di ujung komplek perbatasan dengan kampung dukuh. Ia pun membeli gorengan di dekat sana. Nazulfa mengayuh sepeda dengan santai sambil melihat rumah-rumah yang besar nan cantik.


Rumah serba putih gerbangnya tengah terbuka. Terlihat bapak dan anak pemilik rumah berada di depan rumah yang ternyata Ustadz Al-Habsy.


Posisi rumah tante berada di bagian belakang dan sudut blok. Komplek ini juga tanahnya sedikit naik turun. Sebab jika duduk di depan rumah kita melihat bagian samping rumah oranglain, dan selalu terlihat seseorang berenang di kolam samping rumahnya. Itulah sebabnya Nazulfa lebih memilih duduk di teras belakang.


Nazulfa yang dari desa bercerita pada tante tentang pemilik rumah putih di ujung blok mereka. Dan ternyata di Perumahan ini banyak rumah artis. Pantas saja semua rumah bagus, rumah si tante yang paling biasa. Hehehe


Malam hari Nazulfa menelpon Shahzad untuk memberitahu bahwa esok ia akan pergi ke kedubes untuk interview.


"Doa kan saya ya.." pinta Nazulfa.


"Pasti la saya doa kan awak, ini untuk kita berdua juga, saya dah tak sabar nak bersama-sama awak Nazulfa." perkataan itu membuat Nazulfa sedikit merona.


Keesokan hari pukul 8.00am, Nazulfa bersama tante sudah on the way menuju kedubes.


Sampai disana.., Nazulfa langsung menuju meja informasi untuk menanyakan ruangan interview.


Ternyata berada di Lantai 12..


Mereka langsung naik ke atas namun salah, bukannya lantai 12 malah 14. Mereka pun harus turun kembali.


Di Lantai 12 ruangan ke arah kiri begitu petunjuk salah seorang petugas.


Sampailah mereka di depan ruangan interview sudah ramai sekali orang-orang tua muda bahkan ada yang membawa baby.


Petugas meminta Nazulfa memperlihatkan bukti ia sudah memasukkan permohonan, lalu petugas itu memberikan nomor antrian.


Lama menunggu sampai tante Nazulfa merasa lapar dan memutuskan turun menuju kantin. Sebab menunggu disana juga tidak ada gunanya. Hanya satu orang bersangkutan saja yang boleh masuk ruangan interview. Yang lainnya hanya menunggu di luar.

__ADS_1


Disebelah Nazulfa ada seorang gadis berfaras cantik jelita. Ia memakai kajal. Nazulfa memberanikan menyapa.


"Sis.. apa kamu akan interview juga..?" tanya Nazulfa.


"Ia benar... Ini interview saya sudah yang ketiga kalinya.." jawab si gadis jelita.


"Kenapa bisa berkali-kali sis..." tanya Nazulfa lagi.


"Sebab beberapa interview tidak lulus, ini adalah terakhir kali aku interview jika tidak lulus aku pasrah sebab aku dari kota ini, kami dari Makassar cukup banyak memakan biaya. Mungkin kami tidak berjodoh." jawab gadis itu dengan wajah sedih.


"Inshallah akan lulus kali ini sis.., tapi kalau boleh tahu dari negara manakah calon sista..?" tanya Nazulfa.


"Dia orang Afghanistan" ujar si gadis.


"Dan kamu kenapa mengikuti interview..?" tanya sang gadis tersebut.


"Aku juga akan menikah dengan pria Pakistan." jawab Nazulfa.


"Calon kamu Pakistani...?" Tiba-tiba kakak yang membawa baby bertanya.


"Benar kak.." jawab Nazulfa.


"Suami saya juga Pakistani.., kami bertemu di Dubai dan menikah disana hingga memiliki seorang putri." jelas si kakak.


"Lalu.. kenapa masih hrus interview kak.. bukankah mudah jika sudah berkeluarga maka visanya di sponsori istri sendiri.." ujar Nazulfa.


"Tak semudah itu, sebab kami menikah di Dubai dan belum tercatat maka suami sampai saat ini belum diperbolehkan masuk ke Indonesia. Apalagi jika suami kita memiliki permit kerja di negara lain akan lebih dipersulit masuk." begitulah penjelasan si kakak.


Mendengar semua itu, Nazulfa merasa down.


Saat giliran Nazulfa pun tiba..


Nazulfa memasuki ruangan. Ia melihat semua orang yang berada di ruangan. Ada sekitar lebih kurang 20 orang dan Nazulfa hanya sendirian.


Proses pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan,belum sempat selesai menjawab sudah ditanya lagi. Imigrasi, tni, polisi, intel, psikolog, dll menurut Nazulfa semua berada di ruangan itu.


Mereka bertanya bagaikan Nazulfa ini bukannya untuk mensponsori calon suami dan akan menikah melainkan seperti bertanya seolah Nazulfa akan membawa masuk *******.


Memang sangat sulit mendapat kepercayaan saat itu, sebab banyak kejadian pengeboman di Indonesia. Dan Osama Bin Laden yang terbunuh di tanah Pakistan menjadikan Negara itu di blacklist banyak negara.


Akhirnya interview selesai, tinggal menunggu hasil yang akan diberitahukan selanjutnya.


..."***Cinta Memang Butuh Perjuangan,...


...Tanpa Perjuangan Cinta itu Tak Akan Ada Artinya***"...

__ADS_1


__ADS_2