
Orangtua Shahzad yang belum mengetahui hubungan anaknya dengan gadis Indonesia, masih saja berusaha mencarikan pasangan hidup untuk putra bungsu nya itu.
Bulan Desember ini Shahzad dan Naeem diharuskan pulang ke Pakistan. Pesta pernikahan Naeem sudah ditetapkan.
Shahzad mengirimkan foto calon istri Naeem pada Nazulfa.
"Mashallah.., sungguh cantik paras wanita Pakistan ini.." gumam Nazulfa
Shahzad dan Naeem sudah memesan tiket untuk kepulangan mereka. Satu minggu lagi mereka akan kembali ke kampung halaman mereka.
Malam hari sambil packing barang yang akan dibawa, Shahzad menelpon Nazulfa..
"Assalamualaikum.." ucap Shahzad
"Waalaikumsalam.." sahut Nazulfa
"Ini saya tengah pack barang, disana musim sejuk, semalam saya dan Naeem pergi shoping beli beberapa blankets, watch, dan oleh-oleh untuk keluarga." kata Shahzad.
"Wah..., pasti keluarga awak bahagia sekali menyambut kepulangan kalian.." ujar Nazulfa.
"Saya rindu Ami ji, Abu ji, saudara-saudara, dan kampung saya. Sejak saya ke Malaysia, saya belum pernah pulang ke Pakistan. Ini adalah kali pertama saya pulang, nanti saya sekalian mengurus dokumen nikah kita juga." ujar Shahzad.
"Saya doa kan awak sehat selamat sampai Pakistan sampai bejumpa ami ji abu ji dan keluarga awak." sahut Nazulfa.
"Awak juga baik-baik, jaga diri, sehat-sehat ye.. Tunggu saya balek Malaysia bawa semua dokumen yang kita perlukan untuk menikah." ucap Shahzad.
"Inshallah.., pasti saya tunggu awak. Jangan risaukan saya di Indonesia kan sama family." ujar Nazulfa.
"Saya balek Pakistan cuma 2 minggu saja, bukan lama..., sebab cuti kerja pun tak boleh lama.., banyak event di akhir tahun dan awal tahun." tegas Shahzad.
"Okay.." jawab Nazulfa.
Setelah itu mereka pun mengakhiri pembicaraan dan menutup telepon.
Tanpa terasa hari dimana Shahzad dan Naeem berangkat telah tiba. Mereka sudah berada di gate KLIA. Menunggu penerbangan PIA (Pakistan International Airline).
Terdengar informasi agar penumpang segera memasuki pesawat. Mereka pun terbang selama lebih dari 6 jam.
Pesawat PIA dari Kuala Lumpur telah mendarat di Alama Iqbal International Airport. Shahzad dan naeem tengah mengurus bagasi mereka yang hampir 100kg beratnya.
Sedangkan di pintu keluar keluarga mereka sudah menunggu. Ami ji, Afsha atau biasa di panggil Guriya adalah adik perempuan Shahzad, juga abangnya yang di Lahore.
__ADS_1
Saat Shahzad dan Naeem keluar langsung memeluk ami nya tercinta.. Lalu abangnya dan juga adiknya..
Semua orang bahagia dan ami ji terutama paling bahagia. Apalagi kepulangan kedua putranya itu untuk melangsungkan pernikahan.
Namun yang sedikit membuat ami resah karena Shahzad yang masih belum mau dinikahkan.
Satu malam mereka beristirahat di rumah abang yang tak jauh dari airport Lahore, dan keesokan harinya langsung kembali ke desa di Samriyal, Sialkot.
Sampai di desa semua orang menyambut mereka penuh cinta.. Terlihat sudah banyak perlengkapan untuk acara Mehndi yang akan dibuat di rumah.
Hanya beberapa hari lagi saja tanggal pernikahan Naeem. Hari ini semua saudara kandung Shahzad telah sampai di Pakistan. Uk, Manchester, Saudia, dan Dubai. Hanya Shahzad dan Naeem lah yang di Malaysia sebab bahasa english mereka yang tidak begitu bagus.😁
Sejak kecil Shahzad jika malam sebelum tidur ia selalu massage kaki ami ji. Dan malam ini ia juga tengah melakukannya. Ami ji bertanya pada Shahzad.
"Mera puter.. Malaysia ki hale?" tanya ami ji dalam bahasa Punjabi.
(Anakku.. Bagaimana Malaysia).
"Tikh hai ma ji.. Malaysia bohut acha hai.." jawab Shahzad pelan.
(Baik ma ji, Malaysia sangat bagus)
Sebenarnya dalam hati seorang ibu sudah terdetak sesuatu terjadi pada anaknya di Malaysia. Sampai Shahzad menolak permintaan ami nya. Sejak kecil Shahzad tidak pernah membantah kedua orangtua nya. Apa pun yang dikatakan oleh ibunya pasti ia lakukan. Namun mengapa saat ini Shahzad selalu menolak permintaan ibunya itu. Meskipun secara halus dan lembut, tapi hati ami ji sedih sebab baru pertama kali Shahzad berubah sikap seperti ini.
"Mera betha.. Shadi karlo.. Hamari pass pehle se hai eik umiduar hai." ujar ami ji.
(Anakku.. Menikahlah.. kita sudah memiliki calon yang siap menikah).
"Mere pyari ma.. Mujhe maaf karna.. Meine idher nahi shadi karunga." ucap Shahzad sambil bercanda. Padahal dalam hatinya itulah yang sebenarnya.
Mendengar jawaban Shahzad ibunya pun tertawa sebab anaknya menyampaikan seperti lelucon. Ami ji berpikir mungkin anaknya hanya belum ingin berumahtangga.
Di karenakan sibuk bersama keluarga besarnya, dan juga persiapan pernikahan Naeem. Shahzad lupa memberitahu Nazulfa bahwa saat ini ia sedikit sibuk.
Sebelum berangkat ke Pakistan, Shahzad juga lupa memberitahu bahwa desanya itu sulit sekali dapat signal. Rumahnya juga belum memasang wifi. Jadi selama ia di Malaysia biasa menelpon ke Pakistan dengan pulsa.
Sedangkan di Indonesia, Nazulfa yang ditinggalkan sudah meresa resah dan gelisah. Nazulfa memutuskan kembali ke desa orangtuanya sebab kini ia pun telah berhenti bekerja.
Hari pertama Shahzad di Pakistan, Shahzad hanya mengirimkan pesan singkat bahwa ia telah landing dengan selamat.
Setelah itu berhari-hari Shahzad tidak memberi kabar apa pun. Nazulfa yang sudah berpikir macam-macam kini hanya menatap keluar jendela kamarnya.
__ADS_1
Mengapa hatinya merasa sakit dan seperti berdetak kencang. Ia sudah tidak dapat menahan perasaan.
Ia memutuskan untuk membeli pulsa 50rb untuk menelpon Shahzad.
"Tuuttt... tuuutt... tuuttt..." bunyi panggilan Nazulfa.
"Halo... Assalamualaikum.." suara Shahzad pelan.
"Waalaikumsalam.. Awak apa kabar.. Kenapa saya tak bole whatsaap awak.." tanya Nazulfa.
"Saya baik.. Maaf saya sibuk sangat sampai lupa bagi kabar.." jawab Shahzad.
"Tiiiitttt.." Tiba-tiba bunyi panggilan telah mati.
Saat Nazulfa cek pulsa 50rb nya sudah lenyap.
Tapi hatinya merasa sedikit lega sudah mendengar suara Shahzad.
Saat Nazulfa akan keluar dari kamarnya, handphone nya berbunyi.. Ia pun melihat ke arah hp nya itu.
"Panggilan video call whatsapp dari Shahzad.." gumam Nazulfa
"Helloo.. Nazulfa.." panggil Shahzad darisana.
"Ya Shahzad," jawab Nazulfa tersenyum.
"Lihat ini saya ada di atas rumah, dibawah signal tak boleh dapat. Cuba tengok ini adalah desa saya (sambil membalikkan kamera belakang). Disini tengah musim sejuk.." kata Shahzad menceritakan bagaimana suasana disana.
Terlihat jelas saat Shahzad berbicara dari mulutnya keluar seperti asam atau uap karna udara dingin.
Tak lama bicara, adiknya manggil Shahzad untuk turun. Ia diminta mencoba pakaian untuk acara mehndi, Nikah, Baraat dan Walima nanti.
"Mehendi" adalah malam berinai. Dilaksanakan secara terpisah antara keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita. Disana seluruh keluarga akan mengusapkan minyak di rambut sang pengantin, mengoles mehendi di telapak tangan yang telah di alasi, dan menyuapkan barfi ke mulut pengantin.
"Barfi" adalah manisan ala India dan Pakistan berwarna putih terbuat dari gula dan susu.
Acara nikah hampir sama dengan Indonesia, sebab Pakistan juga negara Islam. Hampir 90% dari bangsa Pakistan menganut agama Islam.
"Baraat" adalah acara resepsi di keluarga mempelai wanita, dan melaksanakan beberapa ritual adat. Lalu wanita tersebut langsung dibawa pulang ke rumah keluarga mempelai pria.
"Walima" adalah acara resepsi di keluarga mempelai pria. Di Indonesia biasa kita sebut "Ngudoh Mantu".
__ADS_1
Begitulah rangkaian adat budaya Pakistan, dan masih banyak lagi belum dapat dijelaskan secara rinci.