Perjuangan Cinta Beda Negara

Perjuangan Cinta Beda Negara
Restu Seorang Ibu


__ADS_3

Guriya telah berhasil menenangkan hati ibunya, namun tetap saja sepanjang malam ibunya hanya melamun.


Sesekali ibunya tersenyum sendiri memikirkan masa kecil Shahzad. Shahzad anak laki-lakinya paling kecil. Semua berpikir ia lah anak bungsu, sebab lama baru Guriya ada. Kemanapun ibunya selalu membawanya pergi. Dan sejak kecil hingga dewasa Shahzad masih manja. Semua permintaannya selalu di turuti ibunya.


Mungkin ibunya bukan tak menyetujui, namun ibunya sangat takut kalau harus kehilangan putera yang paling ia cintai. Ia ketakutan jika Shahzad menikahi gadis asing maka "Ia tak kan kembali lagi melihatku" dalam benak ibunya.


Shahzad pun sangat memahami ibunya, ia dapat merasakan ke khawatiran ibunya. Pasti ibunya takut ia tak kan kembali ke Pakistan jika ia menikahi Nazulfa.


Masalah ini sudah dari awal dibicarakan Shahzad pada Nazulfa. Jika nanti mereka menikah Nazulfa harus bersedia dibawa ke Pakistan tapi bukan untuk selamanya tinggal disana, karna kerja Shahzad pun di Malaysia. Nazulfa juga sudah menyetujui nya.


Pagi selesai sholat subuh, ibunya memanggil Guriya untuk menelpon Shahzad.


"Assalamualikum..." ujar ami.


"Waalaikumsalam.., ami ji.." sahut Shahzd haru.


"Mera betha.. Kya hal hai betha..?" ujar ami sendu


(Apa kabar anakku)


"Tikh hai ma ji.. Ami ji kya hal hai.." tanya Shahzad dengan nada sedih, sebab tadi malam membuat ibunya menangis.


"Betha.. Pakistan mein shadi karo betha..?!" pujuk ami ji.


(Menikahlah di Pakistan, anakku...)

__ADS_1


"Mujhe yaha sab se khubsurat larki milenge.." bujuk ami lagi


(Aku akan mencarikan gadis paling cantik untukmu)


Sebab ia tahu watak anak bungsunya itu semua permintaan harus dituruti. Jadi ami membujuk secara lembut.


"Nahi ami.., main sirf Nazulfa se shadi karunga" ujar shahzad


(Tidak ami.., aku hanya akan menikahi Nazulfa)


"Agar ma manzur na hoi tu main se shadi nahi karunga, lekin wa pass Pakistan bhi nahi jaunga" ujar Shahzad.


(Jika ibu tidak restui maka aku tidak akan menikahinya namun aku juga tidak kembali ke Pakistan)


Mendengar ancaman Shahzad hati ibunya itu pun akhirnya memutuskan untuk merestui hubungan mereka.


(Anakku, siapa nama gadis itu)


"Nazulfa, Nazulfa.. ami" ujar Shahzad.


"Mashallah.. Mashallah.." jawab ami.


"Nazulfa binti Syaifullah, Nazulfa ki ma nam Halima" begitu lah dijelaskan Shahzad.


(Ayahnya Syaifullah dan Ibunya Halima)

__ADS_1


"Photo have..." tanya ami


(Foto Nazulfa ada)


"Have ami.." jawab Shahzad.


"Lekin.., Mujhe Promise karo tum aksar wa pass mujhe dekho" pinta ibunya


(Namun, Berjanjilah padaku kau akan sering kembali untuk melihatku)


Dengan segera Guriya berlari ke rooftop mencari signal. Shahzad juga segera mengirimkan foto nya. Padahal sebenarnya foto Nazulfa sudah pernah dikirimkannya pada abangnya di Lahore, namun ternyata belum ada yang berani mengatakan pada ibunya. Sampailah akhirny Shahzad sendiri yang mengatakannya.


Foto Nazulfa pun telah terkirim dan diterima Guriya dan ia pun segera turun menemui ibu nya.


Ditunjukkan foto Nazulfa berhijab dengan senyum sederhana. Ibunya melihat wajah Nazulfa yang teduh. "Nampak gadis ini sangat sederhana." gumam ibunya dalam hati.


Hanya saja ibunya berkata pada Guriya, lihatlah Guriya gadis ini tidak lah cantik namun abangmu sudah tergila-gila. Mungkin ia memiliki hati yang lembut dan tutur bahasa yang manis.


Ibunya hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan anaknya itu. Semoga Allah selalu bersama Shahzad dan menjaga nya dimanapun berada.


"Doa Seorang Ibu Menembus Langit"


Doa seorang ibu untuk anaknya akan membawa keberkatan hidup di dunia, kemuliaan,


membuka pintu rezeki dan hidayah, dan mengeluarkan dari kesulitan dan kesedihan.

__ADS_1


Begitulah dahsyat nya doa seorang ibu..


"Dan apabila mata ibumu sudah tertutup maka hilanglah satu keberkatan di sisi Allah swt yaitu Doa Seorang Ibu"


__ADS_2