Perjuangan Cinta Beda Negara

Perjuangan Cinta Beda Negara
Ke Jakarta


__ADS_3

Shahzad adalah pria yang tidak suka berjanji, sebab baginya janji harus ditepati.


Meskipun ia sulit menolak permintaan orangtuanya untuk menikah dengan pilihan keluarga, bukan karna ia tidak menyanyangi kedua orangtua nya, bukan pula sebab hati telah jatuh cinta, sebab cinta bisa saja di tata kembali dengan kebersamaan.


Lebih di atas cintanya ia telah berjanji kepada gadis Indonesia itu, berjanji kepada keluarga sang gadis tersebut. Maka ia tidak akan mengingkari. Baginya manusia yang boleh kita pegang hanya kata-kata nya saja. Begitulah prinsip Shahzad.


Shahzad sudah mengirimkan semua dokumen untuk persyaratan menikah kepada Nazulfa melalui Pos Laju Malaysia. Ia meminta Nazulfa untuk mengurus permohonan visa untuknya supaya boleh menikah di Indonesia.


******


Sekitar 1mingguan lebih paket dari Shahzad tiba, semua dokumen sudah ditangan Nazulfa. Ia langsung membawa semua persyaratan yang sudah dilengkapi ke kantor imigrasi di Medan, saat itu ia langsung menuju ke bagian urusan asing. Bertemu dengan seorang yang menjelaskan tentang pernikahan beda negara.


"Selamat pagi pak..." ucap Nazulfa.


"Pagi mbak.." jawab si bapak imigrasi.


"Begini pak, saya akan menikah dengan warga negara asing..., kami ingin melaksanakan di Indonesia.." ucap Nazulfa.


"Dari negara mana mbak.." tanya si bapak.


"Pakistan..." jawab Nazulfa.


"Oalah... kenapa harus Pakistan sih dek.." gumam si bapak imigrasi.


"Kenapa pak.. kenapa dengan Pakistan.." tanya Nazulfa heran.


"Bukan apa-apa..., tapi negara Pakistan adalah negara blacklist,, sangat sulit untuk mendapatkan visa apalagi kamu ingin menikah.." jelas si bapak imigrasi.


Tanpa menyerah.., Nazulfa memohon pada si bapak untuk memberitahunya apa saja proses untuk memdapatkan visa, dan di mulai dari mana.


Saat itu si bapak atau petugas imigrasi bagian urusan asing menjelaskan lalu menuliskan di selembar kertas.


Sungguh sangat sulit proses yang harus dilewati.


Semua dokumen warga asing dan juga yang mensponsori dibawa ke KEDUBES yang ada di Jakarta. Lalu apply visa disana. Mengikuti sidang atau interview. Jika beruntung visa akan diterbitkan. Lalu saat orang asing sudah sampai di Indonesia, semua dokumen persyaratan nikah dibawa ke KEDUTAAN PAKISTAN yang juga berada di Jakarta, untuk mendapatkan CNI. Jika sudah mendapatkan CNI barulah KUA bisa menikahkan secara resmi dan tercatat oleh negara.


Certificate of No Impediment (CNI) alias surat single, yaitu surat keterangan yang menyatakan bisa menikah dan akan menikah dengan WNI. Surat ini dikeluarkan oleh instansi yang berwenang di negaranya, seperti kedutaan. Fotokopi kartu identitas (KTP) dari negara asal calon suami atau istri.


Begitu sulit dan ribet urusan pernikahan beda negara. Dan yang pasti semua ini akan menghabiskan banyak biaya dalam pengurusannya.


Setelah mendengar penjelasan dari pihak imigrasi, Nazulfa yang tak sabar ingin memberitahu Shahzad pun langsung pulang lalu pergi mandi.


Sudah fresh rasa badan, kepala sedikit terasa dingin karna tadi sudah pusing bukan kepalang mendengar penjelasan bapak imigrasi.

__ADS_1


"Subhanallah... Jho ho raha hai.. Pehli dafa hai ballahhh..." bunyi nada panggilan whatsapp Shahzad.


"Assalamualaikum.. Halo.." ucap Shahzad mengangkat panggilan itu.


"Waalaikumsalam.. Shahzad.." sahut Nazulfa.


"Bagaimana... Hari ini bukankah awak dah pergi imigration.." tanya Shahzad.


"Betuuull... Saya baru balek dari sana.. Lama saya kat dalam sebab minta penjelasan secara detail.." jawab Nazulfa.


"So macam mana..?? Ada kabar baik ke..??" harap Shahzad.


"Imigration cakap kita boleh menikah, tapi disebabkan Pakistan adalah negara blacklist, maka banyak proses yang harus dilewati.. Itu pun belum tentu dapat.." jelas Nazulfa.


"Jadi bagaimana... Dia cakap kita mesti buat apa.. Inshallah saya akan berusaha sampai kita boleh bersama.." ujar Shahzad.


Mendengar pernyataan Shahzad, Nazulfa yang tadinya sudah lemas kini bersemangat lagi.


"Apa awak betul-betul nak berjuang untuk pernikahan kita.." tanya Nazulfa.


"Pasti la Nazulfa, saya sudah berjanji dari awal akan menikah hanya sama awak, saya dah tolak semua gadis pilihan keluarga saya." jawab Shahzad penuh kemantapan.


"Tapi ini akan menghabiskan banyak uang Shahzad..., apa awak tak masalah..?" tanya Nazulfa ragu.


"Setidaknya masih ada kesempatan" begitulah dalam benak Shahzad.


"Ok.. Kalau macam tu nanti saya atur waktu bila saya boleh pergi Jakarta untuk uruskan, sebab Jakarta bukan dekat, 2 jam by flight jika saya nak kesana." jelas Nazulfa.


Keesokan harinya, Nazulfa mencoba nelpon tante nya yang berada di Jakarta, ia berniat ketika di Jakarta, ia bisa tinggal di rumah tante. Dan bisa menemaninya ke KEDUBES.


Alhamdulillah.. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Si tante langsung memberikan sambutan pada Nazulfa dan sangat senang mendengar Nazulfa akan tinggal dirumahnya.


Tante Habsah adalah sepupunya mama Nazulfa, ia sudah lumayan lama menetap di Jakarta karna ikut suami yang ditugaskan disana.


Nazulfa pun langsung memberi kabar baik ini pada Shahzad. Dan segera mempersiapkan keberangkatannya.


Shahzad mengirimkan uang kepada Nazulfa melalui western union. Uang itu untuk biaya pengurusan visa dan juga sangat cukup untuk semua kebutuhan Nazulfa saat di Jakarta.


"Pesawat Udara Lion air dengan nomor penerbangan *** telah mendarat.." terdengar informasi bandara.


Nazulfa langsung keluar dan di depan sudah ada pak supir nya Om yang menunggu. Pak supir membantu memasukkan bagasi, dan mereka langsung menuju rumah.


"Assalamualaikum......" ucap Nazulfa penuh semangat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..... Masuk.. Masuk..." sahut tante.


"Teh.. Teteh.. Sini ada kak Nazulfa udah sampai.." tante memanggil anak-anak nya penuh semangat dan gembira.


Teteh dan aak pun langsung memberikan salam pada Nazulfa..


"Teh.. Nanti kk Nazulfa bobonya sama teteh ya.. jadi barang-barang nya langsung di bawa ke kamar teteh aja bik.." perintah tante pada pada pembantu di rumah tante.


"Mandi dulu sana gih.." perintah tante pada Nazulfa.


Nazulfa pun beranjak masuk kamar teteh lalu mandi..


"Nah.. sekarang baru seger kan.., baru kita asikk ngobrol nya santai.., kalau ngantuk tidak tidur.." ujar tante Habsah.


"Iya tan.. Lelah betul perjalanan hari ini.." ucap Nazulfa.


"Jadi gimana ceritanya sih, kok bisa mau urus nikah sama orang Pakistan.. Emang seriusan mau nikah sama orang asing..?" tanya tante Habsah.


"Ia tan.. Awalnya pertemuan kami singkat kali pun tapi mungkin perasaannya dah mantap, aku pun mikir dia juga baik dan sayang.., jadi ya udah kami coba dulu aja urus.." jelas Nazulfa.


"Esok masih hari minggu.., kita jalan-jalan dulu aja ya.. Lusa baru tante temeni ke kedubes." ujar tante.


"Baiklah tante.. Makasi udah mau bantuin aku.. Makasi banyak tan.." ucap Nazulfa.


"Macam siapa aja pun..." ucap tante sambil tersenyum.


Tanpa terasa sudah larut malam, Nazulfa masuk kamar barulah reringat ia belum memberi kabar pada Shahzad bahwa ia sudah sampai.


Ia pun langsung mengambil hp nya yang sedari tadi di cas. Di lihatnya banyak panggilan tak terjawab. Hp nya diberi mode silent sebab saat di mobil tadi ia tak ingin berisik.


"Halo.. Shahzad.. Maaf lupa call awak.." Nazulfa langsung berbicara panik saat Shahzad angkat panggilan darinya.


"Assalamualaikum.." sindir Shahzad


"Ouh iya.. Walaikumsalam.., hhehehe" jawab Nazulfa malu.


"Ok tak pe, tapi memang tadi saya rasa mau marah.." ujar Shahzad.


"Tu kan.. Jangan lah marah-marah Shahzad.., tapi saya sampai airport langsung dijemput.., sampai rumah terus mandi cakap-cakap tak rasa dah tengah malam.., masuk bilik cari hp teringat sama awak..." jelas Nazulfa.


"Hmmmm... ie lah.. kalau dah jumpa kawan cakap, mesti lupa sama saya.." sindir Shahzad.


"Mana ada macam tu..., terus awak pandai cerita.." jawab Nazulfa.

__ADS_1


Kini Nazulfa pun menguap dan merebahkan badannya, ia pun bersiap untuk tidur...


__ADS_2