Perjuangan Cinta Beda Negara

Perjuangan Cinta Beda Negara
Pulang ke Tanah Air


__ADS_3

Tanpa terasa sudah hampir satu tahun lamanya mereka berada di Pakistan.


Hidup diantara keluarga Pakistan selama ini membuat Nazulfa mampu mengerti tata cara adat istiadat bangsa yang terkenal dengan Pria Tampan itu. Perlahan ia pun menjadi sama seperti mereka. Mulai dari makanan sampai penampilan Nazulfa pun sudah persis pakistani girl.


Hanya saja ia tidak mampu meredam perasaan ingin bebas seperti gadis di Indonesia. Ia tetap ingin menjadi independent woman yang tidak bergantung pada suami dan keluarga.


Nazulfa merupakan karakter yang sulit untuk di atur. Karna ia tahu persis apa yang harus ia lakukan maupun tidak harus ia lakukan.


Setahun ini kebersamaan keluarga akan menjadi kenangan manis untuk Nazulfa pada saat ia kembali ke tanah air.


Ia akan kembali ke Indonesia dua minggu lagi. Tiket first class untuknya dan anak kembarnya telah di belikan oleh abang ipar yang berada di London.


Keluarga Shahzad yang penyayang ikhlas melepas dirinya dan kedua anak kembar nya untuk kembali ke tanah kelahiran mereka.


Mungkin lebih baik untukku dan anak-anakku jika menetap di Indonesia. Karna terlalu banyak hal yg harus dilalu saat berada di Pakistan.


Wajah shahzad mulai melukiskan kesedihan, sebentar lagi mereka akan berpisah. Karna Shahzad tidak bisa ikut bersama Nazulfa kembali ke Indonesia. Shahzad menantikan visa kerja Malaysia nya di Pakistan. Ia hanya mengirim kembali anak istrinya lebih dulu.


Kini tinggal satu minggu lagi waktu kebersamaan mereka. Shahzad tidak ingin kehilangan setiap kesempatan bersama Nazulfa. Mereka terus memadu kasih siang dan malam.


Ibrahim dan Yusouf putra kembar mereka kita berusia hampir 2tahun. Mereka mulai berbicara seperti orang Pakistan. Mereka meggunakan bahasa urdu mix punjabi. Sebab selama di Pakistan mereka hanya mendengar pembicaraan setiap orang dengan bahasa pakistan ataupun english.


Hari ini mereka pergi untuk melakukan test PCR. 3hari sebelum keberangkatan. Setelah itu mereka langsung menuju kota Lahore dan bermalam di rumah abang Shahzad.


Pergu membeli beberapa snack untuk persediaan anak-anak agar tidak rewel. Malam ini Nazulfa kembali membereskan barang bawaannya hingga tidak satupun yang tertinggal.


Malam semakin larut namun mata pasangan suami istri itu tidak bisa terpejam.

__ADS_1


Anak-anak telah tidur nyenyak sekali. Suasana hening.


Shahzad mendekap tubuh kecil Nazulfa. Tanpa satu patah katapun mereka berpelukan erat. Seolah tidak ingin berpisah. Malam yang penuh kepiluan bagi dua orang insan yang saling mencintai. Malam ini adalah malam terakhir kebersamaan mereka. Jika umur panjang maka mereka akan bertemu kembali meski tidak tahu kapan pastinya.


Fajar menyingsing, cahaya matahari memasuki jendela kamar mereka. Orang-orang diluar sana telah sibuk membuat paratha untuk sarapan. Kami baru terbangun.


Ibrahim dan Yusouf masih tidur pulas. Shahzad mengecup kening Nazulfa dengan tersenyjm dan kembali merangkul kepala Nazulfa kedalam dekapannya. Hari ini hari keberangkatan Nazulfa.


Penerbangan malam masih menyisihkqn waktu untuk Nazulfa dan Shahzad berjalan-jalan. Mereka pergi quality time berduaan saja. Berkeliling, berbelanja, serta makan.


Anak-anak mereka titip bersama para ponakan yang umurnya tak jauh berbeda dengan nazulfa.


Sesampainya mereka di rumah, hari telah petang.


Nazulfa bergegas mandi berpakaiandan sedikit merias wajah dengan natural.


Pukul 8.00pm mereka berangkat menuju Alama Iqbal International Airport yang berada di Kota Lahore.


Masa Corona tidak memberikan setiap orang untuk ikut mengatar. Hanya keluarga terdekat yang boleh masuk seperti suami.


Shahzad sendiri yang mengantarkan Nazulfa masuk sedang yang lainnya menunggu di parkir bandara.


Di depan pintu masuk menuju check in counter Shahzad sudah tidak di perbolehkan masuk lagi.


Disana lah tempat terakhir perpisahan mereka. Suasana tetap ramai keberangkatan meskipun di masa pandemi. Terlihat semua orang sibuk.


Shahzad memanggil seorang airport service untuk membantu Nazulfa membawa bagasinya, sebab Nazulfa hanya bisa mendorong stroller anak kembarnya. Sehingga ia nanti mesti akan membutuhkan helper di setiap bandara.

__ADS_1


Di saat helper telah siap membawa masuk trolley bagasi Nazulfa, namun Nazulfa kembali berbalik dan memeluk erat Shahzad dengan meneteskan airmata.


Ia tidak mampu membendung airmata yang telah ia tahan sejak tadi. Mata mereka saling memandang penuh kesedihan. Shahzad membelai kepalanya dan berkata "Jaga diri dan anak-anak kita dengan baik, Saya akan segera menyusul kalian."


Shahzad melepas pelukannya dan meyuruh helper segera membawa masuk. Nazulfa berulang kali menoleh hingga wajah suaminya tak terlihat lagi oleh pandangan.


Setelah check in selesai mereka menuju gate menunggu pesawat mereka.


Emirate Airline tujuan Dubai pun telah meminta mereka masuk ke dalam pesawat. Perjalan Lahore to Dubai memakan waktu 3jam.Mereka harus transit di Dubai selama 6jam barulah nanti berganti pesawat menuju Jakarta. Dan dari Dubai to Jakarta sekitar 7-8jam.


Nazulfa hampir tidak bisa melihat hp karna sibuk menjaga si kembar yang suka berlarian kesana kemari. Sungguh lelah sekali membawa anak kembar tanpa babysitter.


Di airport Dubai Nazulfa banyak dibantu oleh orang asing yang juga melakukan transit. Anak-anaknya banyak mendapat snack dari berbagai negara. Mereka sangat suka melihat anak kembarnya yang super active.


Tiba di Jakarta Nazulfa meminta pramugari memanggil seorang airport service untuknya. Seorang helper pun tiba dan membantunya menuju imigration lalu lokasi pengecekan data covid. Bagi yang tidak memiliki test PCR mereka harus melakukan rapid test swab kembali di lokasi yang telah di tentukan.


Nazulfa sampai di jakarta sekitar pukul 11.00pm dan akan melanjutkan penerbangan ke Medan esok hari dengan penerbangan pertama Batik Air.


Malam ini mereka menunggu di Hotel dekat airport disana membersihkan diri dan anak-anak serta beristirahat membaringkan badan sejenak.


Esoknya taxi airport pesanan pun telah berada di lobby hotel dan membawa mereka menuju gate Domestic Batik Air.


Mereka pun kembali mengudara selama 2jam an hingga sampailah mereka landing di Kualanamu International Airport di kampung halamannya Medan, Sumatera Utara.


Total penerbangan mereka di udara sekitar 12 13jam. Dengan waktu transit selama 12jam. Cukup melelahkan sekali perjalanan mereka.


Namun ketika keluar dari pintu kedatangan telah terlihat keluarga yang berlari menghampirinya dan anak-anaknya. Ayah Ibu serta kak Syaqira yang menjemput mereka ke bandara. Lelah perjalanan sejenak hilang dengan bertemunya keluarga tercinta. Nazulfa pun langsung video call suaminya memberi kabar mereka telah sampai dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2