
Hari demi hari mereka lalui penuh kesedihan. Canda tawa ketika video call sudah hampir tak pernah ada. Harapan untuk bersama telah hilang. Buat apalagi hubungan diteruskan jika hanya menambah luka, toh pada akhirnya tak dapat bersama.
Nazulfa sudah pasrah dan menyerah. Sedangkan bagi Shahzad cinta tulusnya akan membawanya pada suatu hari bahagia.
Shahzad tak berhenti berjuang mencari cara lain. Padahal di satu sisi lain orangtua nya saja belum mengetahui hubungannya dengan Nazulfa, meskipun semua persyaratan dokumen nikah sudah ada tapi tetap saja jika orangtua kandung tidak tahu dan tidak ridho maka semuanya akan sulit.
Nazulfa merasa mungkin ada yang kurang hingga mereka sulit untuk bersatu. "Apakah Shahzad belum juga berterus terang pada ami dan abu?" pikir Nazulfa.
Ia pun bergegas mengambil hp dan langsung vc Shahzad..
"Shahzad.. Assalamualaikum.." ucap Nazulfa.
"Waalaikumsalam.. Ya.." ujar Shahzad.
"Saya nak tanya, ami ji dan abu ji mesti belum juga tahu tentang kita.. kan?" tanya Nazulfa.
"Tak pe, masalah ami dan abu kan abang dah bagi tahu dia orang yang akan mengatakan pelan-pelan." kata Shahzad menjelaskan.
"Tapi kan.. Bisa saja semua usaha kita sulit sebab ada orang yang penting belum merestui.." ujar Nazulfa.
"Awak tak payah risau.. Jika tak restu kenapa abang saya semua ok dan buatkan dokumen yang awak minta.." jawab Shahzad.
"Hmmm.. Ok lah.. Kalau macam tu mungkin memang belum waktunya kita bersama." ucap Nazulfa.
"Percayakan pada Allah saja.." ucap Shahzad.
"Nazulfa..., macam mana kalau kita menikah kat Malaysia saja..?" tanya Shahzad.
"Bolehke menikah kat sane resmi tercatat..?" tanya nazulfa kembali
"Mestilah boleh saya rasa sebab ramai juga pasangan yang menikah di negara ketiga.." ujar Shahzad
"Ok.. Baiklah.. Kalau macam tu mungkin ini jalan terakhir kita.." sahut Nazulfa.
Shahzad mencari informasi cara menikah di negeri menara kembar itu. Ada seorang teman memberitahuny untuk pergi ke Putra Jaya disana ada kantor besar urusan agama.
Ia pun bergegas pergi ke Putra Jaya, setelah minta izin cuti kerja pada bos nya.
Di dalam train Shahzad terus chatingan dengan Nazulfa. Mereka merasa bersemangat kembali.
Sampailah di Putra Jaya, lalu Shahzad mencari taxi untuk menuju lokasi tujuan.
Di Mahkamah Urusan Agama sangat ramai, Shahzad pun mengambil antrian. Lalu menunggu panggilan di ruang tunggu.
Kini saat giliran Shahzad dipanggil. Ia pun langsung menuju meja C.
__ADS_1
"Maaf.. Ada yang bole saya bantu.." tanya petugas mahkamah.
"Saya nak tanya persyaratan menikah di Malaysia.." ujar Shahzad.
"Calon awak orang Malaysia..?" tanya petugas.
"Bukan.. Kita sama-sama dari negara lain.. calon saya berasal dari Indonesia.." jawab Shahzad.
Petugas memberikan selembar kertas, lalu ia menandai yang mana saja poin yang harus di siapkan.
"Tapi awak disini memakai permit apa..?" ditanya petugas kembali.
"Saya permit kerja.." jawab Shahzad.
"Ouh.. Maaf.. Permit kerja tak diperbolehkan menikah di Malaysia. Pemegang permit kerja jika ingin menikah di Malaysia harus membuang permitnya terlebih dahulu.." jelas petugas mahkamah.
Mendengar penjelasan dari pihak mahkamah membuat Shahzad lesu. Mengapa tidak ada jalan atau kesempatan untuk mereka.
Shahzad teringat perkataan Nazulfa tentang pentingnya orangtua mengetahui hubungan mereka.
"Mungkin jika restu kedua orangtua telah ada semua akan baik-baik saja. Tidak se sulit ini." berkata dalam hati
"Ya Allah... Tolong bantulah kami menuju halal." doa Shahzad dalam hati.
Nazulfa sudah berada di titik Pasrah dan Ikhlas!!
Malam hari Shahzad mengisi pulsa banyak dari biasanya. Ia telah memutuskan memberitahu kedua orangtuanya. Setuju tak setuju intinya dia harus mengatakan pada mereka.
"tiiitttt... tiiiittt.." bunyi panggilan.
"Halo Assalamualaikum.." Guriya adik Shahzad menjawab panggilan.
"Waalaikumsalam.. Ami abu kaha hai? tanya Shahzad.
(bertanya dimana ami dan abu).
"Yeh ami.." sahut Guriya sambil menyerahkan pada ibunya.
"Ami... Mein Indonesia larki se shadi karunga" ujar Shahzad.
Ibu Shahzad terdiam sesaat mendengar pernyataan anak kesayangannya itu.
"Kya....? Bohot ziyada mazak nahi kare" ujar ami
(jangan terlalu banyak bercanda).
__ADS_1
"Amii.. Main such *** ta hu.." ujar Shahzad
(Aku bicara yang sebenarnya).
Ami tak bisa berkata apa-apa lagi hanya diam dan meneteskan airmata. Ia tak ingin melanjutkan pembicaraan dan mematikan telepon. Abu ji yang tak tahu mengapa ami menangis pun segera datang dan bertanya.
Guriya yang sedari tadi mendengarkan pembicaran Ami dan Shahzad pun menjelaskan perlahan pada abu.
Abu memeluk ami sambil mengusap punggung ami agar tangisnya mereda.
Abu mendengar berita itu seperti tidak ada reaksi apa pun. Sebab abu punya pemikiran bahwa jodoh manusia ada di tangan Allah bukan di tangannya sebagai orangtua. Dia dapat memahami situasi ini.
"Koi bat nahi hai.. Yeh sab khuda ki takdir hai.." ujar abu ji.
(Sudahlah.. Ini adalah takdir Allah swt).
"Mujhe der hai ki kuch ho jaye gha" kata ami
(aLAku takut terjadi sesuatu padanya).
Abu ji pun memeluk kembali ami. Guriya pun ikut menangis. Mengapa abangnya tega berbuat seperti ini. Naeem yang masih berada di Pakistan datang mendengar berita yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama.
Naeem hanya bisa geleng kepala melihat tingkah adiknya yang keras kepala.
Naeem menenangkan ami dan berkata semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi. Ami jangan khawatir.
Shahzad tidak bisa tidur. Takut ami nya kenapa-napa disebabkan oleh tingkahnya hari ini. Dia sangat khawatir.
Shahzad pun menelpon kembali..
"Halo.. Guriya.." panggil shahzad.
"Hmm.. Kyu.." jawab Guriya.
"Ami kya hal hai.." tanya Shahzad.
"Ami tikh hai.. Little tension.." jawab Guriya.
"Kyu bhai.. Why are you do like this?" tanya Guriya.
"Guriya.. Say to ami.. Mujhe maaf karna.. I want marry her.." begitulah permohonan Shahzad.
Guriya merasa iba kepada abangnya dan membantu menjelaskan pada ami nya, bahwa tidak ada yang terjadi seperti ami khawatirkan. Abangnya hanya jatuh cinta dan ingin menikahi gadis itu. Shahzad tidak berbuat salah pada siapa pun.
Malam itu pertama kalinya Shahzad membuat ibunya menangis. Ia merasa sangat buruk dan tidak bisa memejamkan mata.
__ADS_1