
Sudah satu minggu berlalu setelah Nazulfa mengikuti interview. Nazulfa mendapat pemberitahuan dari Kedubes.
Ia pun kembali datang ke kedubes. Segera menuju loket pengajuan visa. Ingin menanyakan "Mengapa Permohonannya Di Tolak"
Semua persyaratan sudah dipenuhi, pembayaran pun sudah dilakukan, kenapa masih ditolak.
"Maaf nona.. Kami hanya menginformasikan saja" jawab petugas informasi
Suara khas Medan pun sudah keluar. Nazulfa yang bertanya lembut pun, di sangka petugas itu ia sedang marah.
"Nona jika anda mau marah-marah tolong jangan disini" ujar petugas itu.
"Bukan.. Saya mana ada marah, saya kan cuma bertanya kenapa bisa permohonan saya di tolak. Itu saja.." ujar Nazulfa.
Lengan lemas dan hati yang kecewa nazulfa pulang ke rumah. Tante nya hari ini tidak ikut karna kurang sehat. Nazulfa hanya di antar supir.
Sampai dirumah Nazulfa masuk kamar dan menelpon langsung Shahzad.
"Assalamualaikum.." ucap Nazulfa.
"Waalaikumsalam.." jawab Shahzad.
"Ada apa Nazulfa kenapa nada bicara awak macam rasa sedih.." tanya Shahzad.
"Hari ini saya sudah pergi kedutaan, tengok hasil interview kita. Dia orang cakap permohonan visa awak di tolak." jelas Nazulfa.
Wajah Shahzad yang tadinya ceria juga mendadak murung. Rasa musnah sudah harapan cintanya.
"Sekarang kita macam mana Shahzad...? Mana boleh kita menikah jika awak tak dapat masuk Indonesia.." ujar Nazulfa.
"Saya pun bingung, saya sudah datang langsung ke Kedutaan Indonesia di Malaysia. Disana juga dijelaskan bahwa sponsor harus ikuti interview di Jakarta untuk dapatkan visa." ujar Shahzad.
"Sekarang lebih baik awak balek Medan dulu, udah terlalu lama di Jakarta." suruh Shahzad.
"Baiklah.. Kalau macam tu nanti saya cek tiket pulang dulu." jawab Nazulfa.
"Duit awak masih cukup ke tak..?" tanya Shahzad.
"Ada.. Masih cukup yang semalam awak transfer masih ada lebih." ujar Nazulfa.
__ADS_1
Nazulfa memesan tiket melalui aplikasi online. Setelah tiket confirm. Nazulfa memberitahukan pada tante nya lusa ia akan kembali ke Medan.
"Esok kita pergi membeli oleh-oleh untuk ibu dan adik-adikmu" kata si tante menghibur Nazulfa yang sangat jelas terlihat sedih sejak mengetahui permohonan visa nya di tolak.
*********
Nazulfa pun tiba di Medan. Ia pulang langsung ke desa rumah orangtuanya. Sebab sepupu ibunya itu banyak mengirimi oleh-oleh untuk ibu dan adik-adiknya.
Nazulfa juga menceritakan soal Shahzad yang tidak bisa masuk ke Indonesia. Sebab negara Pakistan di blacklist karna alasan negara itu negara konflik dan tidak aman.
Ibu dan Ayah Nazulfa memberikan nasihat agar Nazulfa tak merasa terlalu kecewa.
Bahwa jodoh itu sudah di atur oleh Allah swt. Jadi jika kalian tidak berjodoh itu semua juga atas izin Allah. Tiada satu manusia pun mampu menukar janji Allah. Terima dengan lapang dada karna mungkin itu yang terbaik untuk kita.
Nazulfa menganggukkan kepala. Di depan orangtuanya ia tidak ingin terlihat sedih. Padahal dalam hatinya sangat merasa kecewa.
Sampai saat ini Shahzad masih memperlakukannya sama, meskipun mereka berdua tahu tidak ada jalan keluar untuk hubungan mereka.
Langkah awal untuk bersatu sudah pupus, jika visa saja tidak punya bagaimana mungkin membuat CNI untuk menikah.
Hari-hari Nazulfa kini dilalui kebanyakan di dalam kamar, ia tidak memiliki pekerjaan. Ia memutuskan keluar dri pakerjaannya demi memperjuangkan kisah cintanya. Namun kisah cinta ini begitu rumit. Hingga ia telah merasa putus asa.
Nazulfa menjelaskan panjang lebar dari awal sampai akahir.
Tante Diana terdiam mendengar penjelasan Nazulfa. Melihat wajah Nazulfa yang layu tak bersemangat saja membuat hati iba.
"Mungkin Tidak Ada Harapan Untuk Kami Bersama" Ujar Nazulfa dengan senyum terpaksa
"Sudahlah.. Yang penting kamu sudah berjuang" kata tante Diana.
Tante Zaima pun datang ke rumah tante Diana, karna ditelpon tante Diana.
"Nazulfa... Apa kabar..., bagaimana hasilnya?" tanya tante Zaima.
Sebelum Nazulfa menjawab, tante diana sudah duluan menjelaskan. Mendengar semua kenyataan itu tante Zaima langsung memeluk Nazulfa sambil mengusap punggungnya.
"Nazulfa percayalah. Janji Allah itu Nyata. Ikhlas kan maka kamu akan lebih baik." Ujar tante Zaima.
"Jika kamu mau tante akan mencarikan jodoh untukmu yang baik dan memiliki peekerjaan bagus" kata tante Diana.
__ADS_1
"Hmmmmm... Baiklah tante.., terserah aja gimana baiknya, mungkin dia bukan jodohku.." ucap Nazulfa.
Malam harinya Nazulfa duduk meringkuk disudut kamar. Memikirkan apa yang harus ia katakan pada Shahzad. Ia sangat takut melukai hati orang yang telah menggenggam hatinya.
"Assalamualaikum.... Shahzad.." Nazulfa menelpon dan memulai pembicaraan.
"Waalaikumsalam.. Nazulfa.." Shahzad menyebut namanya penuh cinta.
Terlihat jelas disudut mata Nazulfa yang sudah menahan tangis.
"Shahzad... bLBerjanjilah untuk saya, jika kita tidak bisa bersama kau akan baik-baik saja, jangan pernah melakukan hal bodoh, dan menikahlah pada wanita pilihan orangtua awak." ujar Nazulfa.
"Nazulfa....." panggil Shahzad lirih.
"Kenapa awak cakap macam tu..,🥺 Jika kita memang tak dapat bersama saya tak akan pernah kembali lagi ke Malaysia." Ucap Shahzad dengan perasaan sedih.
"Kenapa awak mesti pergi, di Malaysia pekerjaan awak, karir awak dah bagus. Tolong jangan tinggalkan masa depan awak.." pinta Nazulfa.
"Sebab saya awak dah kehilangan pekerjaan, awak tinggalkan kerjaan demi perjuangkan hubungan kita. Jika ini gagal, saya pun tak patut berada di Malaysia." tegas Shahzad.
"Saya akan balik ke Pakistan, dan menjadi penjaga lembu di desa. Untuk hal pernikahan, saya belum tahu saya menikah atau tidak." ucap Shahzad.
"Lagipula ibu dan bapak awak pun belum tahu hubungan kita, jadi tak ada yang perlu awak risaukan, mereka akan bersikap sama terhadap awak." ujar Nazulfa.
"Bukan masalah tahu ke tak tahu, sekalipun kita batal menikah saya akan tetap memberitahu ami dan abu tentang awak. Jika mereka memaksa saya menikah saya juga akan bagi tahu calon istri saya tentang awak. Sebab saya cuma Cinta Satu Perempuan saja. Saya tak boleh bagi hati saya pada oranglain." pekik Shahzad yang telah meneteskan airmata.
Mendengar pernyataan itu tanpa disadari Nazulfa telah berderai airmata. Tangisnya pun pecah. Ia tak lagi mampu bicara, suaranya kini telah terdengar parau.
"Tolong.. tolong jangan menangis.." mohon Shahzad.
"Saya tak boleh tengok awak menangis.." ujar Shahzad lagi.
Padahal diseberang sana Shahzad sendiri menjatuhkan airmata. Namun hanya beberapa di ujung pelupuk matanya.
Pria dapat menahan airmata, tapi Nazulfa adalah seorang wanita berhati lembut. Bagaimana bisa ia tak menangis mendengar pernyataan yang memilukan hati.
..."Sakit, Sedih, Terluka.."...
..."Bukan karna pengkhianatan. Tapi Karna Cinta Tak Dapat Bersatu"...
__ADS_1