Perjuangan Wanita Penghibur

Perjuangan Wanita Penghibur
Ancaman Winda


__ADS_3

Prima masih fokus menatap laptop nya, Winda datang masuk kedalam menghampiri Prima tanpa mengetok pintu dulu, ''hai sayang, kita pulang yuk sudah sore nih?'' ucap Winda sambil bergelayut di pundak lelaki itu dari belakang.


''Jangan ganggu aku Win? kalau mau pulang? pulang saja sendiri?! balas Prima yang tidak suka di ganggu kalau dirinya sedang bekerja.


''Kamu kok gitu sih sayang, dingin banget sama aku?'' sahut Winda sambil cemberut kepada Prima, ''ingat! kamu sudah tidur dengan ku? kalau aku hamil kamu harus bertanggung jawab?'' ucap Winda sambil mendekatkan bibirnya di telinga lelaki itu.


''Itu hanya kecelakaan? itu ulah kamu yang memasukkan obat perangsang kedalam minuman?!'' balas Prima yang tidak suka dengan kelakuan wanita tersebut.


''Pokoknya kamu harus tanggung jawab Prim atau aku sebarkan video kita yang sedang bercinta? apa kamu mau perusahaan kamu bangkrut dan namamu tercemar?!'' bisik Winda di telinganya Prima.


''Kamu ngancam aku?!'' balas Prima yang geram dengan tingkah Winda.


''Ya bisa dibilang begitu? asal kamu mau menikah dengan ku semuanya akan aman terkendali?'' ucap Winda sambil membelai pipi lelaki tersebut.


''Jangan harap aku akan menikah dengan kamu? jangan mimpi?'' balas Prima sambil menghempaskan tangan Winda yang sedang membelai pipinya.


''Kita lihat aja nanti, aku tidak main-main dengan ucapan ku Prim?!'' ucap Winda lagi sambil tersenyum sinis.


''Dimana rekaman itu? cepat serahkan kepadaku!?'' ucap Prima sambil menekan pipi wanita itu dengan tangannya.


''Jangan harap aku akan memberikan rekaman itu kepadamu Prim? nikahi aku dulu? baru aku akan berikan rekaman itu?'' sahut Winda yang pipinya masih di cengkeram oleh Prima.


''Cepat katakan dimana rekaman itu!?'' ucap Prima yang masih mencengkeram kedua pipi wanita tersebut.

__ADS_1


''Nikahi aku dulu Prim?'' balas Winda sambil menghempaskan tangan Prima yang mencengkeram kedua pipinya tersebut.


''Keluar dari sini, sebelum aku hilang kesabaran!? cepat keluar!!'' bentak Prima menyuruh Winda untuk pergi dari ruangan tersebut.


''Oke aku akan keluar, tapi ingat dengan ucapanku? aku tidak main-main Prim?'' balas Winda sambil tersenyum kemenangan.


''Cepat keluar!!'' bentak Prima lagi menyuruh Winda agar keluar dari ruangan itu.


Winda berjalan keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Prima duduk kembali sambil memijat keningnya, ''kurang ajar dia semakin melunjak? aku harus bisa mendapatkan rekaman itu apapun caranya?'' ucap Prima kepada dirinya sambil terus memijat-mijat keningnya.


Prima bergegas untuk pulang, ia berjalan menelusuri lorong di kantor tersebut, ''aku harus buat perhitungan dengan wanita itu?'' ucap lirih Prima sambil terus berjalan keluar dari kantor tersebut. Prima sangat kesal dengan kelakuan Winda yang terus mendesak dan mengancamnya.


Setelah sampai di rumah, Prima langsung masuk kedalam kamarnya dan segera mandi supaya badannya segar kembali, sedangkan Sela yang melihat lelaki itu buru-buru masuk, ia hanya menggelengkan kepalanya, ''kenapa dengan mas Prima? apa yang terjadi di kantor?'' ucap lirih Sela yang penasaran.


''Kamu kenapa mas? apa ada masalah di kantor?'' ucap Sela sambil memegang tangan lelaki itu.


''Aku tidak apa-apa Sel, mungkin hanya capek saja?'' balas Prima yang tidak mau menceritakan kepada wanita itu, ''aku tidak mungkin cerita sama kamu Sel, maafkan aku Sel?'' ucap Prima dalam hatinya.


''Aku buatin teh hangat yah? kamu ganti baju dulu sana nanti masuk angin?'' sahut Sela lalu berjalan meninggalkan lelaki itu sendiri di kamar.


Sela membuat teh hangat untuk Prima, ''aduh Non, biar Bibi saja yang buat? Non Sela duduk saja?'' ucap Bi Ijah yang melihat Sela sedang membuat teh hangat tersebut.


''Gak papa Bi, cuma buat teh hangat saja kok? sebentar lagi juga jadi nih?'' balas Sela sambil tersenyum kepada asisten rumah tangga tersebut.

__ADS_1


''Lain kali kalau mau bikin sesuatu tinggal bilang sama Bibi? nanti Bibi yang dimarahin sama Nyonya?'' ucap Bi Ijah kepada Sela lagi.


''Iya Bi, ya sudah aku bawa minuman ini dulu?'' jawab Sela pamit kepada asisten tersebut dan berjalan menuju ke kamarnya Prima.


Sela masuk menghampiri Prima yang masih duduk di tepi ranjang, ''kok belum ganti pakaian mas? ini diminum dulu teh hangatnya?'' ucap Sela sambil menyodorkan minuman tersebut kepada Prima.


''Makasih Sel'' jawab Prima sambil menerima minuman tersebut.


''Kalau ada masalah cerita dong sama aku? kita cari solusinya bersama-sama?'' ucap Sela sambil mengelus-elus punggung lelaki tersebut.


''Aku baik-baik saja kok Sel, gak ada apa-apa?'' balas Prima sambil minum teh hangat tersebut.


''Aku tau mas, kalau kamu sedang ada masalah, ceritakan dong barang kali aku bisa membantunya?'' jawab Sela sambil terus membujuk Prima agar mau bercerita.


''Aku baik-baik saja Sel hanya capek?'' ucap Prima berbohong kepada Sela, ia tidak mau kalau harus melibatkan Sela dalam masalahnya tersebut, ia lebih baik tidak bercerita kepada wanita itu.


''Ya sudah kalau kamu tidak mau cerita sama aku? ayo cepat ganti baju? sebentar lagi makan malam?'' ucap Sela yang tidak mau memaksa Prima untuk bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya tersebut.


''Iya Sel, aku akan ganti baju dulu?'' jawab Prima sambil bangkit untuk berganti baju.


Sela berjalan keluar dari kamar tersebut dan menunggu Prima di ruang tengah sambil nonton film.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2