
Prima masih memeluk tubuh Sela sambil merasakan kehangatan dari tubuh wanita itu, Sela pun membalas pelukan itu dengan erat, mereka berdua sama-sama merasakan kehangatan tersendiri, ''ayo tidur di kamar saja jangan di sini, nanti kamu masuk angin mas'' Sela mengajak Prima untuk pindah ke kamar.
Mereka berdua berjalan menuju ke kamar, Prima merangkul Sela sampai masuk kedalam kamar tersebut, mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil berpelukan, Sela merasakan senjata milik Prima yang sedang meronta-ronta di dalam sarangnya hendak keluar, ''maaf ya mas aku tidak bisa melayani kamu karena aku sedang datang bulan''.
''Gak papa sayang, sudahlah kita tidur saja'' Prima membalas walaupun senjatanya sedang meronta-ronta ingin keluar dari sarangnya.
Sela merasa kasihan kepada Prima karena lelaki itu tidak bisa menyalurkan hasratnya, tangan Sela perlahan membuka celana yang di pakai oleh Prima dan mengeluarkan senjata tersebut.
Prima merasakan sentuhan lembut dari bibir Sela yang sedang bermain dengan senjata miliknya, ''apa yang kamu lakukan Sel'' kata yang keluar dari mulutnya Prima, ''hanya ini yang bisa membuat milikmu tenang mas'' Sela menjawab sambil terus memegang senjata tersebut dan memasukkan kedalam mulutnya.
''Kamu pintar juga sayang'' Prima berkata lagi sambil menikmati sentuhan demi sentuhan dari mulutnya Sela yang sedang bermain dengan senjata miliknya, ''terus sayang'' ucap Prima yang merasa kenikmatan tersebut.
''Kamu suka mas'' Sela bertanya kepada Prima sambil tersenyum dan memasukkan lagi senjata tersebut kedalam mulutnya.
__ADS_1
''Suka sayang, kamu pandai sekali'' Prima berkata sambil tersenyum senang dengan yang dilakukan oleh Sela kepada senjata miliknya.
Sela terus bermain dengan senjata milik Prima, cukup lama Prima menikmati sesasi tersebut sampai senjata miliknya mengeluarkan cairan putih kental, Sela membersihkan senjata milik Prima itu dengan tisu sampai bersih.
''Makasih ya sayang, kamu telah membuat senjataku lebih tenang sekarang'' Prima berterima kasih kepada Sela sambil memeluk wanita itu.
''Iya mas, aku juga ikut senang karena milikmu sudah tenang gak seperti tadi yang terus meronta-ronta ingin keluar'' Sela menjawab sambil mengelus dada lelaki itu dengan pelan.
Mereka berdua mulai menutup matanya dan terlelap tidur sampai pagi. Suara kokok ayam membangunkan Winda yang masih ada di pelukannya Romi, ''hoam..'' Winda menggeliat membuat Romi ikut terbangun.
''Jam berapa sayang?'' Romi bertanya kepada Winda.
''Gak tau'' hanya itu yang keluar dari bibir wanita tersebut.
__ADS_1
Romi mengambil ponselnya dan melihat angka jam yang ada di ponsel tersebut, ''baru jam lima pagi'' lelaki itu kembali memeluk tubuh Winda, ''kenapa tidur lagi? ini sudah pagi Rom'' Winda berkata sambil menoleh kebelakang.
''Masih pagi buta sayang'' jawaban dari Romi yang terus memeluk tubuh wanita itu.
''Aku mau bangun, awas..'' Winda hendak bangkit sambil menyingkirkan tangan Romi yang masih melingkar di perutnya.
Romi menarik tangan Winda sambil berkata ''masih pagi banget dan masih dingin'', Winda pun terjatuh kedalam pelukan lelaki itu lagi.
''Aku mau bangun Rom, ini sudah pagi?'' Winda hendak bangun lagi akan tetapi tangannya kembali di tarik oleh Romi, ''nanti saja'' kata itu yang keluar dari bibir lelaki tersebut.
Winda pun mengalah karena percuma saja melawan lelaki itu, ia merasa dirinya sangat lemas dan capek karena sudah di gempur dua rounde oleh lelaki tersebut.
*Bersambung*
__ADS_1