
Sela duduk di ruang tengah sambil nonton film, Mamah Retno datang menghampiri dan duduk di sebelahnya, mereka berdua berbincang-bincang seperti biasa, mereka berdua sudah akrab Sela pun sudah tidak canggung lagi dengan Mamah Retno, ''kamu kenapa sayang? Mamah liat kamu sedang memikirkan sesuatu, coba kamu cerita sama Mamah?'' Mamah Retno berkata sambil mengusap-usap lengan milik Sela.
''Gak ada apa-apa kok Mah?'' balas Sela sambil tersenyum kepada Mamah Retno.
''Kamu tidak bisa bohongin Mamah sayang, ayo cerita kepada Mamah?'' sahut Mamah Retno lagi untuk membujuk Sela agar dia mau bercerita tentang masalahnya tersebut.
''Begini Mah, semenjak mas Prima pulang aku lihat dia selalu murung tapi mas prima tidak mau cerita apa yang sedang terjadi? aku bingung Mah harus berbuat apa?'' balas Sela menceritakan permasalahan pada dirinya tersebut.
''Mungkin lagi capek saja sayang, nanti Mamah akan coba bicara dengan Prima, dimana dia sekarang?'' ucap Mamah Retno kepada Sela sambil membelai rambut Sela.
''Mas Prima ada di kamarnya Mah'' jawab Sela sambil tersenyum ramah.
''Baiklah Mamah akan kesana dulu, Mamah akan bicara dengan Prima kali aja dia mau bercerita?'' sahut Mamah Retno sambil tersenyum kepada Sela.
''Iya Mah'' balas Sela singkat.
Mamah Retno berjalan menuju ke kamarnya Prima, ia pun masuk menghampiri anaknya tersebut dan duduk di sampingnya, ''ada masalah apa sayang? kok kamu murung?'' ucap Mamah Retno sambil mengelus punggung anaknya tersebut.
''Gak ada Mah? aku cuma capek saja?'' balas Prima sambil menoleh kearah Mamahnya.
''Coba kamu cerita sama Mamah, apa yang terjadi sama kamu sehingga kamu murung begitu?'' Mamah Retno berusaha membujuk anaknya supaya ia mau bercerita tentang masalahnya.
''Beneran aku gak papa Mah, aku cuma capek saja'' jawab Prima yang masih tidak mau bercerita kepada Mamahnya.
''Kamu anak Mamah, jadi Mamah tahu sifat kamu, ayo cerita sama Mamah?'' balas Mamah Retno lagi membujuk Prima supaya mau bercerita.
__ADS_1
''Mah sudahlah jangan memaksa aku terus, aku capek Mah?'' jawab Prima sambil merebahkan badannya di atas ranjang.
''Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita, Mamah akan cari tahu sendiri di kantor?'' balas Mamah Retno sambil berjalan meninggalkan anaknya di dalam kamar tersebut.
Mamah Retno kembali menghampiri Sela yang sedang nonton film, ''gimana Mah? apa mas Prima mau bercerita?'' ucap Sela yang melihat Mamah Retno duduk di sampingnya.
''Prima gak mau bercerita sayang, tapi kamu tenang saja, Mamah akan cari tahu sendiri di kantor?'' balas Mamah Retno sambil mengelus lengn Sela.
''Iya Mah, aku juga besok akan berangkat ke kantor?'' ucap Sela kepada Mamah Retno.
''Jadi kamu bekerja di kantornya Prima?'' tanya Mamah Retno kepada Sela.
''Iya Mah, kemarin mas Prima menyuruh ku bekerja di kantor tersebut, aku gak tahu kalau kantor itu milik mas Prima?'' balas Sela menjawab pertanyaan Mamah Retno tersebut.
''Kamu di kantor sebagai apa?'' Mamah Retno bertanya lagi kepada Sela.
''Aku..aku..kemarin mas Prima menyuruh ku bekerja sebagai cleaning service di kantor itu Mah?!'' balas Sela yang sedikit ragu untuk berkata jujur kepada Mamah Retno.
''Apa! kamu bekerja sebagai cleaning service?!'' ucap Mamah Retno yang kaget mengetahui pekerjaan Sela di kantor tersebut.
''I..iya Mah'' balas Sela sambil menundukkan kepalanya, ia tidak berani memandang kearah Mamah Retno.
''Keterlaluan sekali anak itu, besok kamu ikut Mamah ke kantor?!'' ucap Mamah Retno kepada Sela dan berjalan menuju ke kamarnya.
''Iya Mah'' balas Sela sambil mendongakkan kepalanya dan melihat Mamah Retno sudah berjalan masuk kedalam kamarnya tersebut.
__ADS_1
''Huft..hampir copot jantung ku?'' ucap Sela lirih sambil mengelus-elus dadanya.
Sela baru tahu kalau kantor tersebut milik keluarganya Prima, ia tidak menyangka kalau lelaki itu anak dari seorang pengusaha terkenal di wilayah tersebut. Keesokan harinya Prima sudah berangkat ke kantor dengan menggunakan mobilnya, sedangkan Sela menunggu Mamah Retno selesai berdandan, selang beberapa menit kemudian, Mamah Retno keluar dari kamarnya sambil mententeng tas kesayangannya tersebut.
''Ayo kita ke kantor?'' Mamah Retno mengajak Sela untuk berangkat ke kantor, ''iya Mah'' balas Sela, mereka berdua menggunakan mobilnya Mamah Retno dengan sopir pribadinya.
Prima sedang fokus menatap layar laptopnya, Winda datang sambil bergelayut di punggung lelaki itu, ''gimana sayang? apa kamu sudah mengambil keputusan?'' ucap Winda sambil menempelkan bibirnya di pipi lelaki tersebut.
''Apaan sih kamu Win, gangguin orang saja'' balas Prima sambil melepaskan tangan Winda yang sedang bergelayut di punggungnya.
''Aku tidak mengganggu kamu sayang, aku cuma mau kamu bertanggung jawab untuk menikahi aku, itu saja?'' ucap Winda sambil bergelayut lagi di pundak lelaki itu.
''Sudahlah Win, kita tidak usah perpanjang masalahnya, itu hanya kecelakaan saja?'' balas Prima lagi sambil menoleh kebelakang.
''Apa kamu bilang!? kecelakaan? enak saja kamu bilang begitu, aku yang rugi? kesucian ku sudah kamu renggut, aku sudah tidak perawan lagi Prim?'' jawab Winda yang tidak mau menyerah begitu saja, ia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan lelaki tersebut.
''Apa kamu bilang!!?'' teriak Mamah Retno yang langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
Winda dan Prima sangat kaget dengan kedatangan Mamah Retno yang secara mendadak tersebut, Winda melepaskan rangkulan nya dari pundak lelaki itu dan berdiri tegap.
''Coba kamu ulangi lagi apa yang barusan kamu bilang tadi?!'' ucap Mamah Retno yang sedikit membentak kepada Winda.
''Aku..aku sudah tidak perawan lagi, karena kesucian ku sudah di ambil oleh anak Ibu?'' balas Winda yang sedikit takut kepada Mamah Retno.
''Apa itu benar Prim?!'' Mamah Retno bertanya kepada anaknya.
__ADS_1
''Itu hanya kecelakaan Mah? dia yang sudah memasukkan obat perangsang kedalam minuman ku?'' balas Prima sambil menundukkan kepalanya karena malu kepada Mamahnya.
*Bersambung*