PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Minta Doa


__ADS_3

Jake mematikan puntung rokoknya. "Cepat temukan siapa pelakunya. Aku yakin mereka pasti sudah menggambar keadaan. Tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa rekayasa. Dan pecat semua pelayan di rumah itu. Beri mereka gaji besar lalu pulangkan ke rumahnya. Kita mulai permainan ini." Jake pun memutuskan.


"Baik, Tuan." Anak buahnya pun menyanggupi.


Jake ingin mengakhiri peperangan ini secepatnya. Ia pun mengambil keputusan segera. Yang mana sebuah permainan tak akan lama lagi dimainkannya. Jake akan mengambil alih dan memutarbalikkan keadaan agar berpihak kepadanya.


Sementara itu...


Lilia tampak sedang merebahkan diri di ruang kerja Angelina. Ia diantar Jake ke sana. Ia pun keluar dari rumah sakit dengan cepat karena Jake tidak mempunyai orang yang bisa dipercaya untuk menjaganya. Angelina pun dengan senang hati menyambut kedatangan Lilia di sana. Hanya saja ia juga harus bekerja.


"Bagaimana keadaanmu, Lilia? Sudah baikan?" Angelina masuk ke ruang kerjanya.


Lilia yang sedang bermain ponsel pun segera duduk di sofa. "Maaf harus merepotkanmu lagi, Angelina. Tapi Jake memintaku untuk ke sini," tutur Lilia.

__ADS_1


Angelina mengangguk. "Tak apa. Aku tidak keberatan kau di sini. Tapi aku harap kau maklum karena aku sambil bekerja. Suamiku sudah tua sehingga tidak ingin pusing mengurus usaha. Dia menyerahkan semuanya padaku." Angelina duduk di samping Lilia.


"Tapi kau baik-baik saja, bukan? Si kecil tidak ribut di dalam?" tanya Lilia tentang kandungan Angelina.


Angelina tertawa. "Baru beberapa bulan. Paling juga mual-mual sedikit karena mencium aroma bumbu dapur," terang Angelina.


"Bisa seperti itu ya?" Lilia menanggapi.


Saat mendengarnya, saat itu juga hati Lilia terenyuh. Ia bak berutang budi besar kepada Angelina. Walaupun semua uang yang terpakai sudah Lilia ganti, tetapi tetap saja budi itu tidak bisa terbayarkan. Lilia pun berjanji dalam hatinya untuk membalas budi itu suatu hari. Angelina sudah lebih dari sekedar temannya sendiri. Ia bak keluarga satu darah.


"Doakan aku agar kuat menjalani peperangan ini. Katanya doa ibu hamil itu lebih cepat dikabulkan. Maka banyak-banyaklah mendoakanku," pinta Lilia.


"Tentu saja, Lilia. Aku tahu pikiran Jake saat ini sedang bercabang. Dia memikirkanmu, dia juga memikirkan perusahaannya. Tugasmu hanya menguatkannya saja. Karena pada kenyataannya pria lebih membutuhkan dukungan moril dari pasangannya." Angelina memberi masukan.

__ADS_1


Lilia mengangguk. "Aku harap dia bisa memenangkan peperangan ini. Aku ingin hidup damai bersamanya tanpa ada rasa was-was lagi," ungkap Lilia.


"Lea masih mengganggumu?" tanya Angelina segera.


"Tidak. Tapi aku khawatir saja. Jika Jake kalah, pastinya aku juga akan terkena imbasnya. Bisa saja Lea lebih nekat dari yang sebelumnya." Lilia mengkhawatirkan dirinya.


Angelina menepuk-nepuk tangan Lilia. "Kau harus percaya pada priamu sekalipun hal itu mustahil dia lakukan. Seperti kataku tadi, pria lebih membutuhkan dukungan moril dari pasangannya. Karena dengan dukungan itu dia mampu meraih semuanya. Sekalipun yang dianggap mustahil. Ingat kata pepatah, dibalik lelaki yang hebat, ada perempuan yang kuat. Dan jadilah perempuan itu, Lilia." Angelina menguatkan Lilia.


Lilia tersenyum. Ia mendapatkan semangat hidupnya. "Kau memang teman terbaikku, Angelina. Kau seperti kakakku sendiri." Lilia pun memeluk Angelina.


Angelina tersenyum. "Dasar. Kau bisa saja kalau bicara." Angelina pun tersenyum malu.


Keduanya berpelukan bak kakak-adik yang saling menyayangi. Tampak Lilia yang memeluk Angelina dari samping. Ia juga mengusap perut Angelina yang semakin hari semakin membesar. Lilia seperti tak sabar menantikan keponakan angkatnya lahir. Ya, Lilia berharap bisa segera menyusulnya. Ia juga ingin bahagia seperti Angelina.

__ADS_1


__ADS_2