PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Bebas


__ADS_3

"Di sana ada Mark dan Rich yang mengurus peternakan. Keluarga mereka juga tidak tinggal jauh dari sana. Peternakannya cukup luas. Tapi apa Lilia mau masuk ke kandang sapi untuk melihatnya?" tanya sang ayah.


"Buat apa ada masker jika ayah masih menanyakannya," tanya Jake setengah kesal.


"Hah, baiklah. Terserah kau saja. Tapi aku titip untuk Mark dan Rich di sana. Aku belum bisa berpergian jauh sekarang." Sang ayah mengungkapkan.


"Beres." Jake pun mengiyakan.


Sepanjang obrolan, sepanjang itu pula Lilia diam. Ia tampak menikmati makan malam dengan tanpa melihat atau memerhatikan percakapan. Ayah Jake pun tahu jika calon menantunya masih ragu untuk berbaur. Ia kemudian memecahkan suasana yang canggung.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya ayah Jake lagi.


Saat itu juga Lilia terkejut dengan pertanyaan calon mertuanya. Tiba-tiba saja pembahasan berubah dalam sekejap.


"Secepatnya. Setidaknya satu bulan dari sekarang jika tidak ada halangan. Karena kami juga butuh persiapan." Jake menjawabnya.


Ayah Jake beralih ke Lilia. "Lilia."

__ADS_1


"Ya, Tuan?" Lilia pun segera menanggapinya. Saat itu juga raut wajah ayah Jake berubah.


"Biasakan menyebutku dengan kata yang sama seperti Jake," pinta ayah Jake.


Lilia mengerti. "Baik, Ayah." Ia pun mengangguk.


"Itu lebih enak terdengar dibandingkan yang tadi," gerutu pria tua yang cerewet itu.


"Ayah tidak bilang sejak awal. Lilia jadi bingung sendiri menyebutnya." Jake membela Lilia.


"Kenapa kau tidak memberi tahunya?" tanya sang ayah.


"Kau ini duda tapi banyak gaya!" Ayahnya pun menggerutu.


Saat itu juga Lilia hampir tersedak mendengarnya.


"Ayah, aku memang duda. Tapi yang mengambil keperjakaanku ini wanita yang ada di sampingku."

__ADS_1


Jake menyinggung Lilia. Saat itu juga Lilia menginjak kaki Jake yang berada di sampingnya.


"Aduuuhh!!!" Jake pun berteriak kesakitan.


"Hah ... terserahlah. Kalian sudah besar. Tidak perlu diingatkan lagi." Sang ayah pun tampak menggelengkan kepalanya sendiri.


Dia ini membuatku malu saja!!!


Sementara Lilia geram bukan kepalang kepada prianya. Ia merasa aibnya telah dibongkar oleh Jake sendiri. Pipi Lilia pun merah merona karena malu. Ia jadi kurang bersemangat dalam melanjutkan makan malamnya. Sementara Jake hanya bisa menahan rasa sakit di kakinya, akibat diinjak oleh Lilia. Makan malam hari ini pun harus ada tragedi lagi. Jake tidak henti-hentinya membuat Lilia kesal.


Dua jam kemudian...


Lilia baru saja sampai di kediaman ayah Jake selepas makan malam. Ia pun membawa satu box kue pie untuk cemilannya malam ini. Tampak dirinya yang merenggangkan kedua tangan saat duduk di tepi kasurnya. Ia pun melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lilia lalu melihat ke halaman luar dari kaca jendela kamarnya.


Akhirnya aku bisa sampai sejauh ini.


Tidak dapat Lilia pungkiri jika rasa bahagia itu kini menyelimuti hatinya. Tapi tidak juga ia pungkiri jika ada kecemasan yang melanda semakin mendekati hari. Lilia tahu jika semuanya membutuhkan persiapan. Begitu juga dengan pernikahan. Tapi entah mengapa ada sepercik ketakutan di dalam hatinya. Lilia khawatir ada kendala menjelang pernikahannya. Sebagaimana yang ia ketahui dari orang-orang selama ini.

__ADS_1


"Beb, kau belum tidur?"


Tak lama Jake pun masuk ke dalam kamar lalu mendekati Lilia. Dengan tanpa ragu ia pun memeluk Lilia dari belakang. Jake membenamkan wajahnya di bahu Lilia. Ia menciumnya dengan kedua tangan yang melingkar di perut wanitanya.


__ADS_2