PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Ingin Aman


__ADS_3

Menjelang pergantian hari...


Malam semakin larut. Jake pun menarikkan selimut untuk wanitanya. Terlihat dirinya yang memakai kaus oblong hitam, duduk di samping Lilia. Ia pun mengusap keringat di dahi wanitanya.


Jake merasa bersalah. Lagi-lagi Lilia harus terkena imbas dari pekerjaannya. Ingin rasanya ia mengakhiri semua, tapi Jake juga tahu jika tugas-tugasnya masih terlalu banyak. Ia tidak mungkin meninggalkan begitu saja. Jake sudah terikat kontrak dengan pekerjaannya.


Kini Jake memegang tangan Lilia. Ia mengecupnya sambil memerhatikan wajah Lilia yang sedang tertidur. Jake pun berkata sendiri di bawah sinar lampu ruangan yang menyorot dirinya. Ia mengeluarkan isi hati.


"Lilia, terima kasih. Kau sudah terlalu jauh terlibat dalam setiap tindak-tandukku. Maafkan aku yang belum bisa selalu bersamamu. Aku harap kau tetap bertahan dalam segala situasi. Aku tidak bisa tanpamu. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Maka tolong mengerti aku."


Begitulah yang Jake katakan sambil menggenggam erat tangan Lilia. Ia kemudian mencium kening wanitanya. Berharap hari bahagia itu akan segera tiba. Jake ingin sekali melihat Lilia mengenakan gaun pengantin. Di mana dirinya lah yang menjadi mempelai pria. Jake begitu mencintai Lilia. Tapi ia juga tahu jika pekerjaan adalah segalanya. Jake berharap Lilia dapat mengerti posisinya.


Malam ini pun menjadi saksi Jake yang tertidur di sisi wanitanya. Ia menutup malam dari rasa letih dan lelah yang melanda. Jake tertidur di sisi kasur Lilia sambil memegang tangan wanitanya. Cintanya kini begitu besar kepada sang penggoda. Dan Jake berharap hari bahagia itu akan segera tiba.


Keesokan harinya...


Mentari terbit malu-malu pagi ini. Awan mendung berarak terlihat di angkasa. Lama kelamaan menitikkan hujan dari langit. Air berkah itupun membasahi bumi. Bersamaan dengan Lilia yang baru saja keluar dari rumah sakit.

__ADS_1


"Jake, kita akan ke mana?" Tampak Lilia yang dibawa pergi oleh Jake dengan mobilnya.


"Kita pergi ke tempat yang indah. Untuk sementara waktu kau akan tinggal bersama Jinny dan Petrus di sana," tutur Jake.


"Apakah di pulau waktu itu?" tanya Lilia lagi.


Jake menoleh ke Lilia. Ia mengusap kepala wanitanya lalu kembali fokus menyetir mobil. "Aku harus segera mencari tahu siapa dalang dari runtuhnya Sky Grup. Dan itu akan memakan waktu cukup lama. Jadi kuputuskan kau untuk tinggal sementara di sana." Jake menjelaskan.


Lilia mengangguk.


"Beb."


"Teruslah bertahan sampai hari bahagia itu tiba. Kau bersedia, bukan?" tanya Jake kepada Lilia.


"Eh? Mengapa berkata seperti itu? Selama ini memangnya aku tidak bertahan?" tanya Lilia yang polos.


Jake tertawa. Tawa tanpa ada suaranya. "Ya, ya, baiklah. Mulai saat ini aku tidak akan bicara hal yang tidak perlu dijawab oleh Yang Mulia," tutur Jake kepada Lilia. Seketika itu juga pipi Lilia merona dibuatnya.

__ADS_1


"Jangan merayuku, Jake." Lilia pun tersipu malu sendiri.


Jake tersenyum. Ia kemudian menarik Lilia ke bahunya. "Aku mencintaimu, Beb," kata Jake sambil terus melajukan mobilnya.


"Aku juga lebih mencintaimu, Jake." Lilia pun mencium pipi Jake.


Jake tersenyum. Ia mengusap-usap kepala wanitanya. Ia pun terus melajukan mobilnya menuju tempat yang akan ditinggali Lilia. Karena Jake harus menyelesaikan urusannya segera. Jake akan mencari tahu siapa dalang dari runtuhnya gedung yang ia akuisisi belum lama. Dan Jake akan membuat perhitungan dengannya.


.........


...Jake...



...Lilia...


__ADS_1


.........


...Tamat...


__ADS_2