
Ada apa ini? Mengapa tidak ada yang mengangkat teleponku di pos jaga?
Lilia kemudian melihat keadaan di bawah gedung dari balik kaca jendela ruangannya. Dan ternyata, di bawah gedung sudah sepi sekali. Tidak ada kendaraan yang terparkir atau juga portal gedung yang terbuka. Itu berarti Lilia hanya sendiri di gedung ini.
Aku harus menelepon Jake!
Lantas Lilia pun menelepon Jake dengan baterai ponsel yang tinggal 28% lagi. Tapi, saat mencoba meneleponnya, tidak ada nada tunggu yang terdengar. Lilia pun mulai kelabakan.
"Aku harus pergi dari tempat ini!"
Lilia menyadari jika tengah terjebak dalam situasi. Ia akhirnya keluar ruangan untuk menuju lift gedung yang ada di sana. Tapi ternyata lift gedung juga mati. Tidak ada genset untuk menghidupkannya. Pada akhirnya Lilia pun menuju tangga darurat. Ia berniat untuk turun ke lantai bawah melalui tangga.
Aku harus cepat!
Langkah kakinya terdengar terburu-buru. Bersamaan dengan pikiran kalut yang mulai menyelimutinya. Namun, sebisa mungkin Lilia tetap tenang saat berada di situasi seperti ini. Ia pun mencari cara agar bisa keluar dan menyelamatkan diri.
__ADS_1
"Akh! Sial! Kenapa pintu ini susah sekali terbuka?!" Ia pun mendapati pintu menuju tangga darurat yang terkunci.
"Astaga ...."
Lilia mengusap kepalanya. Ia mulai panik yang menjadi-jadi. Lilia benar-benar terjebak dalam situasi.
"Jake?!"
Namun, tiba-tiba saja dering ponsel menyadarkannya. Ternyata Jake lah yang meneleponnya. Lilia pun segera mengangkatnya.
Terdengar suara gemuruh dari seberang sana. Jake seperti masih berada di dalam helikopternya. "Beb, jangan gunakan lift atau tangga darurat. Kau ke atap gedung saja. Sekarang!" kata Jake dari seberang teleponnya.
"Apa?! Ke atap gedung?! Ada apa, Jake?" Lilia pun merasa bingung dengan perkataan Jake.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Sekarang lepas sepatumu lalu berlarilah ke tangga menuju atap gedung ini. Cepat, Beb!" pinta Jake dari seberang.
__ADS_1
Lilia tak mengerti mengapa Jake meminta seperti itu kepadanya. Ia pun hanya bisa menuruti permintaan prianya. Ia lantas melepas sepatunya lalu mencari anak tangga yang menuju ke atap gedung Sky Grup ini.
"Gelap sekali, Jake. Aku takut." Ia akhirnya sampai di tangga yang dimaksud.
"Lilia, tinggal lima menit lagi. Cepat!!!" Jake pun meminta Lilia segera naik ke tangga itu.
Jantung Lilia berdegup kencang. Deru napasnya ikut memburu kala Jake memintanya untuk menaiki anak tangga yang gelap itu. Dan dengan bermodal senter ponselnya, Lilia pun menaiki anak tangga menuju atap gedung ini. Yang mana ia harus melalui puluhan anak tangga untuk sampai ke atas sana. Malam ini ia harus berlari sekuat tenaga.
"Hah, hah ...."
Lilia pun beristirahat sebentar. Ia terengah-engah kala sudah sampai di setengah perjalanan. Namun, saat itu juga terdengar bunyi dentuman keras dari gedung ini. Sebuah gempa pun menerpanya.
"Akh! Jake, ada gempa!!!" Lilia semakin takut menjadi-jadi.
"Beb, tenang. Lari sekuat tenaga ke atap gedung. Sekarang! Cepat!!!" pinta Jake lagi.
__ADS_1
Lilia mengangguk. Ia pun kembali menaiki anak tangga untuk menuju atap gedung ini. Tapi saat baru ingin melangkahkan kaki, saat itu juga gedung Sky Grup berguncang. Lilia pun segera memegangi sisi pagar tangga untuk menahan bobot tubuhnya.