PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Mengungkapkan Fakta


__ADS_3

Lilia menoleh ke arah Jake. "Kau yakin satu bulan dari sekarang?" Lilia mencoba menanyakannya.


"He-em." Jake mengangguk. "Itu juga kalau tidak ada halangan," terangnya.


Lilia berbalik lalu menghadap kekasihnya. "Bagaimana dengan tuan Petrus? Apakah dia bisa ditinggal lama?" tanya Lilia lagi.


"Aku sudah memikirkannya. Tapi tidak tahu jika ada permintaan khusus darinya." Jake menuturkan.


"Maksudmu?" tanya Lilia segera.


Jake mengajak Lilia untuk duduk di pinggir kasurnya. "Ada sesuatu yang belum kuceritakan padamu." Jake membuka pembicaraan.


"Katakanlah. Aku akan mendengarkannya." Lilia pun mempersilakan.


Jake menarik napas panjangnya. "Sebenarnya ... Petrus mempunyai seorang istri dan seorang putra." Jake memberi tahu.


"Apa?!" Lilia pun terkejut.


"Tapi mereka sudah berpisah. Jauh sebelum tragedi yang menyerang Petrus," terang Jake.

__ADS_1


"Lalu?" Lilia pun ingin tahu.


"Paman Mark dan paman Rich yang mengurus perternakan sapi milik ayah adalah saudara darinya." Jake mengungkapkan.


"Jadi???"


"Jadi memang hubungan ayah dan Petrus sangat baik. Maka dari itu Petrus memercayakan perusahaannya padaku." Jake menuturkan.


"Lalu di mana putranya sekarang?" Lilia amat ingin tahu.


"Namanya David. Dia tinggal di LA sekarang. Tapi dia sendiri tidak tahu jika Petrus ayahnya." Jake menerangkan.


"Astaga!" Lilia pun menutup mulutnya karena tak percaya.


"Jadi?" tanya Lilia lagi.


"Untuk sementara aku yang mengurusnya sampai David dirasa mampu menjalankan perusahaan ayahnya. Aku pikir pembagian harta yang Petrus berikan cukup adil." Jake meminta Lilia untuk ikut berpikir.


Lilia terdiam sejenak. "Sepertinya aku mengerti sekarang." Lilia akhirnya menyadari.

__ADS_1


"Ya. Begitulah ceritanya. Aku rasa David juga tidak akan mempermasalahkan GOC karena memang ayahnya sendiri yang telah membaginya." Jake berpikir demikian.


Lilia mengangguk. "Lalu hal apa lagi yang belum kau ceritakan padaku, Jake?" Lilia ingin mengetahuinya.


Jake melepas jasnya. Ia kemudian merebahkan diri di atas kasurnya. Jake pun mengajak Lilia untuk tidur bersama. Lilia juga kemudian menurutinya.


Jake mencari posisi yang nyaman. Ia berbagi bantal dengan Lilia. "Ada sebuah rahasia yang sepertinya sudah bisa kuceritakan padamu, Beb." Jake memeluk Lilia di dekapannya.


"Apa?" Lilia pun mendongakkan kepala untuk melihat Jake.


"Tentang alasan mengapa aku berlaku kasar padamu di awal kita bertemu," kata Jake yang seketika itu juga membuat Lilia menunggu.


"Sejak kecil aku diajarkan bekerja keras untuk mengalihkan rasa sepiku. Dulu ayah juga hanya seorang pengusaha kecil. Tapi semenjak rasa sakit itu membuatnya hancur, ayah bangkit lalu bekerja keras siang dan malam. Aku pun diurus oleh nenekku. Ayah sibuk bekerja sampai mempunyai perusahaan sendiri. Dia akhirnya bisa menunjukkan kepada ibu jika dia seorang pria yang bertanggung jawab dan bisa membahagiakan keluarganya. Tapi sayang semua sudah terlambat." Jake mulai mengungkapkan jati dirinya.


Lilia mengernyitkan dahinya. Ia tampak begitu penasaran dengan cerita Jake. Lilia lantas menanyakannya.


"Maksudmu?" tanya Lilia lagi.


"Aku ditinggalkan oleh ibu sejak kecil."

__ADS_1


"Apa?!" Lilia pun tak percaya.


Jake mengangguk. "Aku ditinggalkan ibu sejak kecil. Jadi aku tidak tahu bagaimana kasih sayang seorang wanita." Jake mulai menceritakan kisah hidupnya kepada Lilia.


__ADS_2