
"Jake?!"
Biden menyadari jika yang berdiri di hadapannya adalah Jake, bukan Petrus. Tak lama sinar infra merah pun banyak mengarah ke kepala dan jantungnya. Orang-orang Jake siap untuk menembaknya.
Pria yang berada di dalam kamar itu memang benar adalah Jake. Jake sedang menyamar seperti Petrus. Ia bahkan sengaja memakai boneka kepala Petrus yang telah ia persiapkan sebelumnya. Jake juga memakai segala aksesoris yang Petrus punya untuk menyakinkan anak buah Biden jika Petrus berada di dalam kamarnya. Jake pun dengan cepat membalikkan keadaan. Orang-orang Jake segera menandai dan siap untuk menembak Biden sekarang.
"Semua sudah berakhir, Tuan Biden. Letakkan senjatamu atau kau akan hancur lebur." Jake pun meminta.
Biden kebingungan. Ia merasa dikepung. Tak berapa lama anak-anak buah Jake pun turun dari plafon ruangan dan segera menaklukkan Biden. Biden dipaksa berlutut di hadapan Jake. Kedua tangannya diborgol ke depan. Biden jatuh ke perangkap Jake tanpa bisa melawan. Bos bermuram wajah itu akhirnya bisa memenangkan peperangan.
Babe, aku menang. Ini adalah awal dari kebahagiaan kita yang sesungguhnya.
__ADS_1
Lantas Biden pun dibawa ke luar kamar. Tak berapa lama mobil-mobil polisi pun berdatangan memecah keheningan malam. Biden pun tak percaya melihat banyak anak buahnya yang bergeletakan merenggang nyawa. Sedang sebagian lain sudah dikumpulkan menjadi satu. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas tindak pembunuhan berencana. Dan kembali lagi Jake menjadi raja dari permainannya.
Pukul empat pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...
Rumah keluarga besar dikelilingi garis polisi. Pihak awak media pun segera mendatangi lokasi begitu kabar terdengar. Namun, polisi membatasi gerak-gerik mereka dan tidak memperbolehkan masuk ke rumah keluarga besar. Akhirnya jam empat pagi itu menjadi saksi kerumunan banyak orang. Tentang apa yang terjadi di sana, dan apa yang telah dilewatkannya.
Jake sendiri segera kembali ke apartemennya selepas memastikan semua keadaan aman. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk proses selanjutnya. Tampak Jake yang baru saja sampai di apartemennya. Ia pun segera masuk ke kamarnya. Dan saat memasuki kamar, di saat itulah ia melihat Lilia tengah duduk cemas di pinggir kasurnya. Jake pun segera menyapa wanitanya.
Begitulah yang dikatakan oleh Jake untuk membuat Lilia menyadari kehadirannya. Di tengah lampu kamar yang gelap, wanita bertubuh sintal itu pun segera melihat ke arah pintu kamarnya. Lilia tak percaya jika Jake sudah datang. Jantungnya berdegup kencang melihat pria muram itu berada di hadapannya. Lilia pun segera menghambur ke pelukan prianya.
"Jake!"
__ADS_1
Lilia memeluk Jake. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Jake. Ia pun tidak lagi bisa membendung perasaan cemas yang dialaminya. Lilia tidak tidur lagi semenjak terbangun dari mimpi. Ia resah, gelisah dan kalut yang menjadi satu. Lilia memikirkan Jake yang sedang beroperasi.
"Beb, kau tidak tidur?" tanya Jake kepada wanitanya.
"Mana bisa aku tidur, Jake. Aku mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja, bukan? Tak ada yang luka-luka?" Lilia segera memegang wajah prianya.
Jake tersenyum kecil. Ia merasa wanitanya itu terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkannya.
"Aku baik-baik saja, Beb. Hari baru akan segera kita mulai pagi ini. Jangan khawatir," kata Jake, menenangkan hati wanitanya.
Lilia pun mengangguk dengan penuh suka cita. Ia merasa gembira. Ia pun memeluk Jake kembali. Hatinya bak taman seribu bunga yang bermekaran indah. Lilia bahagia tak terkira.
__ADS_1