PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Tentang Keluarga


__ADS_3

Lilia tersenyum. Ia kemudian mengambilkan air minum untuk Jake dan calon mertuanya.


"Kami kehilangan sosok wanita rumahan yang begitu sayang kepada keluarganya. Ayah harap Lilia bisa memberikannya." Sang calon mertua mengungkapkan keinginan di hatinya.


Pagi ini terasa begitu indah bagi Lilia karena sang calon mertua sudah tampak welcome kepadanya. Tidak seperti kemarin yang membuat nyali Lilia ciut perlahan-lahan. Lilia pun mulai merasa nyaman berada di rumah keluarga besar. Ia juga tampak mulai membuka dirinya.


"Ayah, sebenarnya Lilia ingin tahu lebih jelas apa yang terjadi pada ibu. Tapi Lilia tidak mempunyai keberanian untuk menanyakannya." Lilia mengungkapkan.

__ADS_1


Ayah Jake tampak mengangguk. Sedang Jake sendiri terus menyantap nasi goreng buatan Lilia beserta topingnya. Ia seperti tidak menghiraukan percakapan yang terjadi pagi ini. Jake begitu bersemangat dalam menyantap sarapan paginya.


"Aku bercerai dengan ibunya saat dia baru berusia empat tahun. Jake masih kecil waktu itu. Tapi kami tidak lagi bisa mempertahankan rumah tangga ini. Dan akhirnya Jake pun harus berpisah dengan ibunya. Pengadilan lalu memenangkanku atas hak asuh Jake karena ibunya telah menikah lagi." Ayah Jake menceritakan. Ia kemudian meneguk air minum yang Lilia berikan.


Saat mendengarnya, saat itu juga Lilia merasa miris sendiri. Jake kecil ternyata hidupnya tidak bahagia. Ia harus kehilangan kasih sayang ibunya. Lilia pun tidak bisa membayangkan bagaimana situasi Jake saat itu. Apakah Jake kecil terus menangis karena ditinggalkan ibunya? Atau dia terus-terusan menyendiri di dalam kamar dan tidak mau keluar? Lilia merasa kisah hidupnya dan Jake tidak berbeda jauh. Hanya saja berbeda di jalannya.


"Maka dari itu aku sudah wanti-wanti kepada Jake untuk memilih wanita yang benar-benar dapat menerima dirinya dan juga segala kesibukannya. Karena pekerjaan bagi seorang pria adalah mahkota. Kami mendahulukan pekerjaan di atas segalanya. Ayah harap Lilia mau bersabar menunggu Jake pulang jika dia sedang bekerja," tutur ayah Jake lagi.

__ADS_1


"Memangnya istrimu tidak akan hamil? Tidak akan menyusui anakmu? Dia diminta untuk terus bekerja?!" Sang ayah merasa kesal.


Jake tersenyum malu. Ia kemudian nyengir tak karuan di hadapan ayahnya. "Aku tidak kepikiran sampai ke sana, Yah." Jake pun memasang raut wajahnya yang belum pernah Lilia lihat sebelumnya.


Dia memasang wajah membujuk agar ayahnya tidak marah? Dasar Jake! Kau memang ada-ada saja.


Pada akhirnya santap pagi ini diteruskan dengan beberapa obrolan ringan seputar rumah tangga dan harapan ayah Jake ke depannya. Ia berharap Lilia tidaklah seperti ibu Jake yang meninggalkan rumah karena tidak tahan dengan problematika yang ada. Ayah Jake berharap Lilia setia kepada putranya di setiap kesempatan maupun kesempitan. Karena sang ayah sangat tidak menyukai wanita yang plin-plan dan tidak bisa menjaga kehormatan. Sang ayah berharap yang terbaik untuk anaknya. Ia berbicara dari hati ke hati kepada calon menantunya.

__ADS_1


Pukul sepuluh pagi waktu Swiss dan sekitarnya...


Selepas sarapan, Lilia dan Jake berjalan-jalan menuju peternakan sapi milik ayahnya. Mereka pun baru sampai dan disambut oleh dua orang yang berjaga di sana. Ialah Rich dan Mark yang merupakan saudara dari mantan istri Petrus. Keduanya pun menyambut kedatangan Lilia dan Jake dengan mengajak menikmati susu sapi bersama. Sontak Lilia mual-mual seketika.


__ADS_2