
"Halo?"
Jake mengangkat telepon itu. Tapi nyatanya tidak ada suara apapun dari seberang. Hening, hanya seperti suara angin yang berembus pelan. Jake pun melihat nomor yang meneleponnya. Ia kemudian bicara lagi.
"Halo?"
Jake berkata lagi. Tapi saat itu juga sambungan telepon terputus. Raut wajah Jake berubah seketika karena merasa ada yang mengerjainya. Ia kemudian mengirimkan nomor tak dikenal itu kepada timnya.
/Cepat cari tahu siapa pemilik nomor ini./
Begitulah pesan yang Jake kirimkan kepada timnya. Tampak Petrus dan Jinny yang masih menunggunya.
"Em, maaf. Ada seseorang yang meneleponku tapi tidak bicara apapun." Jake menerangkan kepada keduanya.
"Tak apa. Mungkin hanya salah sambung." Petrus pun mengerti.
Namun, tak berapa lama sebuah pesan diterima olehnya. Jake pun segera membacanya.
/Kau telah membuatku kehilangan banyak hal. Maka apa yang dapat kau lakukan jika kehilangan wanitamu? Dalam lima belas menit ini kau akan kehilangan selamanya. Lalu siapa pemenang sesungguhnya?/
__ADS_1
Begitulah bunyi pesan tersebut yang mana membuat detak jantung Jake melaju cepat bukan kepalang. Ia pun menelepon Lilia segera. Jake khawatir Lilia kenapa-napa.
"Kau di mana?"
Telepon dari Jake itu pun segera diangkat oleh Lilia yang sedang bekerja di depan meja kantornya. "Aku masih mengetik lampiran. Kau sudah pulang?"
Namun, tiba-tiba saja sambungan telepon itu terputus.
"Jake? Halo?" Lilia pun menanyakannya. Tapi saat itu juga lampu kantornya mati seketika. "Astaga!" Ia pun jadi panik sendiri.
Sial! Ada yang berani bermain-main denganku rupanya!
"Tuan, ada kabar buruk. Kami mendengar informasi jika ada seseorang yang menaruh bom waktu di gedung Sky Grup. Saat ini tim penjinak bom segera meluncur ke sana," terang anak buahnya.
"Apa?!!"
Saat itu juga Jake terkejut. Benar ternyata pesan yang diterimanya. Rasa cemas itu pun kini benar-benar melandanya.
"Siapkan tim penyelamat untuk Lilia! Dia masih berada di Sky Grup sekarang!" pinta Jake kepada anak buahnya segera.
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Sambungan telepon itupun terputus. "Tuan Jake?" Petrus yang melihatnya pun merasa heran.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Kita lanjutkan pembicaraan nanti."
Tanpa menyebutkan alasannya lagi, Jake pun berlalu dari depan meja makan. Ia berjalan cepat menuju luar vila lalu meminta kedua anak buahnya untuk mengikutinya.
"Ikut aku ke helikopter!" Jake pun begitu tergesa-gesa untuk menyelamatkan Lilia.
Sementara itu...
Lilia menyenter ruangan untuk menemukan cahaya tambahan. Tapi sayang, tidak ada siapapun di sana. Ia hanya sendirian di gedung berlantai lima ini. Sedang para karyawan dan office boy sudah pulang. Lilia pun merasa terjebak dalam situasi.
Ya Tuhan, ada apa ini?
Lilia mencoba mencari penerangan saat ruangan begitu gelap. Tapi baterai ponselnya tinggal 30% lagi. Lilia sibuk bekerja sampai lupa untuk men-charge ponselnya. Dan kini sudah mati lampu saja.
"Mungkin aku pulang saja. Tapi sayang sekali pekerjaanku tinggal sedikit lagi. Apakah aku harus meninggalkannya?" Lilia jadi dilema.
__ADS_1
Lilia berpikir cepat untuk mengambil tindakan. Dan karena ia hanya sendirian di sana. Ia pun kembali ke ruangannya untuk mengambil tas kerja. Ia kemudian mencoba menelepon penjaga gedung yang ada di bawah. Namun ternyata, tidak ada yang mengangkatnya. Saat itu juga Lilia panik seketika.