PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

Jake menelepon seseorang. "Bagaimana situasi terkini di rumah keluarga besar?" tanya Jake kepada salah satu timnya.


"Kondisi masih aman, Tuan. Belum ada pergerakan. Semua persenjataan telah disiapkan. Tim yang berjaga juga sudah berada di posisinya." Seseorang itu mengabarkan.


"Bagus. Tetap pertahankan kinerja kalian. Pancing mereka agar masuk ke kadang singa. Setelah itu tangkap hidup atau mati dalangnya!" Jake pun memerintah. Ia berkata dengan intonasi amarah di hatinya.


"Baik, Tuan. Laksanakan!"


Dan pada akhirnya peperangan itu sudah berada di puncaknya. Puncak dari segala puncak untuk membuktikan semua kebenaran. Jake bersama tim akan segera beraksi. Mereka sudah menyiapkan strategi.


Sementara itu...


Dari kejauhan tampak seseorang sedang menelepon di dalam mobilnya. Mobil itu mobil taksi di tengah hari yang hampir berganti. Keadaannya di sekelilingnya sangat tenang dan juga sepi. Hanya pencahayaan dari lampu jalan yang menerangi. Ia kemudian melaporkan intaiannya. Tak lama seseorang yang di seberang pun menjawab teleponnya. Di jam sebelas malam ini. Di hari yang hampir berganti.

__ADS_1


"Halo?" Seseorang dari seberang mengangkat teleponnya.


"Tuan, rumah keluarga besar tampak sepi. Cahaya lampu di sana tidak sebanyak hari biasanya. Lampu-lampu di dalam rumah pun dimatikan. Sepertinya keadaan mulai aman," tutur orang tersebut.


"Bagus. Siapkan persenjataan dari sekarang. Kita akan lakukan penyerangan," tutur orang dari seberang.


"Siap, Tuan."


Seseorang yang berada di dalam taksi itupun mengiyakan. Ia kemudian meninggalkan tempatnya. Ia akan kembali ke suatu tempat yang sudah siap dengan persenjataan. Penyerangan tak lama lagi akan dilakukan.


Lilia terbangun dari tidurnya. Ia merasa gelisah yang entah mengapa. Dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Lilia pun mencari Jake di sekelilingnya. Tapi ternyata Jake tidak berada di kamarnya.


"Dia ke mana?"

__ADS_1


Lilia pun berusaha mencari Jake di apartemennya. Ia keluar kamar lalu memeriksa seluruh ruangan yang ada. Namun, Jake tetap tidak ada di sana. Ia kemudian kembali ke kamarnya untuk menelepon Jake. Tapi, saat mengambil ponselnya, Lilia terkejut melihat wallpapernya sendiri. Fotonya bersama Jake ada di sana. Jake memeluk mesra Lilia sambil menciumnya. Saat itu juga Lilia terkejut seketika.


"Jake .... "


Ia tertegun di pinggir kasurnya sambil melihat foto tersebut. Dilihatnya foto itu dan tanpa sadar Lilia pun meneteskan air matanya. Jake kini telah menyayanginya. Jake juga tidak akan pernah lagi mengabaikannya. Lilia sungguh bahagia. Kesabarannya itu akhirnya membuahkan hasil yang indah.


"Aku mencintaimu, Jake."


Tak lama sebuah pengingat pun tampil di layar ponselnya tanpa suara. Yang mana pengingat itu berisi pesan Jake untuknya.


Babe, jangan cemaskan aku. Tunggu aku yang menghubungimu dulu. Secepatnya akan kukabarkan keberadaanku. Aku mencintaimu.


Begitulah yang Jake tuliskan di pengingat ponselnya. Sontak Lilia pun jadi bertanya-tanya tentang apa yang Jake lakukan sekarang. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya pun melaju dengan cepat. Lilia diserang kekhawatiran akan prianya. Tentang di mana dan sedang apa Jake saat ini. Ia pun hanya bisa mendoakannya.

__ADS_1


Jake ... aku berharap yang terbaik untukmu.


Pada akhirnya Lilia pun menunggu kabar gembira dari prianya. Ia mencoba berpositif thinking untuk menenangkan diri dari pikirannya sendiri. Lilia berharap yang terbaik untuk Jake. Calon suaminya dan juga calon ayah dari anak-anaknya kelak. Lilia mencintai Jake.


__ADS_2