PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Permintaan


__ADS_3

"I-iya. Saya mau, Tuan," jawab Lilia segera.


Ayah Jake menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kenapa kau mau menikah dengan putraku?" tanya ayah Jake lagi.


Dia ternyata benar-benar cerewet. Aku diinterogasinya hari ini. "Em, karena saya mencintainya," jawab Lilia segera.


"Mengapa kau mencintainya?" tanya ayah Jake lagi.


Pertanyaan yang ayah Jake ajukan seolah tidak pernah ada habisnya. Lilia pun menelan ludahnya sendiri. Ia merasa atmosfer di sekitarnya begitu tidak berpihak kepadanya. Nyali Lilia pun jadi ciut perlahan-lahan. Sedang Jake tampak tenang di sampingnya. Jake tidak membantu Lilia dalam menjawab pertanyaan dari ayahnya sama sekali. Lilia dibiarkan berpikir sendiri.


"Saya ... saya merasa nyaman dengan putra Anda, Tuan. Dia bisa memberikan kenyamanan yang saya butuhkan," terang Lilia kepada ayah Jake.


"Tapi dia duda. Dia bekasan orang! Kau mau dengan pria bekasan orang?!" tanya ayah Jake lagi, dengan intonasi ketus yang sangat tidak menyenangkan untuk didengar.

__ADS_1


Saat itu juga Lilia melirik tajam ke arah Jake. Ia merasa telah dibohongi oleh Jake. Lilia pikir ia adalah wanita pertama bagi Jake. Tapi setelah mendengar kata-kata dari ayah Jake, ia merasa dibohongi. Lilia kesal setengah mati. Jake pun menyadari.


"Ayah, jangan memperkeruh suasana. Aku memang duda. Tapi perjakaku bersamanya, Yah." Jake segera menjelaskan kepada ayahnya agar Lilia tidak marah.


"Oh, jadi begitu." Ayah Jake pun menurunkan intonasi bicaranya. "Jadi kapan kalian siap menikah? Biar ayah yang mempersiapkannya."


Pada akhirnya restu itu pun didapatkan. Lilia jadi semringah sektika. Ia tidak lagi marah kepada Jake.


"Secepatnya. Tapi tidak di sini. Aku masih banyak pekerjaan di dalam negeri," terang Jake.


"Ayah mau berapa?" Jake pun tanpa ragu menanyakannya.


"Sebelas boleh, dua belas juga boleh. Secepatnya," pinta ayahnya lalu segera meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Ap-apa?! Sebelas?! Tidak! Ini gila! Ayahnya pikir aku ini mesin pembuat anak apa?!


Lilia pun tampak menelan ludahnya. Ia tak menyangka jika sang calon mertua akan meminta seperti itu kepadanya. Pada akhirnya perkenalan pun selesai. Jake dan Lilia sudah mendapatkan restu untuk menikah. Tapi masalahnya, apakah Lilia akan memenuhi harapan mertuanya?


"Jangan kaget. Ayah memang begitu. Nanti juga terbiasa menghadapi sikapnya." Jake pun menggandeng Lilia. Keduanya kemudian ke halaman belakang rumah.


Pukul sebelas siang waktu Swiss dan sekitarnya...


Jake mengajak Lilia jalan-jalan mengelilingi kota bersama ayahnya. Tampak sang ayah yang duduk di samping Jake, sedang Lilia sendirian di kursi belakang. Ayah dan putra itu tampak bercakap-cakap di sepanjang perjalanan. Sedang Lilia sendiri hanya diam jika tidak ada pertanyaan. Ia masih canggung untuk berbaur bersama calon mertuanya. Lilia masih segan untuk mendekatkan dirinya. Apalagi interogasi yang terjadi tadi. Membuat nyali Lilia jadi ciut sendiri. Ayah Jake begitu cerewet bak perempuan.


"Jadi pertambangan batu bara itu diserahkan ke paman Wiliam?" tanya Jake seraya menoleh ke ayahnya.


"Ya. Biar dia saja yang mengurusnya. Dia masih muda," terang ayahnya.

__ADS_1


"Kenapa Ayah tidak memberikan padaku saja? Aku lebih berhak darinya." Jake tidak terima.


Sang ayah melirik tajam ke putranya. "Jangan serakah. Modal hidup yang kuberikan padamu itu sudah cukup besar. Usaha sendiri dulu saja. Ke depannya nanti bisa dibicarakan," cetus sang ayah kepada putranya.


__ADS_2