PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Memandangimu


__ADS_3

Entah setan apa yang merasuk, setibanya di apartemen mereka memutuskan untuk berendam bersama di bak kamar mandi. Dan akhirnya hormon ketertarikan itu begitu kuat mengendalikan pikiran saat mereka melihat pemandangan indah dari pasangannya, tepat di depan mata. Dan pada akhirnya mereka pun melakukannya kembali. Tapi kali ini berbeda dari yang sebelum-belumnya. Dimana Jake membiarkan Lilia mendominasi. Lilia pun bergerak bebas sesuka hati.


Jake memejamkan matanya. Ia menggigit bibirnya sendiri. Kedua tangannya memegang pinggul Lilia di dalam bak mandi. Hingga akhirnya ia sudah tidak sanggup lagi. Jake pun menghentakkan tubuhnya dengan keras ke Lilia. Saat itu juga hormon dopamin memenuhi seluruh otaknya. Jake melepaskan kebahagiaan dalam dirinya bersama Lilia. Karena hanya Lilia lah yang bertahta. Wanita penggoda itu telah menjadi ratu di hatinya.


Satu jam kemudian...


Wanita cantik bertubuh sintal itu tampak tertidur di kasur Jake yang besar dan mewah. Ia tertidur dengan mengenakan kemeja putih Jake yang besar. Namun, hanya mampu menutupi pahanya. Jake pun menarikkan selimut untuk Lilia.


Dia kelelahan.


Jake sendiri masih mengenakan handuk kimono berwarna putihnya. Jake ingin merokok sebentar sebelum terlelap dalam mimpi. Ia pun menuangkan anggur ke dalam gelas minumnya. Ia ingin bersantai sejenak menikmati hari.

__ADS_1


Sekarang tugasku semakin besar. Pimpinanku, perusahaanku dan wanitaku. Ketiganya sangat berarti bagiku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan mereka.


Begitulah yang Jake ucapkan di dalam hatinya saat melihat Lilia sedang tertidur di kasurnya. Ia pun duduk di sofa tunggal yang ada di kamarnya. Di tengah lampu kamar yang tidak menyala. Hanya lampu dari teras luar saja yang meneranginya. Jake oun mulai menghidupkan puntung rokoknya. Ia ingin bersantai sejenak.


Jake memandangi Lilia yang tertidur di sana. Ia pun teringat dengan malam indah pertama mereka. Dimana Lilia menolak akan dirinya. Namun, pada akhirnya Lilia menyerah juga. Di saat itulah hatinya mulai ia percayakan kepada Lilia. Tapi sayang, esok paginya ia malah melihat Lilia bertemu Lea. Jake pun jadi ragu dengan Lilia. Ia marah karena Lilia mencoba mengkhianatinya.


Bukan hanya satu atau dua hari bersama. Bukan hanya dua atau tiga minggu bersua. Tapi sudah lebih dari empat-lima bulan mereka dekat. Dan jika ditotal hampir satu putaran matahari sejak mereka kenal. Hanya tinggal beberapa bulan lagi saja mereka menggenapkannya. Dan hal itu tentunya sangat berarti bagi Jake.


Jake mendengar ponselnya bergetar. Di tengah temaram kamar ia pun mengangkat telepon masuknya itu. Tak lama kemudian ia pun mendengar suara dari seberang. Suara Lara di tengah suasana yang sepi. Jake pun segera menanyakannya.


"Ada apa?" tanya Jake kepada Lara.

__ADS_1


"Tuan, aku ada informasi besar untukmu," kata Lara dari seberang teleponnya.


"Katakan."


Jake pun meminta. Ia akan mendengarkan semua perkataan Lara. Saat itu juga Jake mendengar semua yang Lara ceritakan. Ia pun lekas mematikan puntung rokoknya. Raut wajahnya berubah seketika.


"Baik. Aku mengerti. Pertahankan hargamu dan buat seolah-olah kau berpihak padanya. Aku tidak merasa masalah." Jake pun mengambil keputusan.


"Baik, Tuan."


Pada akhirnya telepon pun terputus. Lara menyudahi laporannya kali ini kepada Jake. Dan tentu saja raut wajah Jake berubah seketika. Wajahnya kini dipenuhi amarah yang siap meledak ke permukaan. Jake pun segera bersiap-siap untuk melancarkan aksinya.

__ADS_1


__ADS_2