PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Bermain Air


__ADS_3

Di apartemen Jake, pukul sembilan malam...


Gelas berisi anggur merah itu menjadi saksi Lilia yang duduk manja di atas pangkuan prianya. Tampak rambut panjangnya digulung agar tidak sampai terkena air. Keduanya tengah berendam di dalam air hangat tanpa mengenakan lapisan apa-apa. Begitu transparan dan langsung mengenai permukaan. Sensasi luar biasa itupun keduanya rasakan saat Lilia mulai menggoyangkan pinggulnya. Jake menikmati setiap ritme yang diberikan wanitanya.


Deru napas mulai memburu di setiap penekanan-penekanan yang diberikan. Memompa laju jantung untuk terus berdetak kencang. Kadang Lilia sesekali menggigit bibir Jake. Kadang juga ia menggigit-gigit kecil telinga prianya. Semua itu ia lakukan untuk membuat Jake relaks sehabis bekerja seharian. Lilia begitu pengertian terhadap prianya. Ia tahu apa yang Jake inginkan.


Begitu lembut dan perlahan yang Lilia lakukan, membuat dada Jake kembang kempis merasakannya. Detak jantung yang melaju cepat seakan ingin lekas mengakhiri permainan. Tapi keduanya saling menikmati setiap inci permainan. Hingga akhirnya Jake merasa di ujung pertahanannya. Ia kemudian membenamkan wajahnya di dada Lilia. Ia menghisapnya dengan gemas.


"Kau milikku, Beb. Kau milikku."

__ADS_1


Begitulah rancauan demi rancauan yang terdengar dari bibir tipis Jake, yang mana dulu seringkali menyakiti hati Lilia. Tapi kini bibir itu bertekuk lutut dan hanya menuruti perintah. Apa yang Lilia minta, segera dilaksanakannya. Tak ayal Lilia pun dibuat mabuk kepayang olehnya. Sensasi itu begitu luar biasa dirasakannya.


"Jake, berjanjilah untuk tidak meninggalkanku." Suara manja itu terdengar dari mulut wanitanya.


"Tidak akan, Beb. Tidak akan. Ah!"


Pada akhirnya Jake pun tidak lagi bisa menahan desah indah dari mulutnya. Lilia juga terus saja menggoyangkan pinggulnya di pangkuan Jake. Kadang perlahan, kadang cepat dan kadang dipercepat. Jake sampai tak kuasa untuk memberikan perlawanannya. Ia pasrah dikendalikan Lilia.


Suara berat Jake terdengar. Rasa lelah sehabis bertarung dengan hari membuatnya ingin cepat menyerah. Tapi Lilia masih ingin terus melanjutkan permainannya. Ia tidak ingin hal ini cepat usai. Lilia pun berhenti sejenak dari apa yang ia lakukan terhadap Jake. Lilia memberi Jake waktu untuk bernapas sejenak.

__ADS_1


Setelah apa yang terjadi dan mereka lewati bersama, Lilia ingin memiliki Jake seutuhnya. Lilia sudah dibutakan oleh cinta. Ia terlanjur basah ke dalam setiap sentuhan Jake. Dan kini ia menyerahkan dirinya. Membiarkan Jake menikmati setiap inchi dari tubuhnya.


Lilia memeluk Jake. "Kau ingin melepaskannya? Atau berhenti sejenak?" tanya Lilia dengan jarak yang begitu dekat. Bibirnya itu hampir menyentuh bibir Jake.


"Kau membuatku gila, Beb. Lakukan sesukamu. Selesaikan hasratmu padaku."


Pada akhirnya Jake pun pasrah terhadap keinginan wanitanya. Wanita yang dulu tidak diinginkannya kini malah membuatnya gila. Jake kecanduan akan Lilia. Suaranya, senyumnya, mata bulatnya, sentuhannya dan semua yang ada pada Lilia miliki membuat Jake tenggelam dalam kegilaannya. Dan hanya Lilia seorang lah yang mampu menaklukkan hatinya. Cinta Jake kini begitu besar kepada wanitanya. Ia menyerahkan segalanya kepada Lilia.


"Jake, kita tuntaskan bersama."

__ADS_1


Tangan Lilia pun mulai melingkar di leher Jake. Jake juga mulai bergantian bekerja. Ia mengerti hal apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jake pun memompa Lilia dari bawah. Getaran demi getaran yang Lilia rasakan membuatnya melayang ke angkasa. Jake kemudian menghentakkan tubuhnya. Hentakan demi hentakan yang membuat Lilia menggila.


__ADS_2