
"Tapi paman Wiliam kan banyak anaknya, Yah. Nanti mereka malah menghakimi tambang batu bara itu. Aku malas ribut dengan anak-anaknya." Jake tidak ingin ambil pusing.
"Hah ...," Sang ayah tampak memijat kepalanya sendiri. "Sayang aku hanya punya satu putra. Jika banyak, tentu tidak akan meminta orang lain untuk mengurusinya." Sang ayah tampak bersedih hati. Saat itu juga Jake tersenyum lebar kepada ayahnya.
"Nanti kan punya cucu banyak, Yah. Bagi-bagi saja ke cucunya. Bukan begitu, Lilia?" Jake pun menanyakan Lilia. Ia melihat Lilia dari kaca tengah mobilnya.
"I-iya." Saat itu juga Lilia hanya bisa berkata seperti itu.
"Kalian sama saja." Sang ayah pun tampak menggelengkan kepalanya.
Jake membelokkan setir mobilnya ke kanan. "Bagaimana dengan peternakan sapi Ayah? Apakah berjalan lancar?" tanya Jake lagi.
"Kau juga ingin mengambilalihnya?!" Sang ayah tampak kesal.
__ADS_1
"Hahahaha."
Jake tertawa. Ayahnya yang sudah tua itu pun melihat ke arah Jake dengan tatapan yang kesal. Sedang Lilia mulai mengerti kedekatan antara sang ayah dan putranya.
Jadi mereka seperti ini? Seperti teman? Apakah orang luar memang menerapkan konsep pertemanan dengan anak-anaknya? Atau aku saja yang tidak mengetahuinya? Sayang aku tidak punya orang tua. Jadi tidak tahu bagaimana hubungan anak yang sesungguhnya.
Lilia tampak sedih di kursi belakang mobil. Ia menyayangkan nasibnya yang tidak bisa bercanda bersama ayah atau ibunya. Jake pun menyadarinya. Tapi ia diam saja. Ia membiarkan Lilia diam di sana sementara ia menanggapi ayahnya bicara. Jake membagi waktunya.
Sepasang insan itu lebih serius menjalin hubungan dan tidak ragu untuk mengenalkannya kepada orang lain. Lilia pun jadi tidak bersedih lagi. Jake telah menunjukkan keseriusannya. Saat ini yang harus ia lakukan hanya menuruti Jake saja. Selebihnya Jake yang akan mengurusnya. Dan pesta pernikahan itu sepertinya tidak akan lama lagi terselenggara.
Malam harinya...
Lilin-lilin berwarna merah menerangi meja makan di sebuah restoran yang ada di Kota Swiss. Hidangan laut disajikan dengan bumbu khas negeri ini. Tampak lobster berukuran besar menjadi menu utama mereka. Lilia pun mencicipinya dengan dibantu oleh Jake. Dan ternyata rasanya manis asam sekali.
__ADS_1
Malam ini adalah malam ke dua Lilia di Swiss. Malam ini juga sebuah makan malam diadakan bersama sang calon mertua. Setelah siang hari berkeliling kota, kini tiba bagi Lilia untuk mencicipi makanan khas rempah negeri ini. Dan Lilia tampak menyesuaikan lidahnya dengan bumbu rempah hidangan yang disajikan. Sedang Jake tampak bercakap-cakap dengan ayahnya mengenai pertemuan tadi.
"Jadi dia ingin mengajak Ayah bekerja sama di bidang peternakan sapi?" tanya Jake kepada ayahnya.
Ayah dan putra itu tampak mengenakan setelan jas hitam yang formal. Sedang Lilia mengenakan pakaian berlengan panjang dengan corak bunga mawar. Ketiganya tampak formal malam ini. Lilia pun berhati-hati dalam mencicipi hidangannya.
"Ya. Dia menawarkan ratusan ribu poundsterling untuk itu." Sang ayah menanggapi.
"Besok aku dan Lilia akan mengecek lokasinya. Mungkin bisa sedikit membantu Ayah," terang Jake kemudian.
"Kau ingin menjadikan lahan bisnismu?" tanya sang ayah segera.
"Oh, ayolah, Yah. Segala sesuatu di dunia ini adalah bisnis. Termasuk obat pereda nyeri yang Ayah konsumsi itu juga adalah hasil dari bisnis. Apa yang tidak dibisniskan di dunia ini, Yah?" Jake balik bertanya kepada ayahnya.
__ADS_1