PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Selalu Menggelora


__ADS_3

Sore harinya, di kantor GOC...


Lilia tampak berada di ruangan Jake dan mengurus semua laporan administrasi hari ini. Ia juga menata rapi semua dokumen yang ada di ruangan sang bos besar. Lilia pun mengganti aroma terapi ruangan dengan aroma parfum kesukaannya. Lilia berbuat sesuka hati tanpa takut dimarahi Jake nantinya.


Tak berapa lama sang empu ruangan pun datang. Tepat pada pukul empat sore, Jake melihat Lilia tengah membersihkan meja kerjanya. Lilia juga mematikan komputer kantor yang ada di ruangan Jake. Ia begitu peduli terhadap kenyamanan kerja prianya.


"Hm, sepertinya ada yang mengganti parfum ruangan ini." Jake pun melihat ke arah Lilia yang belum menyadari kehadirannya.


"Jake?!" Sontak Lilia terkejut.


"Kemari, Beb." Jake meminta Lilia untuk mendekat dengan jari telunjuknya. Lilia pun mendekat ke arah prianya. "Kau semakin berani semakin hari," kata Jake yang memegang pinggul Lilia.

__ADS_1


Lilia mengenakan kaus polos sore ini. Ia juga mengenakan rok yang cukup pendek untuk ukuran wanita di kantornya. Ia sudah melepas blezernya. Lilia seperti ingin menggoda prianya.


"Kau juga sudah berani mengeluarkannya di dalam. Jadi aku meminta hakku," kata Lilia seraya mencolek hidung Jake.


Saat itu juga jantung Jake berdetak keras karena terkejut dengan ucapan Lilia. Lilia bak sudah menjadi istrinya sendiri. Melebihi status dari seorang kekasih. Jake pun menyadari jika hanya Lilia lah yang mengetahui bagaimana dirinya. Dan juga apa yang dimilikinya.


Lilia menuju ke meja teh untuk membuatkan Jake kopi. Jake pun segera mendekati Lilia lalu memeluknya dari belakang. Jake tidak lagi peduli jika ada karyawan yang masuk lalu melihat mereka bermesraan. Jake telah memproklamirkan hubungannya dengan Lilia.


Lilia mencampur kopi dan gula yang ada di sana. "Kau sudah siap memperkenalkanku?" tanya Lilia segera.


Jake membenamkan wajahnya di bahu Lilia. Ia hirup dalam-dalam aroma parfum wanitanya yang memabukkan. "Aku sudah siap. Tapi kau harus lebih siap dariku. Karena ayahku itu cerewet seperti perempuan," terang Jake kepada Lilia.

__ADS_1


Lilia berbalik menghadap Jake. "Apakah dia bermasalah dengan strata sosial hubungan kita?" Lilia menanyakannya.


Jake tersenyum. Ia mencubit gemas pipi wanitanya. "Kau adalah pemilik 25% saham GOC setelah menikah denganku, Lilia. Dia tidak akan mempermasalahkannya. Sekalipun dia tahu masa lalumu, maka aku yang akan menjelaskannya. Hanya saja aku minta kekuatan hatimu saat tinggal di sana nanti. Karena dia itu begitu cerewet seperti perempuan. Maklum, dia memang ayah sekaligus ibu bagiku." Jake menjelaskan.


Saat mendengarnya, saat itu juga Lilia mulai menyadari status kedua orang tua Jake. Ia pun ingin menanyakannya segera. Tapi khawatir Jake akan tersinggung dengan ucapannya. Pada akhirnya Lilia hanya memendamnya saja. Ia menunggu waktu yang tepat untuk bicara.


"Em, baiklah. Lusa kita berangkat. Tapi apakah semua akan aman jika ditinggal?" tanya Lilia kepada Jake.


Jake mengangguk. "Tenang saja. Aku sudah meminta kepada orang terpercaya untuk mengawasi semuanya. Kau jangan khawatir, Beb. Kita segera ke Swiss lusa nanti." Jake kembali mencubit pipi Lilia.


Lilia mengangguk. Ia lalu memegang dada Jake. Keduanya kemudian berciuman di dalam ruangan, di hari yang sudah semakin sore ini. Baik Lilia maupun Jake menikmati ciuman itu. Saling beradu dan berpadu menjadi satu. Jake pun dengan gemas menarik bibir wanitanya. Gejolak di tubuhnya mulai membara. Jake pun mengajak Lilia ke kamar mandi ruangannya. Mereka akan menuntaskannya di sana.

__ADS_1


__ADS_2