
"Jake!"
"Sst!" Jake meminta Lilia untuk tidak menjawab. Ia kemudian menatap wanitanya setelah selesai mengenakan kausnya. "Sekali kau nakal, aku tidak akan pernah mengampunimu, Beb. Tolong ingat kata-kata ini." Jake mulai menunjukkan kepemilikan yang penuh terhadap Lilia.
Lilia mengembuskan napasnya. "Baiklah." Ia akhirnya pasrah.
Jake tersenyum. Ia kemudian mencubit ujung hidung Lilia. Saat itu juga Lilia memegang hidungnya. Ia kesakitan.
"Jake, sakit!"
"Tapi enak, bukan?"
"Hah???"
"Sudah cepat jalan! Kita temui ayah sekarang!"
"Jangan remas pantatku!"
"Itu milikku."
"Hah, apa?"
__ADS_1
"Muach!"
Pada akhirnya keduanya pun segera keluar dari kamar untuk menemui sang empu rumah yang berada di lantai satu. Jake pun tampak siap mengenakan Lilia ke ayahnya. Sedang Lilia tampak mengusap pantatnya sendiri. Jake dengan gemas meremas dan memukulnya. Lilia pun jadi kesakitan sendiri.
Dasar mesum! Awas saja nanti!
Lilia pun mencoba memosisikan diri sebagai calon menantu yang baik. Ia menebarkan senyuman sesampainya di lantai satu kediaman ayah Jake. Tampak pelayan kediaman ayah Jake yang menyapa dan memberikan hormat padanya. Tak lama seorang pria tua pun keluar dari kamarnya. Mereka akan sarapan pagi bersama.
Belasan menit kemudian...
Canggung. Itulah yang Lilia rasakan saat berada di depan meja makan bersama ayah Jake. Ia berusaha memosisikan diri sebagai calon menantu idaman bagi ayah Jake. Tapi, ayah dari Jake tampak diam dan tidak bicara. Lilia pun jadi segan untuk menyapanya.
Di lain sisi Jake menikmati raut wajah Lilia yang tampak begitu canggung di hadapan ayahnya. Ia pun tertawa sambil meneruskan sarapan paginya. Belasan menit berlalu akhirnya sarapan pagi selesai. Yang mana ayah Jake tidak menegur Lilia sama sekali. Ia malah pergi meninggalkan meja makan. Seolah-olah tidak melihat ada Lilia di sana.
Lilia pun mulai gupek. Ia bingung harus bagaimana. Jake juga tampak tidak bicara apa-apa. Hingga akhirnya Jake tak kuasa lagi untuk menahan tawanya. Ia tertawa melihat Lilia yang merana. Merana karena tidak dihiraukan oleh ayahnya.
"Kita temui, Ayah."
Jake akhirnya mengajak Lilia ke ruang keluarga, dekat dengan taman belakang rumah yang indah. Jake pun kemudian memperkenalkan Lilia kepada ayahnya.
"Wanita ini adalah istriku, Yah." Tiba-tiba saja Jake berkata seperti itu.
__ADS_1
"Jake!" Lilia pun menginjak kaki Jake.
Jake kesakitan, tapi ia menahannya. Sementara sang ayah tampak tidak menghiraukan perkataan putranya. Ia malah membaca surat kabar pagi ini sambil meneguk tehnya.
"Dia istri ke duaku," terang Jake lagi. Saat itu juga Lilia semakin kuat menginjak kaki Jake. "Aduh!" Jake pun kesakitan dan tidak bisa tertahankan.
"Dia mau denganmu?" Pada akhirnya ayah Jake pun menanggapi ucapan putranya.
"Tentu, Yah. Jika dia tidak mau, tentu tidak akan datang ke sini." Jake begitu yakin.
Sang ayah kemudian meletakkan surat kabarnya ke meja. Ia melihat ke arah putranya yang masih berdiri di hadapannya bersama Lilia. Ayah Jake itu kemudian beralih ke Lilia.
"Siapa namamu?" tanya ayah Jake kepada Lilia.
"Saya ... Lilia Hana, Tuan." Lilia menjawabnya.
"Apa pekerjaanmu?" tanya ayah Jake lagi.
"Wakil Direktur di Sky Grup." Lilia berkata saja seperti itu. Saat itu juga Jake menahan tawanya.
Ayah Jake tampak mengangguk-angguk. "Kau yakin mau menikah dengan putraku?" tanya ayah Jake lagi.
__ADS_1
Lilia mengangguk.
"Jawab saja iya atau tidak!" pinta ayah Jake dengan menaikkan intonasi bicaranya.