PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Adu Strategi


__ADS_3

Sementara itu di rumah keluarga besar...


Sepi. Itulah keadaan di sekitar jalan rumah keluarga besar. Tidak ada pedagang malam yang lewat, tidak ada kendaraan yang melintas. Sunyi, sepi, dan hanya lampu penerangan jalan yang menerangi. Rumah mewah bak istana itu juga tampak lebih gelap malam ini. Penerangan hanya ada di beberapa titik saja.


Hal itu tentu dimanfaatkan oleh tim elang untuk memasuki rumah tersebut. Orang-orang berbaju hitam dengan senjata tajam mulai melemparkan tali jangkar ke pagar tinggi rumah itu. Satu per satu dari mereka menaiki pagar lalu bergerak cepat dari arah yang gelap. Tanpa suara, tanpa dentingan yang terdengar. Mereka mulai melihat situasi di rumah itu. Hingga akhirnya salah satu dari mereka memberi instruksi untuk melakukan penyerangan. Mereka pun mulai menembaki para penjaga yang berada di luar.


DOR! DOR! DOR!


Satu per satu penjaga di halaman depan rumah pun bertumbangan di tengah lampu taman yang temaram. Tim elang pun mulai berlari ke arah pintu masuk rumah itu. Sedang beberapa dari mereka mulai berdatangan. Dan sebagian yang lain melihat keadaan. Mereka mengelilingi rumah itu untuk mengepung yang ada di dalam sana. Di tengah malam yang akan berganti fajar.


"Buka pintunya! Cepat!"

__ADS_1


Dengan menggunakan peralatan canggih, mereka pun membuka pintu masuk utama tanpa suara. Pemimpin dari mereka memberikan kode agar masuk ke dalam rumah, memisahkan diri lalu naik ke lantai dua. Tampak dari mereka ada yang berlari ke arah kanan dan juga ada yang ke kiri. Mereka mulai memasuki kamar-kamar yang ada di sana.


"Posisi aman, Tuan."


Tak lama kemudian sebuah mobil hitam memasuki rumah itu. Terbukalah pintu gerbang yang sudah dikondisikan sebelumnya. Dan terlihatlah para penjaga rumah yang sudah bergeletakan di tanah. Seseorang dari mobil itupun keluar lalu menyiapkan pistolnya. Ia akan melakukan eksekusi sendiri malam ini. Jiwanya diliputi dendam yang harus segera terbayarkan. Ialah Biden yang memasuki rumah keluarga besar.


Biden berjalan cepat ke arah kamar Petrus. Di tengah lampu rumah yang temaram dan anak buahnya yang memberikan jalan. Seseorang di dalam kamar itu pun tampak sedang duduk menatap ke halaman luar. Ia terlihat pasrah di atas kursinya. Biden pun memasuki ruangan itu dengan mudahnya. Sebuah kamar luas dengan perabotan mewah di dalamnya.


Seseorang itu duduk di kursinya dengan membelakangi Biden. Ia tampak lemah karena usia yang sudah tua. Rambutnya beruban dengan kaca mata yang dipakainya. Ialah kakak tiri dari Biden sendiri yang selama ini membuat Biden murka karena pembagian harta yang didapatkannya. Tapi seseorang itu tampak diam saja.


"Sudah lama sekali aku menantikan hal ini. Tapi rasanya aku tidak akan segera menghabisimu, Kakakku Sayang. Aku ingin bermain-main terlebih dulu," katanya dengan intonasi penuh kebencian.

__ADS_1


Sosok itu kemudian membalikkan badannya ke arah Biden. Biden pun mulai mengarahkan pistolnya. Hingga akhirnya sosok itu bicara kepadanya.


"Sudah kuduga jika kaulah dalang di balik semua ini." Sosok itu berkata, tapi entah mengapa membuat Biden terbelalak seketika.


"Kau?!"


Biden pun terheran-heran dengan suara yang didengarnya. Di tengah lampu kamar yang digelapkan, ia merasa ada yang salah. Biden merasa yang berada di hadapannya adalah Petrus. Tapi suara yang ia dengar bukanlah suara Petrus, melainkan suara seseorang yang telah membuatnya naik pitam.


"Selamat datang di perangkapku, Tuan."


Sosok itupun berdiri berhadapan dengannya, dengan jarak sekitar tiga meter. Ia kemudian melepas topeng samarannya. Dan saat itu juga Biden terbelalak tak percaya, melihat siapa gerangan yang ada dibalik topeng tersebut. Suara-suara tembakan pun mulai terdengar dari luar sana. Biden masuk ke perangkap Jake Thompson.

__ADS_1


__ADS_2