
Andrian tampak mengerti apa maksud dari perkataan Biden itu. "Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Andrian segera.
Biden menghidupkan cerutunya. Ia menatap langit yang mulai gelap. "Untuk saat ini tetap jalankan tugasmu sebagai General Manager di perusahaanku. Jangan bertindak semaunya tanpa ada perintah dariku. Dan juga untuk sementara baiknya kau tidak menemui Lea terlebih dulu. Aku khawatir media massa menemukanmu bersamanya. Sehingga prasangka publik tetap baik kepada Jake. Aku ingin tingkat kepercayaan publik terhadapnya berkurang. Karena saat kepercayaan itu menurun, Jake akan tenggelam. Sehingga kita bisa dengan mudah menghancurkannya."
Biden bertutur panjang petang ini untuk memeringatkan Andrian agar tidak gegabah dalam bertindak. Apalagi ia ingin memenangkan peperangan. Biden ingin menjatuhkan Jake secara mental dan pikiran. Ia harus memainkan strategi cantik untuk memenangkan peperangan. Dan Biden akan melakukannya untuk kejayaan perusahaan dan harta benda. Karena ia ingin seperti Jake yang berpengaruh besar terhadap pasar modal.
Lalu apakah Biden mampu meraih itu semua?
Malam harinya, pukul delapan malam waktu ibu kota dan sekitarnya...
"Maaf merepotkanmu, Nona Angelina."
__ADS_1
Bos besar perusahaan konstruksi terkemuka itu tampak menjemput Lilia di rumah Angelina. Ia baru saja selesai memindahkan Petrus ke tempat yang lebih aman dibanding rumah sakit. Dan kini hanya ia yang tahu di mana keberadaan Petrus yang sebenarnya. Semua tak lain untuk menjaga Petrus dari intaian pembunuhan. Jake berjaga di garda terdepan.
Selepas menyelesaikan urusannya, Jake segera menjemput Lilia di rumah Angelina. Malam ini pun ia bertemu langsung dengan suami dari teman wanitanya. Keduanya bercakap-cakap sebentar lalu berpamitan pulang.
"Jaga dirimu baik-baik, Lilia."
Pada akhirnya Angelina pun harus merelakan Lilia dijemput oleh Jake. Padahal mereka baru saja mengobrol selepas makan malam bersama. Lilia pun berpamitan. Ia segera masuk ke dalam mobil Jake. Ia melambaikan tangannya ke arah Angelina yang mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah. Jake pun segera masuk lalu mulai melajukan mobilnya. Jake akan membawa Lilia ke apartemennya.
"Em, ya. Katanya sudah memasuki bulan ke empat," tutur Lilia sambil melihat ke belakang. Ia tampak tak rela meninggalkan rumah Angelina sekarang.
"Kau mau seperti itu? Aku bisa memberikannya." Jake pun mulai nakal kepada Lilia.
__ADS_1
"Jake, kau sedang mabuk?" tanya Lilia penasaran.
Jake tersenyum tipis. "Mana pernah aku melakukannya dalam kondisi mabuk, Beb. Kesadaranku penuh saat bersamamu. Beberapa gelas bir itu tidak berpengaruh bagiku." Jake menjelaskannya seraya menoleh ke Lilia.
Lilia pun tampak sebal mendengarnya. "Sudah, lajukan saja mobilnya. Aku khawatir kau tidak fokus!" Lilia pun menggerutu di samping Jake.
Jake tersenyum. Ia merasa senang karena Lilia masih berada di sisinya. Menemaninya melanjutkan peperangan ini yang sudah sampai di puncaknya. Jake pun terus melajukan mobilnya menuju gedung apartemen bersama Lilia. Tampak mobil yang Jake kendarai malam ini berbeda dari biasanya. Bos kaya raya itu bisa membeli apa saja dengan uangnya.
Sementara itu di waktu yang bersamaan...
Biden mengajak Lara bertemu seusai jam kantor. Dan kini keduanya berada di ballroom sebuah hotel sambil mendengarkan presentasi dari penyewa ballroom tersebut. Biden sengaja mengajak Lara ke sana agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Biden mengambil keramaian untuk mengalihkan kecurigaan tim Jake yang berada di dekatnya. Sehingga apa yang dibicarakannya tidak bisa terdengar.
__ADS_1