PERMAINAN SANG CEO

PERMAINAN SANG CEO
Canda Pagi


__ADS_3

Dua jam kemudian...


Lilia terbangun dari tidurnya dan melihat Jake tengah tertidur di sofa ruangan. Ia pun beranjak bangun lalu menghampiri Jake. Ia perhatikan pria yang sedang tertidur itu.


Kasihan sekali Jake. Dia pasti sangat kelelahan sampai mendengkur seperti itu.


Jake mendengkur. Ia tampak begitu kelelahan menghadapi hari sampai tidak ingat waktu istirahat lagi. Lilia pun mencoba mengambil ponsel Jake dari saku jasnya, lalu melihat-lihat apa saja yang ada di sana. Dan ternyata data ponsel Jake tidak diaktifkan. Ia seperti sengaja mematikannya agar bisa istirahat sebentar.


Kondisi tubuh Lilia sendiri kini sudah membaik. Ia juga sudah tidak menggunakan infus ataupun selang udara lagi. Tapi Lilia masih harus banyak mengonsumsi obat-obatan penambah energi selama dua hari ke depan. Tak lain tak bukan agar staminanya lekas pulih. Karena kejadian penculikan itu sempat membuatnya mengalami kelelahan psikis yang drastis.


"Eh, ada telepon?"


Lilia pun mencoba mengaktifkan data ponsel pintar milik Jake. Tak berapa lama kemudian pemberitahuan akan banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab pun muncul. Ia segera melihat siapa saja yang menelepon Jake. Dan tak lama ponsel Jake itu pun bergetar. Lilia segera melihat apa penyebabnya. Dan ternyata Jinny lah yang sedang menelepon Jake saat ini.


"Ada apa ya?"

__ADS_1


Lilia bingung harus mengangkat teleponnya atau tidak. Ia tidak berani mendahului Jake. Hingga akhirnya telepon itu mati lalu menelepon kembali. Lilia pun ingin sekali mengangkat teleponnya. Ia merasa ada hal penting untuk segera diketahui. Tapi ternyata Jake sudah menyadari kehadirannya. Pria berwajah muram itu terlihat memerhatikan Lilia yang sedang memegang ponselnya. Lilia pun kaget melihat Jake sudah terbangun dari tidurnya.


"Jake?!" Lilia terkejut dengan mata terbebelak kaget.


"Sedang apa? Apa yang kau cari?" tanya Jake dengan suara seraknya.


"Em, anu ... em .... " Lilia jadi bingung sendiri menjawabnya.


Jake beranjak bangun. Ia duduk di sofa, samping Lilia. "Kalau kau ingin mencari simpananku, tak ada di sini. Semuanya di bank," kata Jake lalu mengambil ponselnya dari tangan Lilia.


Lilia jadi tidak enak sendiri. Ia merasa kepergok dan Jake salah berprasangka terhadapnya. "Em, bukan begitu. Aku hanya ingin melihat fotoku di ponselmu." Lilia beralibi.


Ap-apa?! Dasar mesum! Aku mikir ke mana, dia mikir ke mana!


Tak lama ponsel Jake pun bergetar lagi. Dan ternyata Jinny lah yang menelpon kembali. Jake pun segera mengangkat teleponnya. Ia memang sengaja tidak menyuarakan dering ponselnya.

__ADS_1


"Halo?" Jake menjawab.


"Halo, Tuan. Tuan, ada kabar buruk. Tuan Petrus kecelakaan."


Saat itu juga raut wajah Jake berubah dengan cepat. Ia seperti tidak bisa berkata apa-apa.


"Apa?!" Jake tampak tak percaya.


"Benar, Tuan. Mobil yang ditumpangi tuan Petrus ditabrak seseorang. Dan kini tuan Petrus bersama supirnya sedang dirawat," tutur Jinny kembali.


"Baik. Aku segera ke sana. Kirimkan denahnya!" Jake pun meminta.


Belum selesai satu masalah, ternyata masalah lain sudah datang. Jake pun segera mengambil jasnya lalu bergegas pergi. Tapi, Lilia menahannya. Saat itu juga Jake tersadar jika harus mengurus Lilia juga.


Sial! Aku terjebak!

__ADS_1


Jake menyadari jika masih ada Lilia yang membutuhkannya. Ia juga tidak mungkin pergi tanpa Lilia saat ini. Jake bingung menghadapi situasi sulit seperti ini. Ia harus memilih di antara wanita atau pimpinannya. Lalu siapakah yang akan Jake pilih?


"Jake, ada apa?" Lilia pun tampak penasaran.


__ADS_2