Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Diintip Suami


__ADS_3

Secepat kilat Pangeran Han bangun. Ia pun langsung menatap ke sekitar seperti yang Ailing lakukan.


“Apa kamu melihat seseorang?“ tanya Pangeran Han.


Langsung saja Ailing melirik ke arah pria di sampingnya itu.


“Tadi aku melihat sekelebat bayangan, tapi aku tidak tahu itu apa,” jawab Ailing sambil kembali menatap sekitar.


“Aku harap kamu mau memberikan kesempatan padaku untuk membuktikan semuanya,” monolog Pangeran Han sembari mundur selangkah. “Aku harap kamu akan menetapkan hatimu untuk cinta kita yang sudah lama kita perjuangkan dan tetap mempercayai rencana kita, Ling-Ling. Hanya kamu yang ada di hatiku.“


'Orang begini katanya mau menjadikanku ratu setelah dia menjadi raja? Otakku pasti kemasukan air kalau sampai percaya pada omongannya,' batin Ailing sembari tersenyum kaku.


Setelah berbicara beberapa hal akhirnya Ailing pun meninggalkan tempat tersebut.


**


Satu jam kemudian di tempat Pangeran Song. Saat ini Pangeran Song tengah duduk di gazebo yang ada di tengah taman sembari membuka buku yang sempat ia tunjukkan pada Ailing saat makan malam kemarin.


“Sepertinya dia sangat memahami buku ini” gumam Pangeran Han sembari membuka beberapa lembar buku tersebut. “Tapi dari mana dia bisa tahu? Padahal buku ini adalah buku langka yang di dapat dari luar, jarang sekali orang bisa mempelajari buku ini.“


Ia mengingat bagaimana Ailing dengan mudah menerangkan tentang cara membuat tabel dan diagram grafik untuk mempermudah pembukuan.


Kemudian ….


“Tuan,” panggil Jongki yang tiba-tiba muncul di tempat itu.


Lamunan Pangeran Song pun buyar. “Ada apa?“ tanyanya sembari membalik halaman buku tersebut.


“Nyonya keluar dan pergi ke sebuah jembatan untuk bertemu dengan Pangeran Han,” beber Jongki.


“Lalu?“ tanya Pangeran Song dengan tenang.


“Pangeran Han sempat berlutut memohon pada Nyonya,” jawab Jongki.


“Apa ada sesuatu yang penting?“ tanya Pangeran Song sembari mengusap lembut halaman yang saat ini dilihatnya. “Apa kamu di sana hanya untuk bermain-main?“


“Maafkan saya Tuan, saya hanya mendengar kalau Pangeran Han ingin memperbaiki hubungan mereka dan rencana semula mereka. Tapi saya tidak tahu pasti apa jawaban Nyonya karena Nyonya hampir menemukan saya,” beber Jongki.

__ADS_1


Lalu Pangeran Song pun menutup buku tersebut dan mendongakkan wajahnya menatap Jongki. “Lalu di mana dia sekarang?“


“Nyonya dan pelayan tersebut sudah sampai di kediaman dengan selamat.“


Helaan napas pun muncul dari Pangeran Song. “Baiklah, kamu bisa pergi.“


“Baik Tuan,” jawab Jongki yang kemudian dengan cepat meninggalkan tempat itu.


“Dasar wanita keras kepala,” seloroh Pangeran Song sembari berdiri dari tempatnya duduk.


Setelah itu Pangeran Song pun melangkah meninggalkan tempat tersebut sembari membawa buku yang dipelajarinya tadi.


Beberapa menit berlalu, saat ini ia yang sudah sampai di depan kamar Ailing pun masuk begitu saja melewati pintu kayu tersebut. Ia menatap ke segala arah dan tak melihat siapa pun di sana.


“Di mana dia?“ gumam Pangeran Song sembari melangkah pelan ke meja dan bangku yang ada di sana.


Sesaat kemudian terdengar suara tawa lepas Ailing dari ruangah lain. Pangeran Song yang penasaran pun langsung melangkah ke ruangan lain yang dibatasi dengan sekat bambu bermotif cantik tersebut.


'Apa dia benar-benar sangat gembira karena bisa bertemu Pangeran Han?' batin Pangeran Song sambil menatap Ailing yang saat ini sedang duduk di bak mandi dengan posisi membelakanginya.


“Ada apa, kenapa kamu diam saja?“ tanya Ailing yang masih menyisakan bekas tawanya tadi.


“Tidak apa-apa Nyonya,” jawab Xin Ya dengan senyum yang dipaksakan.


“Ya sudah, kamu dengarkan lagi saja ceritaku,” ucap Ailing sembari menyenderkan kepalanya di pinggiran bak. “Kamu tahu, si Pangeran Han tadi berlutut dan memintaku untuk kembali bersamanya. Aku rasa aku sangat bodoh saat dulu bisa menyukainya, itu menjijikkan.


Untung saja ingatanku hilang, jika tidak, mungkin aku masih akan terjebak dengan perangkap orang sok ganteng seperti dia.“


Xin Ya menyahut, “Nyonya, tidak baik menghina anggota keluarga kerajaan seperti itu.“


'Ah, harusnya Nyonya bisa membaca tandaku,' batin Xin Ya sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di mangkok wewangian yang dibawanya.


“Iya juga sih, tapi di sinikan hanya ada kita berdua. Kecuali kamu yang membocorkannya, maka tidak akan ada yang mendengarnya,” sahut Ailing yang tak membaca tanda dari Xin Ya.


“Ampun Nyonya, tidak berani,” ujar Xin Ya langsung.


Kemudian Ailing pun terkekeh melihat reaksi Xin Ya yang langsung panik itu. “Tenanglah, aku hanya menggoda kamu.“

__ADS_1


Kemudian Xin Ya pun melirik ke arah Pangeran Song yang saat ini memberi tanda padanya agar pergi. 'Bagaimana ini?' batinnya bimbang.


“Kamu kenapa sih?“ Ailing melirik ke arah Xin Ya. “Tolong pihat leherku, besok pagi akan aku masakkan nasi goreng spesial untuk kamu,” pintanya.


Pada akhirnya Xin Ya sudah tak bisa berkutik, ia pun melangkah ke belakang Ailing dan kemudian pergi. Sedangkan yang saat ini memijat leher Ailing adalah Pangeran Song.


“Xin Ya, aku berencana memanfaatkan Pangeran Han itu untuk keluar dari sini, bagaimana menurutmu? Ya, tentunya setelah sukses nanti,” ucap Ailing sembari memejamkan mata menikmati pijatan di pundak dan lehernya.


'Jadi dia berencana untuk pergi dari sini,' batin Pangeran Song sembari terus memijat.


“Dan juga, aku tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi suami menjengkelkan itu saat nanti aku menceraikannya.“ Ailing menepuk-nepuk tengkuknya. “Buat apa juga punya suami yang tidak bisa melakukan kewajibannya, rugi aku.


Sudah tidak mungkin ke ranjang, tidak memberi uang lagi, dia itu hanya menang ganteng doang. Memangnya aku bisa kenyang makan mukanya,” celotehnya.


'Kenapa Xin Ya hanya diam saja? Pasti ada yang salah,' batin Ailing yang kemudian menoleh dan langsung terperanjat ketika melihat yang sebenarnya.


Ailing pun segera bergeser untuk mencoba menjauhi Pangeran Song yang saat ini sedang berdiri dan tersenyum kecil menatapnya. “Kenapa kamu bisa di sini?“ sungutnya.


“Ini rumahku, aku berhak ada di mana pun yang aku mau,” jawab Pangeran Song dengan tenang sembari kembali berjongkok.


Sedangkan Ailing yang saat ini masih ada di dalam bak pun langsung membulatkan matanya. “Apa mau kamu?“


“Bagaimana jika aku menjawab kalau aku tidak ingin menjadi suami yang tidak berguna, apa pendapatmu?“


Gigi Ailing gemretak. 'Benar saja, dia tadi mendengar ucapanku,' batinnya yang langsung melirik ke arah pakaian yang di gantung tak jauh dari tempatnya.


Namun ketika akan menariknya, tiba-tiba saja Pangeran Song mengambil lebih dulu pakaian tersebut dan dengan santai merobeknya di hadapan Ailing.


“Kurang ajar!“ teriak Ailing.


“Kita belum tahu pasti siapa yang kurang ajar di sini,” sahut Tuan Song sembari mengangkat Ailing dari dalam bak kayu tersebut.


“Lepaskan! Lepaskan!“ teriak Ailing sembari mencoba memberontak, tetapi tentu saja kalah dari tenaga Pangeran Song.


“Bukankah kamu bilang aku ini tidak berguna?“ bisik Pangeran Song.


“Tidak!“

__ADS_1


__ADS_2