Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Tebakan Xin Ya


__ADS_3

Ketika ailing berbalik dan ingin kabur dengan cepat tangan Pangeran Song memegangi kerah belakang pakaiannya, hingga membuat ailing tertarik dan tak bisa kabur.


“Hei tolong aku!“ seru Ailing sembari menatap ke arah pelayan yang saat ini sedang tertunduk dan hanya melirik ke arah dirinya.


Sedangkan Pangeran Song saat ini beralih menatap ke arah pelayan kediamannya tersebut. “Apa kamu tidak punya pekerjaan?“ tanyanya dengan penuh tekanan.


Pelayan tersebut pun tersentak ia dengan cepat mengangkat kepalanya. “A-a-ada Pangeran, ada,” jawabnya tergagap dan kemudian kabur dari tempat itu.


“Hei!“ teriak Ailing ketika melihat pelayan itu berlari dengan cepat meninggalkan area tersebut.


“Sialan kok malah kabur,” geram Ailing.


“Lepaskan aku! Kamu itu suami brengsek! Menyebalkan!“ rutuknya.


Tanpa menyahut, Pangeran Song dengan kuat menarik pakaian Ailing hingga membuat Ailing berjalan mundur mengikuti Pangeran Song agar dirinya tidak terjungkal ke belakang.


Kalimat-kalimat pedas terus keluar dari bibir Ailing selama ia berjalan mundur hingga akhirnya ia dan Pangeran Song sampai kembali ke dalam taman purnama.


“Lepas!“ teriak Ailing sekali lagi ketika sampai di tengah taman.


“Teriak saja sampai tidak bisa bicara lagi, aku masih sanggup mendengarnya,” sahut Pangeran Song pada akhirnya.


“Ishh,” desis Ailing kesal.


Hingga akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya. Dengan cepat ia melemaskan kakinya dan membuatnya terduduk di tanah.

__ADS_1


“Kenapa, apa tiba-tiba kakimu lumpuh?“ sinis Pangeran Song sembari berbalik dan membungkukkan tubuhnya.


“Eh, mau ngapain kamu?“ tanya Ailing ketika wajah Pangeran Song semakin mendekati wajahnya.


Sesaat kemudian sebuah senyum pun muncul di bibir suaminya itu.


“Dia mau apa?“ batin Ailing sembari menundukkan wajahnya dan hanya melirik untuk melihat Pangeran Song.


Glek! Ailing menelan ludahnya ketika wajah Pangeran Song semakin dekat. Jantungnya berdegup kencang kala itu. “Apa? Apa yang mau dia lakukan?“ batinnya.


Hingga ….


“Apa yang kamu pikirkan?“ bisik Pangeran Song.


Mendengar hal itu Ailing pun langsung membuka matanya dan menatap sinis laki-laki di depannya itu.


“Bodo!“ ketus Ailing.


Dan tanpa mengatakan apa pun lagi langsung saja Pangeran Song menggendong tubuh Ailing.


“Mau apa kamu” tanya Ailing sambil meronta.


“Ayo kita lanjutkan yang tadi,” jawab Pangeran Song dengan santai.


Mata Ailing langsung membola mendengar jawaban Pangeran Song. “Mesum! Pangeran mesum!“ teriaknya.

__ADS_1


**


Keesokan harinya.


Saat ini Ailing tengah duduk di depan meja riasnya. Beberapa saat kemudian terlihat Xin Ya yang baru saja sampai di kamar itu sembari membawa sebuah baskom berisikan air hangat untuk Ailing mencuci muka.


“Nyonya, apa yang terjadi?“ tanya Xin Ya yang terkejut melihat wajah Ailing. Ya, Nyonyanya itu saat ini terlihat lesu, sangat kacau dengan pakaian yang berantakan.


“Memangnya apa yang bisa terjadi?“ sahut Ailing sembari mengerucutkan bibitnya di depan cermin


Xin Ya pun beralih menatap ke arah ranjang Ailing yang berantakan, seketika matanya berbinar seolah menyadari sesuatu. “Jadi Pangeran dan Anda sudah … ah, selamat Nyonya. Saya sangat bersyukur, ini adalah kabar baik,” ujar Xin Ya sambil meletakkan baskom yang dibawanya di meja.


Sesaat kemudian Xin Ya pun beralih ke ranjang yang berantakan itu. “Di mana Anda melakukannya, Nyonya?“


Langsung saja Ailing melirik tajam ke arah pelayan kepercayaannya itu. “Jangan bicara sembarangan,” tegurnya.


“Eh jadi anda belum begitu?" Pertanyaan frontal itu membuat Ailing langsung menghela napas panjang.


“Xin Ya hubungan seperti itu tidak akan pernah ada di antara kami. Dia menikahiku hanya karena ingin sesuatu dari keluargaku, tidak ada yang akan terjadi pada kami,” jawab Ailing.


Xin Ya pun dengan cepat melangkah kembali pada Ailing. Ia kemudian segera membantu melepaskan ikatan di rambut Ailing. “Tapi Nyonya, seharusnya Tuan itu sangat menyukai Anda, maka dari itu dia meminta anugerah permintaan pada Kaisar seperti itu. Sangat jarang sekali seorang dari keluarga kerajaan yang mau melakukan monogami,” argumenmya.


“Masa iya aku harus ngomong kalau dia itu melakukan itu hanya untuk caper saja. Hiss … jangan-jangan setelah aku ngomong begitu, dia tiba-tiba saja muncul di depan pintu lagi,” gerutu Ailing di dalam hati sambil menoleh ke arah pintu.


“Nyonya, saya tahu Anda mengatakan hal ini karena Anda sedang sedih. Saya yakin ini hanya sementara, pasti lama kelamaan Tuan juga akan menyayangi Anda. Apalagi Anda adalah satu-satunya wanita yang akan dimilikinya seumur hidup, jadi pasti saat bahagia itu akan segera datang,” ucap Xin Ya seolah memberi semangat.

__ADS_1


Aling pun menatap Xin Ya dari kaca yang ada di depan mereka. “Apa sih yang ada di pikirannya? Jangan-jangan saat aku pergi cari uang, dia juga mikir aku sedang cari muka pada Pangeran Song lagi,” gerutunya di dalam hati. Kemudian ia pun kembali memperhatikan wajah lesunya lagi.


“Hais … ini semua gara-gara laki-laki sialan itu. Semalam dia ….


__ADS_2