Permaisuri Tak Terkendali

Permaisuri Tak Terkendali
Cap Cip Cup


__ADS_3

Kini Ailing terus melangkah bersama Xuan meninggalkan ruangan tersebut. Mereka melangkahkan kakinya melewati koridor-koridor kediaman Perdana Menteri. Terlihat berbagai tanaman hias dan juga kolam-kolam kecil ada di sekitar tempat itu


Awalnya mereka terus saja diam, tak mengatakan sepatah kata pun, hingga akhirnya Xuan yang sudah tidak sabar pun langsung menghentikan langkahnya.


“Apa mau kamu?“ sergah Xuan sembari berbalik menatap Ailing.


Ailing pun langsung mengernyit mendengar ucapan adik tirinya tersebut. “Kenapa, sudah capek berpura-pura?“ ejeknya.


“Huh, Ibu sudah menyiapkan semuanya di ruang leluhur dan kamarnya. Dia seharusnya pergi ke salah satu ruangan itu, kenapa dari tadi dia terus mengikutiku,” batin Xuan yang merasa kalau hal ini tidak sesuai rencana.


“Kenapa kamu terus mengikutiku? Apa kamu takut kalau aku akan melakukan sesuatu pada kamu?“ batin Xuan sembari tersenyum meremehkan pada Ailing.


“Seharusnya dengan begini dia tidak akan terima karena diremehkan, setelah itu dia akan marah dan langsung pergi,” batin Xuan sembari bersedekap agar lebih jelas kalau dia sedang mengejek Ailing.


“Oh, tentu saja aku takut kalau kamu akan meracuniku. Bukankah memang ada kemungkinan seperti itu?“ ujar Ailing sembari menunjukkan ekspresi polosnya.


Gigi Xuan pun mengatup kuat mendengar jawaban Ailing yang sangat menjengkelkan. “Sudah, pergi saja sana jangan mengganggu pekerjaanku,” usirnya.


Kemudian Ailing pun ikut bersedekap seperti yang Xuan lakukan. “Aku juga ingin pergi, tapi aku sedang bingung mau ke mana. Apakah kamu punya ide?“


“Apakah dia ini bodoh atau kenapa? Bisa-bisanya dia malah minta pendapatku,“ Batin Xuan sembari mengernyitkan dahinya.


“Ya, itu terserah kamu. Kalau mau pergi ke ruang leluhur pergi sana, kalau mau pergi ke kamarmu juga terserah. Yang penting jangan mengikutiku, aku mau ke dapur untuk menyiapkan makanan,” ucap Xuan sembari berbalik dan kemudian melangkah meninggalkan Ailing.


“Dengan begini dia pasti pergi ke salah satu tempat itu,” batin Xuan sembari tersenyum licik.


Sementara itu, Ailing yang saat ini ditinggalkan oleh Xuan pun langsung tersenyum kecil. “Jadi di kamar atau aula leluhur ya? Aku pilih yang mana ya?” batinnya sambil menggosok-gosok dagunya.


Sesaat kemudian ia pun mengeluarkan kertas dari dalam saku lengannya.


Ia pun dengan santai membuka selembar kertas yang berisi peta kediaman Perdana Menteri tersebut. Ya, peta itu Ailing buat berdasarkan keterangan dari Xin Ya. “Cap cip cup kembang kuncup,” ucap Ailing sembari mengarahkan jari telunjuknya ke gambar yang ada di atas peta tersebut.

__ADS_1


Ia sedang memilih tempat mana yang akan dia datangi. Dan ternyata kata terakhir berhenti tepat saat jarinya menunjuk ke arah kamarnya.


“Jadi aku harus ke kamar ya,” gumam Ailing sembari melipat kembali kertas tersebut.


“Ah, sepertinya akan kurang estetik,” ucap Ailing sembari memasukkan peta tersebut ke dalam saku lengannya lagi. “Baiklah, karena kurang estetik mari kita pergi ke aula leluhur,” ucap Ailing dengan penuh semangat.


Sementara itu, dari arah lain terlihat seorang laki-laki yang sedang menatap Ailing dari kejauhan. Melihat Ailing yang melangkah ke arah aula leluhur, laki-laki tersebut pun tersenyum menyeringai.


“Ailing kita bertemu lagi,” gumamnya sembari meremas bunga mawar yang ada di tangannya.


Satu jam berlalu. Saat ini Pangeran Song yang telah selesai beramah tamah dengan kedua orang tua Ailing ia pun meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan di sekitar kediaman Perdana Menteri dengan ditemani oleh Jongki.


“Di mana dia?“ tanya Pangeran Song sembari terus melangkah.


“Nyonya pergi ke aula leluhur,” jawab Jongki dengan tenang.


“Lalu?“ tanya Pangeran Song.


“Apa dia bersenang-senang?“ tanya Pangeran Song sembari berhenti melangkah dan kemudian menatap sebuah kolam ikan yang ada di dekat koridor tersebut.


Mendengar pertanyaan tersebut Jongki pun langsung tersenyum aneh dan menggaruk pelipisnya. “Mungkin … sepertinya iya, Tuan,” jawabnya yang agak ragu karena ia tidak bisa mendefinisikan dengan tepat kata menyenangkan yang ditanyakan oleh tuannya.


“Asalkan kamu melihatnya senang itu sudah cukup,” sahut Pangeran Song sembari tersenyum kecil menatap kolam ikan tersebut.


“Sepertinya akhir-akhir ini Tuan menjadi lebih sering tersenyum, apa ini semua benar-benar karena Nyonya?“ batin Jongki yang penasaran dengan perubahan sikap Pangeran Song itu.


Sesaat kemudian datanglah seorang pelayan yang menyampaikan undangan untuk makan siang pada Pangeran Song dan tentu saja Pangeran Song langsung menyetujui hal itu.


“Tuan, apa saya perlu menjemput Nyonya sekarang? Seharusnya dia sudah selesai bersenang-senang,” tanya Jongki.


“Biarkan saja, dia pasti akan kembali Jika dia ingin kembali. Lagi pula dia sangat tahu di mana aku berada,” sahut Pangeran Song sembari melangkah ke arah ruangan yang ditunjukkan oleh pelayan.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, Pangeran Song yang baru saja melewati pintu masuk ruangan tersebut langsung saja berhenti melangkah karena Xuan tiba-tiba saja datang padanya.


“Pangeran Song tolong maafkan karena kakak pertamaku. Dia tidak bisa menemani Anda makan karena tiba-tiba ada sesuatu yang mendesaknya untuk kembali ke istana saat ini,” ujar Xuan sembari menatap Pangeran Song dengan ekspresi memelas.


Pangeran Song pun langsung menyahut, “Ya tidak masalah. Putra sulung keluarga Perdana Menteri memanglah sangat berbakat dan memiliki dedikasi tinggi untuk kerajaan ini. Dia memang sudah seharusnya datang ke sana segera setelah ada panggilan mendesak.“


“Baguslah baguslah, kalau menantu mengerti,” sahut Perdana Menteri yang merubah panggilannya.


“Oh iya, tapi di mana Ailing? Apakah dia belum kembali dari berjalan-jalan?“ pancing Nyonya Jing.


Perdana Menteri pun langsung menatap ke luar pintu ruangan itu. “Iya, seharusnya dia sudah ada di sini. Kalau begitu biar penjaga yang mencarinya,” ucapnya sembari memberi tanda pada pelayan yang berdiri di sekitar mereka.


Pelayanan tersebut pun segera menggangguk dan kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Namun baru sesaat melangkah, tiba-tiba ada pelayanan lain yang sedang berlari masuk ke dalam ruangan tersebut. Hal ini tentu saja mengundang perhatian semua orang yang ada di sana.


“Tuan Besar, Tuan Besar gawat!“ teriak pelayan tersebut yang terlihat sedang panik.


“Ada apa?“ tanya Perdana Menteri sembari menatap pelayan tersebut dengan penuh tanda tanya.


“Itu Tuan, di aula leluhur ada—”


“Aula leluhur?“ potong Xuan. “Tadi Kakak bilang akan datang ke aula leluhur, apakah ada yang terjadi sesuatu?” ucap Xuan untuk memanasi keadaan.


Langsung saja Perdana Menteri bangun dari kursinya, begitu juga dengan Pangeran Song dan yang lainnya.


“Kalau begitu mari kita datang ke sana,” ajak Perdana Menteri.“


Setelah itu semua orang yang ada di ruang makan tersebut pun segera melangkah ke sana, termasuk Pangeran Song dan Jongki yang juga ikut dalam rombongan itu.


Hingga setelah beberapa menit melangkah, akhirnya mereka pun sampai di sebuah ruangan dengan pintu besar yang tertutup.


“Ishhh, pelan sedikit, ah! Aku issh, emh .…”

__ADS_1


__ADS_2